Anak Jalanan “Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang”

10 06 2012

Penulis: Dr. Atwar Bajari
Pengantar:

Prof. H. deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad)

Dr., Drg. Nina Justiana (Ketua PSW Unpad)

Penerbit: Humaniora
Bandung Mei 2012

Dalam keunikannya, seorang anak jalanan memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi anak normal mengenai hubungan dengan orang dewasa, tanggung jawab terhadap keluarga dan saudaranya, hubungan dengan lawan jenis, uang, dan kepercayaan pada agama.
Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.
Perbedaan kondisi dan keadaan tersebut, mengakibatkan anak jalanan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan dengan anak yang hidup dalam lingkungan standar pada umumnya dalam melihat lingkungan sekitar. Misalnya mereka beranggapan bahwa lingkungan itu lebih keras, berat, dan pengaturannya sangat tergantung dari diri mereka sendiri. Jika mereka berusaha dengan keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Lingkungan merupakan salah satu konstruk budaya dalam pembentukan makna anak jalanan. Lingkungan kumuh, ketiadaan bimbingan orangtua, dan tindakan kasar, cenderung membentuk watak yang pasif, inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif, agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. Dalam kondisi demikian, tata nilai yang ditanamkan akan sulit karena oto-aktivitas, rasa percaya diri, pengandalan diri sendiri hampir punah, hingga timbul mental ”primitif” dan ”sindrom kemiskinan” .
Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui sitmulasi tindakan kekerasan yang terus menerus, akan membentuk sebuah nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Buku ini memaparkan peta kondisi anak jalanan berdasarkan teropong riset kualitatif fenomenologi. Garis besar pembahasan pada sudut pandang atau perspektif komunikasi secara mikro. Walaupun  pendekatan sosiologis turut mewarnai kajian yang dilakukan.

 

Advertisements




Studi Fenomenologi: Peran Diri dan Perilaku Komunikasi Anak Jalanan

26 06 2009

1. Aktualisasi Masalah Penelitian

Jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1998, Kementrian Sosial R.I. menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan sekitar 400%. Tahun 1999 diperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak.

Di Provinsi Jawa Barat, setiap tahun, jumlah anak jalanan terus bertambah baik untuk kota besar seperti Kota Bandung atau kota-kota lain seperti Cirebon, Indramayu, Tangerang, Bekasi, dan Garut. Tahun 2001, jumlah anak jalanan yang tersebar di Jawa Barat adalah 6267 orang, dan tahun berikutnya meningkat 8352 orang. Sedangkan Kabupaten dengan jumlah yang ekstrim yaitu Bogor 1503 orang, Cirebon 994 orang, dan Bandung 840 orang. Walaupun tahun 2003 menunjukkan sedikit penurunan menjadi 5183 orang dengan kabupaten yang terbanyak adalah Kabupaten Garut 594 orang, Majalengka 558  orang dan Kabupaten Sukabumi 511 orang.

Kabupaten dan Kota Cirebon, memiliki penyandang masalah sosial yang cukup tinggi. Data 2006 menunjukkan populasi penyandang masalah sosial anak mencakup; anak terlantar 490 orang, anak nakal 820 orang, anak terlantar 2568 orang dan anak nakal sendiri sebanyak 983 orang. Dari jumlah penyandang, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon memiliki jumlah anak jalanan yang tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap fenomena anak jalanan. Faktor makro yang memunculkan masalah tersebut yaitu; pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, partisipasi sekolah pada anak usia sekolah yang memunculkan drop-out, pembangunan kawasan dan perkotaan yang belum merata, dan masalah kultur. Sedangkan masalah mikro di dalamnya tercakup; ajakan teman, desakan orang tua untuk mencari nafkah, rumah tangga yang tidak harmonis, anak dengan orang tua single parent,  dan ketidakpuasan terhadap sekolah atau guru.

Munculnya masalah anak jalanan di Kota dan Kabupaten Cirebon, dari sisi makro tidak bisa dihindari. Pertumbuhan kota di kedua wilayah tersebut, merupakan pendorong anak-anak untuk mencari nafkah dengan mengemis, mengamen, atau “memalak” di jalanan. Di samping itu, areal wisata relijius sebagai salah satu sektor andalan kepariwisataan di Cirebon, seperti Makam Sunan Gunung Jati dan Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi lokasi anak jalanan mengais rejeki dengan cara meminta sedekah kepada para pengunjung.

