Studi Fenomenologi: Peran Diri dan Perilaku Komunikasi Anak Jalanan

26 06 2009

1. Aktualisasi Masalah Penelitian

Jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1998, Kementrian Sosial R.I. menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan sekitar 400%. Tahun 1999 diperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak.

Di Provinsi Jawa Barat, setiap tahun, jumlah anak jalanan terus bertambah baik untuk kota besar seperti Kota Bandung atau kota-kota lain seperti Cirebon, Indramayu, Tangerang, Bekasi, dan Garut. Tahun 2001, jumlah anak jalanan yang tersebar di Jawa Barat adalah 6267 orang, dan tahun berikutnya meningkat 8352 orang. Sedangkan Kabupaten dengan jumlah yang ekstrim yaitu Bogor 1503 orang, Cirebon 994 orang, dan Bandung 840 orang. Walaupun tahun 2003 menunjukkan sedikit penurunan menjadi 5183 orang dengan kabupaten yang terbanyak adalah Kabupaten Garut 594 orang, Majalengka 558  orang dan Kabupaten Sukabumi 511 orang.

Kabupaten dan Kota Cirebon, memiliki penyandang masalah sosial yang cukup tinggi. Data 2006 menunjukkan populasi penyandang masalah sosial anak mencakup; anak terlantar 490 orang, anak nakal 820 orang, anak terlantar 2568 orang dan anak nakal sendiri sebanyak 983 orang. Dari jumlah penyandang, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon memiliki jumlah anak jalanan yang tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap fenomena anak jalanan. Faktor makro yang memunculkan masalah tersebut yaitu; pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, partisipasi sekolah pada anak usia sekolah yang memunculkan drop-out, pembangunan kawasan dan perkotaan yang belum merata, dan masalah kultur. Sedangkan masalah mikro di dalamnya tercakup; ajakan teman, desakan orang tua untuk mencari nafkah, rumah tangga yang tidak harmonis, anak dengan orang tua single parent,  dan ketidakpuasan terhadap sekolah atau guru.

Munculnya masalah anak jalanan di Kota dan Kabupaten Cirebon, dari sisi makro tidak bisa dihindari. Pertumbuhan kota di kedua wilayah tersebut, merupakan pendorong anak-anak untuk mencari nafkah dengan mengemis, mengamen, atau “memalak” di jalanan. Di samping itu, areal wisata relijius sebagai salah satu sektor andalan kepariwisataan di Cirebon, seperti Makam Sunan Gunung Jati dan Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi lokasi anak jalanan mengais rejeki dengan cara meminta sedekah kepada para pengunjung.

Jika ditelusuri, perbedaan lokasi anak jalanan menunjukkan adanya perbedaan dalam pola anak mengais rejeki. Anak jalanan di perkotaan Cirebon, mendapatkan uang dengan cara mengamen atau ojek payung, dan parkiran. Sedangkan di lokasi wisata, anak-anak mencari uang dengan cara mengemis, meminta dan mengejar para peziarah.

Keadaan ini tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang mendorong anak untuk turun mencari rejeki. Lingkungan mereka secara dominan memberikan pembelajaran tentang cara anak-anak mendapatkan uang. Di tempat ziarah, mengemis, meminta sumbangan merupakan hal yang lumrah, sehingga anak-anak meniru tindakan tersebut. Sedangkan, di kota Cirebon jarang ditemukan anak-anak jalanan mencari uang dengan cara seperti itu. Mereka lebih suka mengamen atau mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang.

Terlepas dari adanya perbedaan perilaku dalam mendapatkan uang, riset terhadap anak jalanan menggambarkan bahwa, persepsi tentang mereka berkaitan dengan stigma kekerasan, kriminalitas dan gangguan sosial. Anak jalanan, di samping menimbulkan masalah sosial, seperti keamanan, ketertiban lalulintas, dan kenyamanan, juga memunculkan tindakan kriminal terhadap anak jalanan itu sendiri. Mereka menjadi komunitas yang rentan terhadap kekerasan dan pelecehan orang dewasa, penggarukan petugas ketertiban kota, berkembangnya penyakit,  dan konsumsi minuman keras serta zat adiktif atau narkoba.