Jika ditelusuri, perbedaan lokasi anak jalanan menunjukkan adanya perbedaan dalam pola anak mengais rejeki. Anak jalanan di perkotaan Cirebon, mendapatkan uang dengan cara mengamen atau ojek payung, dan parkiran. Sedangkan di lokasi wisata, anak-anak mencari uang dengan cara mengemis, meminta dan mengejar para peziarah.

Keadaan ini tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang mendorong anak untuk turun mencari rejeki. Lingkungan mereka secara dominan memberikan pembelajaran tentang cara anak-anak mendapatkan uang. Di tempat ziarah, mengemis, meminta sumbangan merupakan hal yang lumrah, sehingga anak-anak meniru tindakan tersebut. Sedangkan, di kota Cirebon jarang ditemukan anak-anak jalanan mencari uang dengan cara seperti itu. Mereka lebih suka mengamen atau mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang.

Terlepas dari adanya perbedaan perilaku dalam mendapatkan uang, riset terhadap anak jalanan menggambarkan bahwa, persepsi tentang mereka berkaitan dengan stigma kekerasan, kriminalitas dan gangguan sosial. Anak jalanan, di samping menimbulkan masalah sosial, seperti keamanan, ketertiban lalulintas, dan kenyamanan, juga memunculkan tindakan kriminal terhadap anak jalanan itu sendiri. Mereka menjadi komunitas yang rentan terhadap kekerasan dan pelecehan orang dewasa, penggarukan petugas ketertiban kota, berkembangnya penyakit,  dan konsumsi minuman keras serta zat adiktif atau narkoba.

Anak jalanan didefinisikan sebagai individu yang memiliki batas usia sampai 18 tahun, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, baik untuk bermain maupun untuk mencari nafkah.  Realitas pengalaman yang dihadapi tersebut, akan membangun skema kognitif yang unik dari anak jalanan tentang lingkungan dengan perilakunya. Realitas yang dimaksud adalah bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dari lingkungan dan bagaimana peran yang harus dipilih (role taking) ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan.

Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.

Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka.  Melalui sitmulasi tindakan kekerasan terus menerus, terbentuk sebuah  nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Di samping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. Komunikasi intrabudaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan oleh mereka. Aspek-aspek tersebut tampak manakala berkomunikasi dengan sesaman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang  sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang ”liar”, memiliki perilaku dan gaya komunikasi yang berbeda.

2. Disain Studi Fenomenologi

Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Kualitatif dengan tradisi Fenomenologi. Subyek penelitian adalah anak jalanan pengamen di Kota Cirebon dan anak jalanan pengemis di Lingkungan Wisata Makam Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi partisipatif.

3. Hasil Penelitian: Peran Diri Anak Jalanan dan Perilaku Komunikasi

Anak jalanan memaknai peran diri dalam keluarga dan masyarakat, sebagai inidividu yang mandiri (tanggung jawab pada diri dan keluarga), otonom (berusaha melepasakan ketergantungan),  dan individu yang berusaha memiliki relasi sosial dalam konteks di jalanan. Konstruksi makna peran diri itu sendiri dibangun secara kreatif dan dinamis di dalam  interaksi sosial anak dengan orang-orang dalam lingkungan jalanan.

Pada anak pengemis, mereka telah memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang memenuhi kebutuhan sendiri dan mengurangi beban orang tua, diri yang belajar memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang disuruh dan didukung mengemis. Sedangkan anak pengamen memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, diri yang melepaskan ketergantungan pada orang tua, diri yang memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang mencari hubungan sosial di jalanan

Selanjutnya, hasil interaksi sosial anak-anak dengan orang-orang dalam lingkungannya membentuk  konstruksi makna secara subyektif dan obyektif tentang orang dewasa, aturan dan prinsip-prinsip yang berkembang dalam konteks jalanan. Anak-anak pengemis menganggap orang dewasa di luar sebagai pengatur karena memiliki otoritas,  dicurigai karena memiliki kepentingan, setara (sesama pengemis) sehingga mengedepankan persaingan, di samping pula berkembang anggapan sukarela (kepada peziarah) dan berusaha respek terhadap senior. Anak-anak pengemis juga menganggap bahwa aturan mengemis adalah sesuatu yang harus ada dan tidak perlu dipertanyakan (reserve) walaupun sebagai subordinat mereka mencurigai bahwa aturan yang dibuat dipenuhi muatan kepentingan orang dewasa.

Pemaknaan anak pengamen berbeda dengan anak pengemis. Anak pengamen memaknai orang dewasa sebagai tipikal dominan negatif, agresif dan menyerang, senantiasa menggunakan paksaan dan kekerasan dan perlu dilawan jika posisi menguntungkan (konflik). Dilain pihak juga telah berkembang pemaknaan dengan pola-pola spesifik; dominan positif dan skeptis terhadap lawan jenis, solidaritas sesama pengamen dan menghargai wibawa pengamen senior.

Aturan, menurut anak pengamen adalah sebuah konsensus yang berusaha dipatuhi. Penghasilan dianggap memiliki nilai publik (berbagi) dan terbuka, mementingkan kelompok,  menghormati senioritas, dan menghargai atau toleran terhadap zona proksemik jalanan.

Disamping itu, mereka memilikia prinsip; menghindari perbuatan jahat, rasionalisasi terhadap kebiasaan konsumsi minuman keras/obat  dan merokok dimaknai sebagai media interaksi sosial dengan motif ekonomi dan sosial.

Perilaku komunikasi interpersonal pada anak jalanan berlangsung secara dominan dengan orang-orang disekitar jalanan. Perilaku komunikasi interpersonal sendiri berlangsung dalam situasi; memaksa, otoritatif, konflik, mengganggu (teasing), membiarkan (bebas),  sukarela, dan rayuan. Komunikasi interpersonal melalui pesan verbal dan nonverbal, secara spesifik disesuaikan dengan kepentingan dalam menjalankan aktivitas di jalanan. Pesan verbal mayoritas  berupa istilah/kata; yang berhubungan dengan kekerasan/konflik, panggilan khas (sebutan) kepada orang atau konteks jalanan, aktivitas jalanan dan pekerjaan. Pesan nonverbal yang disampaikan berbentuk: gestural, intonasi suara, mimik muka (facial), artifaktual, isyarat bunyi, pakaian (fashion), panataan pakaian/asesoris (grooming) dan penampilan (manner).

Diangkat dari Disertasi Program Ilmu Komunikasi, 2009





Surat Pendek dari “Krucil”

26 06 2009

Salute buat Soegeng Sarjadi (eh salah, itumah ketua SSS ya Soegeng Sarjadi Syndicate) Soegeng Sarif, karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya (sama dunkz kaya saya… 😛 ) dan selamat, karena sudah bisa menyelesaikan sekolahnya. “Cepat langkah waktu pagi menunggu, si budi sibuk siapkan buku. Tugas dari sekolah selesai setengah, sanggupkah si budi diam di dua sisi…” By: Iwan Fals Cerita sugeng hampir sama dengan lirik lagu Iwan Fals. Tapi saya kurang setuju ketika dia menghindari gurunya. Padahal itu momen yang sangat bagus untuk membuktikan, bahwa dia adalah anak yang mandiri, yang benar-benar menjalankan apa yang dia pelajari dari pelajaran PPKN.

Untuk Yuda, sebenarnya saya sepakat dengan keinginanya mencari teman. Tapi tahukan dia? Bahwa dengan caranya, dia sudah mengikis sedikit rezeki anak jalanan yang notabenya tidak mempunyai uang kecuali turun kejalan. Padahal dia bisa melakukan hal yang bersifat social, tapi tidak mengurangi keinginannya mencari teman di jalanan, bahkan membantu teman-temannya. Pengalaman saya bersama KRUCIL, kami mempunyai teman yang notabenya bukan “orang susah”. Dia hanya ingin tahu saja kehidupan dijalan dengan ikut ngamen bareng KRUCIL. Dan ada satu perbedaan antara dia dengan KRUCIL yang bisa dibilang Anak Jalanan “Murni”. Teman KRUCIL ini mencari uang bukan buat makan, tetapi untuk memenuhi keinginannya membeli barang yang disuka, entah itu narkoba, ataupun barang2 lainnya. Alasannya sama seperti Yudi, bila Ia minta sama orang tuanya, dia tidak akan dikasih. Karena orang tuanya mengetahui, bahwa Ia akan menggunakan uang itu bukan untuk hal2 yang menguntungkan, tapi cuma kenikmatan sesaat.