Anak jalanan didefinisikan sebagai individu yang memiliki batas usia sampai 18 tahun, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, baik untuk bermain maupun untuk mencari nafkah.  Realitas pengalaman yang dihadapi tersebut, akan membangun skema kognitif yang unik dari anak jalanan tentang lingkungan dengan perilakunya. Realitas yang dimaksud adalah bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dari lingkungan dan bagaimana peran yang harus dipilih (role taking) ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan.

Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.

Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka.  Melalui sitmulasi tindakan kekerasan terus menerus, terbentuk sebuah  nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Di samping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. Komunikasi intrabudaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan oleh mereka. Aspek-aspek tersebut tampak manakala berkomunikasi dengan sesaman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang  sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang ”liar”, memiliki perilaku dan gaya komunikasi yang berbeda.

2. Disain Studi Fenomenologi

Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Kualitatif dengan tradisi Fenomenologi. Subyek penelitian adalah anak jalanan pengamen di Kota Cirebon dan anak jalanan pengemis di Lingkungan Wisata Makam Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi partisipatif.

3. Hasil Penelitian: Peran Diri Anak Jalanan dan Perilaku Komunikasi

Anak jalanan memaknai peran diri dalam keluarga dan masyarakat, sebagai inidividu yang mandiri (tanggung jawab pada diri dan keluarga), otonom (berusaha melepasakan ketergantungan),  dan individu yang berusaha memiliki relasi sosial dalam konteks di jalanan. Konstruksi makna peran diri itu sendiri dibangun secara kreatif dan dinamis di dalam  interaksi sosial anak dengan orang-orang dalam lingkungan jalanan.

Pada anak pengemis, mereka telah memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang memenuhi kebutuhan sendiri dan mengurangi beban orang tua, diri yang belajar memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang disuruh dan didukung mengemis. Sedangkan anak pengamen memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, diri yang melepaskan ketergantungan pada orang tua, diri yang memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang mencari hubungan sosial di jalanan

Selanjutnya, hasil interaksi sosial anak-anak dengan orang-orang dalam lingkungannya membentuk  konstruksi makna secara subyektif dan obyektif tentang orang dewasa, aturan dan prinsip-prinsip yang berkembang dalam konteks jalanan. Anak-anak pengemis menganggap orang dewasa di luar sebagai pengatur karena memiliki otoritas,  dicurigai karena memiliki kepentingan, setara (sesama pengemis) sehingga mengedepankan persaingan, di samping pula berkembang anggapan sukarela (kepada peziarah) dan berusaha respek terhadap senior. Anak-anak pengemis juga menganggap bahwa aturan mengemis adalah sesuatu yang harus ada dan tidak perlu dipertanyakan (reserve) walaupun sebagai subordinat mereka mencurigai bahwa aturan yang dibuat dipenuhi muatan kepentingan orang dewasa.

Pemaknaan anak pengamen berbeda dengan anak pengemis. Anak pengamen memaknai orang dewasa sebagai tipikal dominan negatif, agresif dan menyerang, senantiasa menggunakan paksaan dan kekerasan dan perlu dilawan jika posisi menguntungkan (konflik). Dilain pihak juga telah berkembang pemaknaan dengan pola-pola spesifik; dominan positif dan skeptis terhadap lawan jenis, solidaritas sesama pengamen dan menghargai wibawa pengamen senior.

Aturan, menurut anak pengamen adalah sebuah konsensus yang berusaha dipatuhi. Penghasilan dianggap memiliki nilai publik (berbagi) dan terbuka, mementingkan kelompok,  menghormati senioritas, dan menghargai atau toleran terhadap zona proksemik jalanan.