Buat bang Atwar, thanks dah ngasih ilmu baru. Saya jadi lebih tau akan kehidupan anak jalanan di luar lingkungan jalanan saya. Semoga ilmu ini bermanfaat buat saya dan orang lain, serta pesan-pesannya bisa menyadarkan orang yang selalu memandang sebelah mata kehidupan di jalanan.

Salam “keras” dari KRUCIL… barnas_krucil@yahoo.co.id KRUCIL





Mereka Mengumpulkan Uang untuk Biaya Sekolah

12 11 2008

Obrolan dengan Anak-anak Pengamen Kota Cirebon

Bermain peran adalah bagian dari kehidupan sosial individu dalam masyarakat. Seperti yang dituliskan oleh Erving Goffman tentang Dramaturgis, setiap individu selalu manata atau memanage front stage dan back stage mereka. Maner yang ditampilkan senantiasa ada kesenjangan antara maner di ruang publik dan ruang-ruang privat mereka. Tentu dari hal itu yang diharapkan adalah sosialisasi yang dikembangkan individu bisa berhasil dan diterima orang lain. Semua individu melakukan itu, masing-masing memiliki gaya dalam menata maner mereka.

Demikian halnya dengan anak-anak pengamen, ternyata di balik kelusuhan, kebersahajaan, dan ethos yang dibangun di jalan mereka membawa peran yang lain yang harus mereka mainkan. Kesibukan mereka turun ke jalan dan menjadi anak jalanan dengan gaya dan tata kelola peran sebagai anak jalanan, mereka memainkan peran yang lain. Manakala masuk lingkungan sekolah mereka adalah pelajar dan sekaligus bertaggung jawab dengan seluruh kewajiban termasuk biaya sekolah. Bisa ditangkap maknanya, mereka turun mengamen dan uangnya untuk sekolah.

Ketika mengobrol dengan anak-anak dengan peran demikian, ternyata mereka memiliki pendapat bahwa mereka turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Motif dasarnya adalah mengumpulkan uang dalam rangka bertanggung jawab untuk menutupi sebagian kebutuhan keuangan sekolah mereka. Bagi mereka menjadi anak jalanan tidak harus terlepas dari sekolah, walaupun mereka menjalaninya dengan keadaan yang cukup sulit, seperti masalah waktusekolah yang berbenturan dengan jam belajar, bertemu dengan guru, dan diledek teman sekolah.

Anak-anak Pengamen Kota CirebonSugeng Sarif yang biasa dipanggil Gepeng, merupakan salah satu anak yang termasuk pengamen dan pelajar. Sugeng tercata sebagai siswa kelas 10 SMAN 7 Kota Cirebon pada saat obrolan dilakukan. Sugeng berpendapat bahwa ekonomi keluarga menjadi alasan utama untuk membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk sekolah. Di bandingkan dengan pengemen lain, Sugeng tampak lebih terpelajar, bahkan mampu menyelesaikan sekolah pada saat pertemuan terakhir dengan dirinya. Menurut Sugeng, dirinya mengamen: “Karena kehidupan ekonomi Pak, ya tidak mencukupi Pa. Orang tua mah ngak kerja, jualan Pa. Ibu, ibu rumah tangga, kalau Bapak Jualan di Lemah Wungkuk. Jualannya beli barang bekas, ya alat-alat sepeda.”

Sugeng menyebutkan, dengan mengamen dirinya menutupi kebutuhan sekolah yang tidak cukup dipenuhi oleh orang tuanya. Keberadaan di jalan tidak semata-mata bermain tetapi berusaha memecahkan kebutuhan ongkos sekolah yang tidak memadai. Seperti dikatakannya; “Sering ngamen ya kehidupan ekonomi, kalau sekolah paling sangunya lima ribu, itu uang dari mana…ya dari hasil ngamen. Saya ngamen Cuma buat sangu sekolah, makan, itu aja.”