Disamping itu, mereka memilikia prinsip; menghindari perbuatan jahat, rasionalisasi terhadap kebiasaan konsumsi minuman keras/obat  dan merokok dimaknai sebagai media interaksi sosial dengan motif ekonomi dan sosial.

Perilaku komunikasi interpersonal pada anak jalanan berlangsung secara dominan dengan orang-orang disekitar jalanan. Perilaku komunikasi interpersonal sendiri berlangsung dalam situasi; memaksa, otoritatif, konflik, mengganggu (teasing), membiarkan (bebas),  sukarela, dan rayuan. Komunikasi interpersonal melalui pesan verbal dan nonverbal, secara spesifik disesuaikan dengan kepentingan dalam menjalankan aktivitas di jalanan. Pesan verbal mayoritas  berupa istilah/kata; yang berhubungan dengan kekerasan/konflik, panggilan khas (sebutan) kepada orang atau konteks jalanan, aktivitas jalanan dan pekerjaan. Pesan nonverbal yang disampaikan berbentuk: gestural, intonasi suara, mimik muka (facial), artifaktual, isyarat bunyi, pakaian (fashion), panataan pakaian/asesoris (grooming) dan penampilan (manner).

Diangkat dari Disertasi Program Ilmu Komunikasi, 2009

Advertisements




Surat Pendek dari “Krucil”

26 06 2009

Salute buat Soegeng Sarjadi (eh salah, itumah ketua SSS ya Soegeng Sarjadi Syndicate) Soegeng Sarif, karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya (sama dunkz kaya saya… 😛 ) dan selamat, karena sudah bisa menyelesaikan sekolahnya. “Cepat langkah waktu pagi menunggu, si budi sibuk siapkan buku. Tugas dari sekolah selesai setengah, sanggupkah si budi diam di dua sisi…” By: Iwan Fals Cerita sugeng hampir sama dengan lirik lagu Iwan Fals. Tapi saya kurang setuju ketika dia menghindari gurunya. Padahal itu momen yang sangat bagus untuk membuktikan, bahwa dia adalah anak yang mandiri, yang benar-benar menjalankan apa yang dia pelajari dari pelajaran PPKN.

Untuk Yuda, sebenarnya saya sepakat dengan keinginanya mencari teman. Tapi tahukan dia? Bahwa dengan caranya, dia sudah mengikis sedikit rezeki anak jalanan yang notabenya tidak mempunyai uang kecuali turun kejalan. Padahal dia bisa melakukan hal yang bersifat social, tapi tidak mengurangi keinginannya mencari teman di jalanan, bahkan membantu teman-temannya. Pengalaman saya bersama KRUCIL, kami mempunyai teman yang notabenya bukan “orang susah”. Dia hanya ingin tahu saja kehidupan dijalan dengan ikut ngamen bareng KRUCIL. Dan ada satu perbedaan antara dia dengan KRUCIL yang bisa dibilang Anak Jalanan “Murni”. Teman KRUCIL ini mencari uang bukan buat makan, tetapi untuk memenuhi keinginannya membeli barang yang disuka, entah itu narkoba, ataupun barang2 lainnya. Alasannya sama seperti Yudi, bila Ia minta sama orang tuanya, dia tidak akan dikasih. Karena orang tuanya mengetahui, bahwa Ia akan menggunakan uang itu bukan untuk hal2 yang menguntungkan, tapi cuma kenikmatan sesaat.

Buat bang Atwar, thanks dah ngasih ilmu baru. Saya jadi lebih tau akan kehidupan anak jalanan di luar lingkungan jalanan saya. Semoga ilmu ini bermanfaat buat saya dan orang lain, serta pesan-pesannya bisa menyadarkan orang yang selalu memandang sebelah mata kehidupan di jalanan.