Walaupun di samping itu juga dia memiliki alasan tambahan tatkala turun ke jalan. “Bisa tempat cari uang Pa, di jalan tuh bisa apa aja. Bisa cari uang, terus nambah pengetahuan daerah-daerah, ya pengetahuan daerah. Lingkungan…. senengnya berpindah-pindah tempat, kampung ini, kampung ini.”

Sugeng termasuk anak yang teliti dan pandai memanfaatkan penghasilan, hal itu disampaikan oleh teman-temannya. Misalnya, dari hasil mengamen selain mampu menambah uang sangu sekolah juga dirinya mampu membeli perlengkapan komunikasi seperti telepon mobile atau handphone. Dimana hal itu tidak dapat dilakukan oleh sebagain besar teman-teman ngamen lainnya.

Walaupun demikian seringkali aktivitas mengamen yang dijalankan bertubrukan dengan peran diri sebagai murid sekolah. Seperti diketahui sebagai anak sekolah Sugeng harus rajin berangkat sekolah tiap hari dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah itu. Akibatnya, karena desakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, meninggalkan sekolah adalah lebih baik dari pada tidak mendapatkan uang. Hal lain yang dia rasakan dalam benturan antara sekolah dengan aktivitas jalanan adalah bertemu dengan guru sekolah pada saat dia mengamen. Sugeng lebih suka menghindar dan teman-temanya yang mengutip uang.

“Ya malu aja ketemu temen sekolah, kalo temen sendirimah engak, malu ama temen sekolah aja. Kalo ketemu guru dan temen sekolah itu ada rasa malu aja. Kadang lagi masuk ke pecel, lihat guru, gurunya lagi makan, langsung lari. Tapi kalo lagi ngamen diminta aja, jaluk duitnya aja, tapi temen yang minta, sayanya ngumpet. Buat ngak keliatan ngamennya pake switer, nutup muka.”

Memainkan peran berbagi antara sebagai anak sekolah dan anak-anak jalanan adalah hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh Sugeng, juga dilakukan oleh Kipli. Walaupun dalam hal hasil mengamen, Kipli lebih senang menyerahkannya kepada orang tua. Dalam pikiran anak tersebut uang itu ditabung pada ibunya dan digunakan bagi kepentingan dirinya seperti biaya untuk membeli pakaian atau baju. Jerih payah hasil mayung pejalan kaki waktu hujan adalah pekerjaan rutin pada saat musim hujan. Sedangkan pada hari-hari biasa ia bekerja mengamen ala kadarnya, karena kemampuan mengamennya terbatas. Kipli hanya mampu memainkan dua sampai tiga lagu saja. “Nyari uang…mayungin kalo ujan, kalo ngak ujan ya ngamen pake gitar, lagunya Ungu Sesungguhnya manusia di Jalan jamblang deket parkiran.

Kipli (12) yang sehari-harinya nongkrong di Grage Mall Cirebon, tidak sepenuhnya menghabiskan waktu di jalanan. Hanya kurang empat jam sehari turun ke jalan. Namun pada hari-hari tertentu seperti libur dan Minggu waktunya habis digunakan di jalan dan nongkrong di Grage Mall. Ngamen, ojek payung, dan jualan kantong kresek dia lakukan untuk mendapatkan uang sekolah yang ditabung orang tuanya. Walaupun sanggahnya dia tidak membayar biaya sekolah karena iuran sekolah untak anak Sekolah Dasar sudah dibebaskan melalui dana BOS yang berlaku untuk pendidikan dasar. Dalam hal ini Kipli menyebutkan bahwa: “Duitnya dikasih semua sama Ibu, buat di tabung lebaran, karena sekolah ngak bayar

Anak jalanan ketiga yang memiliki status sebagai pelajar dan turun ke jalan adalah Yuda. Yang biasa dipanggil Narji oleh teman-temannya. Yuda masih sekolah kelas tiga di SMA Gracika Kota Cirebon. Pengamen yang sekolah, tetapi tidak berarti mengamen untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Bagi Yuda kebutuhan dasar sebagai anak dan kebutuhan lainnya sudah terpenuhi, bahkan orang tuanya memberinya sebuah sepeda motor. Namun demikian dia turun menjadi anak jalanan dengan motif yang berbeda dan unik dari teman-teman lainnya. Bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar tetapi untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan menambah koalisi pertemanan dengan anak-anak. Bahkan mungkin dirinya lebih banyak karena terbawa kebiasaan anak-anak di sekitarnya. Dalam hal ini Yuda adalah kasus anak yang potensial menjadi anak jalanan penuh karena terbiasa berkelompok dengan anak-anak jalanan. Saat obrolan berlangsung, waktu yang Dia habiskan di jalan pada saat pulang sekolah sore hari dan malam hari, serta sehari penuh pada saat libur hari minggu.