Salam “keras” dari KRUCIL… barnas_krucil@yahoo.co.id KRUCIL





Tindakan Sosial dan Pemaknaan Kata-kata: Belajar dari Kasus Bu Prita dan Ponari

12 06 2009

Setiap  individu selalu memberi makna terhadap aspek-aspek yang dia temui di sekitarnya. Mulai dari benda-benda yang secara kasat mata dapat disentuh atau dipegang sampai pada sesuatu yang sifatnya imanen atau transenden. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, rumah, kendaraan, sampai pada relasi sosial seperti rasa cinta, kasih sayang, sampai kebencian dan permusuhan di antara individu atau masyarakat.

Bagaimanapun individu secara kreatif melalui proses berfikir; mengurangi, menambahkan, dan menghasilkan makna melalui proses perseptual terhadap objek makna yang dihadapinya. Dalam memahami makna menurut Joseph DeVito (1998: 141), “Look for meaning in people, not in words. Meaning change but words are relatively static, and share meanings, not only words, through communication.”

Karena hakekatnya pembentukan makna ada pada individu, maka maka semua tindakan sosial yang dilakukan individu memunculkan pembentukan makna dan pembentukan makna dikonstruksi oleh setiap individu. Mungkin pembentukan itu sama, berhimpitan, bahkan bertolak belakang. Sebagian besar sangat ditentukan oleh kapasitas dan kepentingan masing-masing pihak dalam membentuk makna itu.

Masalahnya manakala sebuah makna itu dimiliki dan digunakan untuk mengendalikan orang lain bahkan diakumulasikan untuk menananamkan makna terhadap orang lain, seorang individu harus berhati-hati dengan konstruksi pemaknaan yang dimilikinya.Tengok kasus Bu Prita. Akibat pemaknaan terhadap statemen atau kata-kata yang tersebar melalui internet, sebuah lembaga rumah sakit  sebagai lembaga pelayanan publik memaknai sebagai penghinaan, negativitas citra, dan penyerangan. Padahal belum terbukti pula bahwa e-mail yang disebar di kalangan pertemanan itu secara signifikan menimbulkan pengaruh tersebut. Namun akibat konstruksi pemaknaan lembaga rumah sakit itu diterima dan dapat dijadikan delik aduan hukum, maka seorang ibu menginap dalam rumah tahanan selama dua puluh hari. Bahkan andai pidananya terbukti, kemungkinan hukumannya bisa lebih dari itu.

Kontras sekali dengan pemaknaan yang dilakukan masyarakat miskin, rendah akses lembaga kesehatan, dan sudah tidak mampu lagi berfikir rasional untuk menyembuhkan penyakitnya, seorang Dukun Cilik Ponari dianggap atau dimaknai sebagi individu yang mampu menolong, menyembuhkan, dan menjawab permasalahan mereka. Andaipun mereka tidak mendapatkannya, penyakit tetap, dan tidak dilayani secara baik, mereka tidak marah, komplain, atau mengajukan ketidakpuasan pelayanan pada konsumen. Padahal yakin bahwa hanya berapa peresen dari mereka yang “merasa” sembuh setelah berdukun pada Ponari. Sebagian besar tidak ada perubahan yang berarti.

Hakekatnya semua diterima apa adanya. Kontrak sosial di antara kedua belah pihak tidak harus diselesaikan oleh hukum formal, cukup rasionalisasi interpersonal bahwa berobat kepada Ponari hanya sekedar usaha, barangkali bisa sembuh.

Mengapa Pemaknaan Berbeda?

Pembentukan makna adalah berfikir, dan setiap individu memiliki kemampuan berfikir sesuai dengan kemampuan serta kapasitas kognitif atau muatan informasi yang dimilikinya. Oleh karena itu, makna tidak akan sama atas setiap individu walaupun objek yang dihadapinya adalah sama. Pemaknaan terjadi karena cara dan proses berfikir adalah unik pada setiap individu yang akan menghasilkan keragaman dalam pembentukan makna.