Niat mengamen ke jalan hanya sekedar belajar mencari uang untuk makan sendiri. Misalnya, Yuda mengatakan bahwa ngamen di jalan sekedar iseng-iseng atau itung-itung. Itung-itung dalam bahasa daerah Cirebon artinya sekedar melakukan. Lengkapnya dia mengatakan, “Itung-itung nyari uang aja buat makan sehari-hari. Padahal orang tuanya tidak mengharapkan turun ke jalan, bahkan mereka melarang keras anaknya turun mengamen. Mengapa demikian? Orang tuanya mampu memenuhi kebutuhan seahari-hari termasuk uang sekolah dan kebutuhan lainnya, menurut pengakuan Yuda.

Kapan anak jalanan seperti ini mengamen? Menurutnya mengamen saat dia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, seperti keinginan membeli sepotong pakean kemudian meminjam kepada teman pengamen. Pembayaran dilakukan setelah dia mendapatkan uang dari hasil mengamen, karena meminta kepada orang tua tidak dipenuhi.

Iseng-iseng mungkin lah bisa, tapi kalo Yuda tuh pa, kalo ngamen tuh ada perlunya aja, misalny kalo Yuda punya utang ke temen, jadi harus ngamen, soalne apa? Pikirane kalo Yuda minta ke orang tua ngak bakalan di kasih Pa.

Simak pula potongan wawancara dengan ketika ditelusuri lebih jauh tentang kebiasaan meminjam uang kepada pengamen yang lain:

Penulis

:

Kamu kan secara keuangan ngak punya masalah, ngak kayak temen kamu. Kenapa kamu turun ke jalan?

Anak Jalanan

:

Tapi sewaktu Yuda lagi ada utang ama temen tuh, pas udah kepaksa Pa

Penulis

:

Utang untuk apa kamu?

Anak Jalanan

:

Yuda pengen baju pisan. Ngak milie duit sih Ngak, buat beli baju. Milie duit pisan dikit, Isun misale ngamen dikit, kuwen gampang tak genti’i, dine kiyen. Minjem ke Nengak, sedine jumlahnya…Ngak bayarnya kikis sini ngamen dikit. Ngamen dapet bayarin ke Ngak..gitu.

Memainkan peran sebagai anak sekolah dan sekaligus anak jalanan bagi Yuda, bukan semata-mata peran diri yang memenuhi kebutuhan pribadi sebagai anak sekolah. Tetapi sekaligus peran ganda yang memainkan peran anak jalanan dengan kehidupa yang berbeda dengan anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang normal. Buktinya, Yuda biasa mengkonsumsi minuman keras dan obat yang dipakai di kalangan anak jalanan. Walupun dalam hal mengamen dia mengaku tidak pernah melakukan tindakan kriminal.

Seneng sih di jalan. Tapi apa gitu..ngak terlalu mencolok gitu..ngak kebawa-bawa yang negatif. Ngak pernah. Maksudnya cara-cara ngamen di jalan tuh ngak sering nyolong inilah, nyolong itulah. Ngak ke bawa-bawa kriminal gitulah.[1]

Sedangkan yang dimaksudkan senang berada di jalan, berkaitan dengan kehadiran teman bagi dirinya. Di mana kondisi tersebut tidak ia dapatkan dalam lingkungan di sekitar rumahnya.

Ya ngumpul sama temen-temen gitu, di jalan tuh lebih enak gitu, ketibang di dalam kempung tuh, lebih enak di jalan…..Maen gitar, bareng-bareng…kayak ngamen gitu aja.

Begitulah mereka bermain peran, sebagai pengamen dengan berbagai resiko interaksi jalanan dan sebagai pelajar yang harus berperan selayaknya pelajar. Begitu kompleks peran mereka, antara tuntutan peran pengamen sebagai kelompok devian dari anak-anak dan peran ideal sebagai pelajar. Tetapi mengapa mereka bisa memainkannya, bahkan beberapa di antara anak-anak itu sekarang sudah lulus pendidikan menengah dan berusaha mencari kerja dengan cara yang lain.

Mereka “mematahkan” mitos bahwa lingkungan yang kurang kondusif membentuk individu dengan tanggung jawab yang rendah. Mudah-mudahan tidak, setidaknya mereka masih memikirkan bangku sekolah, walaupun tidak mendekati peran ideal sebagai pelajar yang baik. Tetapi dengan pilihan yang sulit mereka memilih yang terbaik….hidup selalu ada pilihan yang terbaik di antara gangguan dan godaan pilihan tidak baik.”






Perilaku Komunikasi dan Pembentukan Makna

17 06 2008

Perilaku Komunikasi dan Simbol-simbol Anak Jalanan

Komunikasi menurut Porter dan Samovar dalam Mulyana (1990: 19) tidak terjadi dalam “ruang hampa” sosial, tetapi komunikasi itu sendiri hidup karena berinteraksi dengan sistem sosial. Bahkan sebaliknya, komunikasi juga berkontribusi terhadap kehidupan sosial. Selanjutnya, Ehrenhaus dalam makalahnya tentang “Culture and Atribution Process” yang disunting oleh Gudykunst (1983: 259) menyatakan bahwa, “Communications sustain all human relationship. It is necessary but insufficient for organizing social life. That organization is further contingent upon the significance interactants attribute to the messages through which their relationship are constituted.”

Komunikasi bergerak melibatkan unsur lingkungan sebagai wahana yang “mencipta” proses komunikasi itu berlangsung. Porter dan Samovar dalam Mulyana (1990: 19), mengatakan alih-alih komunikasi merupakan matriks tindakan-tindakan sosial yang rumit dan saling berinteraksi, serta terjadi dalam suatu lingkungan sosial yang kompleks. Lingkungan sosial ini merefleksikan bagaimana orang hidup, dan berinteraksi dengan orang lain. Lingkungan sosial ini adalah budaya, dan bila kita ingin benar-benar memahami komunikasi, maka kita harus memahami budaya.

Memahami posisi budaya dalam proses komunikasi seseorang menjadi sangat penting. Komunikasi dan budaya saling mempengaruhi satu sama lain secara timbal balik. Manakala seseorang berbicara kepada orang lain, di dalamnya akan melibatkan proses pelaku untuk menetapakan siapa berbicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana. Bahkan lebih jauh, membicarakan budaya dalam proses komunikasi, akan menentukan bagaimana seseorang menyandi pesan, membentuk makna terhadap pesan, keadaan untuk menyampaikan, dan menafsirkan pesan. Hal ini menurut Mulyana (1990: 20) akan memiliki konsekuensi, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi.

Budaya dalam proses komunikasi erat kaitannya dengan makna yang disusun oleh pelaku komunikasi. Misalnya, seorang petani panili di pantai timur Mexico sulit memahami turis Amerika yang mengenakan kemeja sport menyolok, menyandang tas kamera yang besar, membeli banyak perhiasan murahan dan berbicara keras. “Mengapa mereka begitu ganjil?” (Horton and Hunt, 1984: 58).

Demikian pula, sebagian anak jalanan menggigil demam, dan yang lainnya berteriak-teriak di malam hari, ketika mereka menginap di sebuah hotel berbintang tiga dalam sebuah kegiatan pelatihan. Manakala di tegur oleh panitia, mereka berkata “Saya tidak biasa tidur jam sembilan malam, bisa tidur kalau sudah bernyanyi dan berteriak sampai menjelang pagi hari” Peristiwa ini merupakan pengalaman menarik ketika memberikan pelatihan bagi anak jalanan di Kuningan tahun 2001.

Dua contoh kasus tersebut merupakan bukti bahwa perbedaan kerangka budaya peserta komunikasi, menimbulkan perbedaan dalam menyusun kerangka persepsi. Akibatnya akan menghasilkan makna yang berbeda pula di antara mereka. Kesimpulannya, sebuah kejadian dan perilaku yang tampak, akan memiliki makna yang berbeda jika sebuah masyarakat itu heterogen.

Sir Edward Tylor dalam Horton and Hunt (1984: 58) menyebutkan bahwa kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Pendapat Tylor tersebut jika disederhanakan maksudnya, kebudayaan adalah sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat. Oleh karena itu, seorang anak mengetahui cara makan, minum, berpakaian, tatakrama dalam pergaulan, sampai tata langkah sebuah acara religius, dilakukan melalui interaksi dengan anggota masyarakat di dalam sebuah lingkup kebudayaan tertentu.

Di dalam sebuah kultur, terdapat sub-subkultur yang berkembang secara unik dan dinamis. Unik dalam pengertian dapat dibedakan dari kultur besar yang melingkupinya, dan dinamis maksudnya berinteraksi dan saling mempengaruhi secara timbal balik di antara keduanya. Oleh karena itu, dalam sebuah budaya yang lebih besar, di dalam diri individu itu sendiri berkembang pengaruh-pengaruh spesifik dari psikobudaya, sosiobudaya dan budaya.

Edgar dan Sedgwick menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sub kultur mengacu pada nilai, kepercayaan dan gaya hidup sebuah kelompok minoritas.

Anak Jalanan: Sebagai Sub Kultur dan Perilaku Komunikasi

Komunitas anak jalanan adalah subbudaya dari sebuah budaya yang lebih besar di mana anak jalanan berada. Seperti didefinisikan Wikipedia, bahwa budaya anak jalanan adalah:

Refers the cumulative culture of rhymes, songs, jokes, taboos, games, folklore, and places (e.g., places “known” to be “haunted” or “a den” or “forbidden”), etc. among young children. Collectively, this body of knowledge is passed down from one generation of urban children to the next, and can also be passed between different groups of children.

Pentingnya memahami peran budaya bahkan subbudaya dalam perilaku komunikasi, dapat ditelusuri sampai cara seseorang memberikan makna pada sebuah kata. Sebuah kata dapat diartikan secara berbeda karena kerangka budaya yang berbeda. Oleh karena itu menurut Mulyana (2004: 95), “betapa sering kita menganggap hanya satu makna bagi kata atau isyarat tertentu. Padahal setiap pesan verbal dan nonverbal dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Bergantung dalam konteks budaya di mana pesan tersebut berada.”

Selanjutnya, Porter, Samovar, dan Cain (1981: 140) menyatakan bahwa, “There is no ‘real’ meaning, …because every person, from their own personal background, decides what a symbol mean. People have similar meaning only to the extent that they have had similar experiences or can anticipate similar experiences.”

Sedangkan mengenai keterkaitan antara pembentukan makna, bahasa, dan pengaruh latar belakang budaya secara gamblang Porter, Samovar, dan Cain menjelaskan sebagai berikut:

The relationship existing between language and culture should have begun to emerge from our discussion of language acquisiton and meaning. Both languange acquisition and languange meaning are directly related to experiences. These experiences are unique to each of us not only because of the differences encountered as individuals while we were growing up and learning to use language, but also because of what our culture has exposed us to. In short, each of us learns and use language as we do because of both our individual and cultural backgrounds (Porter, Samovar, dan Cain, 1984: 141).

Kerangka budaya anak jalanan, yang dianggap sebagai sebuah subkultur, akan mempengaruhi cara mereka memberi makna terhadap interaksi diri dan lingkungan yang dialaminya. Selanjutnya, bagaimana mereka menginterpretasi dan menyampaikannya pengalaman tersebut melalui tindak komunikasi mereka. Bagaimana mereka memilih dan menentukan kata yang digunakan, memilih bahasa, kelugasan bicara, kebersahajaan menangkap realitas ketika berkomunikasi, sampai pada sikap-sikap yang mungkin sangat tertutup terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya jika diajak berkomunikasi.

Hal yang unik, anak jalanan memproduksi simbol-simbol verbal yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Anak jalanan memiliki istilah khusus untuk sesuatu yang sudah diverbalisasi oleh publik pada umumnya. Misalnya mengapa mereka menyebut Satpol PP dan Polisi dengan sebutan “Wirog”, tentara dengan “sentar”, dan minuman keras jalanan dengan “keyak”.

Banyak hal di dunia mereka yang tidak kita mengerti, mereka berpikir dengan caranya, berjalan hidup dengan sistemnya, dan berkomunikasi dengan bahasanya.