Keunikan berfikir sebagai proses pembentukan makna dalam diri individu ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri individu tersebut, seperti sistem nilai, kepercayaan, dan sikap. Menurut Kaye, keunikan tersebut terlihat nyata ketika individu membangun komunikasi dengan orang lain. Kaye (1994 :34-40) berpendapat bahwa;

In a very real sense, communication is about thinking. More precisely, it is concerned with the construction of meaning. Generally, people act toward others on the basis of how they construe others’ dispositions and behaviour. These constructions (meaning) are, in turn, influenced by individual value system, beliefs and attitudes.

Mulyana (2001: 256) mengutip pendapat R. Brown, menjelaskan bahwa makna sebagai sebuah kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Selanjutnya Mulyana (2001: 256) menyatakan bahwa, makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran  orang. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara suatu objek dan simbol yang digunakan untuk mempresentasikannya.

Teori lain yang menjelaskan perbedaan pembentukan makna dalam perilaku komunikasi interpersonal yaitu Coordinated Management of Meaning  Theory. Teori ini dikembangkan  Pearce dan Cronen pada tahun 1980 (dalam West dan Turner 2007: h. 110-113) dengan asumsi bahwa:

  • Human beings live in communication
  • Human beings co-create a social reality
  • Information transactions depend on personal and interpersonal meaning.

Menurut Teori ini, makna bersifat personal dan interpersional. Makna personal yaitu makna yang telah diperoleh ketika seseorang membawa pengalaman yang unik ke dalam interaksi. Sementara makna interpersonal adalah hasil interaksi manakala dua orang setuju terhadap interpretasi masing-masing pada sebuah interaksi itu. Makna personal dan interpersonal diperoleh dalam sebuah percakapan dan seringkali makna itu tanpa didasarkan pada banyak pemikiran.

Jika melihat pada asumsi-asumsi teori-teori tersebut, maka individu dalam rangka membangun harmonisasi atau juga memecahkan konflik yang dihadapinya, maka berhati-hati dengan makna personal yang akan diberikan kepada orang lain. Di lain pihak juga lebih banyak belajar membangun makna interpersonal yang ditanamkan dan hasil kesepakatan secara sosial. Andaikan Pihak Rumah Sakit yang mengadukan Bu Prita berhati-hati dalam menanggapi e-mail Bu Prita dan Bu Prita juga menyebarkan kegundahannya dengan cara yang berbeda, konflik ini tidak akan berkepanjangan. Andaikan pula dalam cerita Dukun Ponari, masyarakat lebih banyak mendengar dan meminta pendapat tentang keampuha sebuah “batu”, kemungkinan makna interpersonalnya akan berbeda. Mereka tidak akan terjebak pada sebuah mitos dan kepercayaan yang merepotkan banyak orang. Wallahu’alam.





Kasus Bu Prita: Ketidaktahuan pada Hukum Komunikasi Elektronik

6 06 2009

Kebebasan berbicara atau menyampaikan pendapat adalah hak dasar manusia. Termasuk dalam media. “Medium is the message”. Media merupakan perpanjangan lidah dan mata manusia untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan pendapat agar dapat disebarkan dan diketahui orang lain. Bahkan bicara adalah eksistensi dari manusia, karena anda manusia maka anda bicara. Dengan bicara anda menjadi ada. Sebagai manusia kita tidak bisa tidak berkomunikasi.

Namun karena komunikasi itu bersifat sosial, maka melibatkan orang lain. Dus juga akibat pengaruh yang ditimbulkan. Sedih, marah, gembira, atau biasa-biasa saja adalah akibat komunikasi yang harus dimiliki kedua belah pihak. Komunikasi itu transaksional dan interaktif. Siapa di antara kita berkomunikasi, maka harus terlibat dalam akibat komunikasi itu.

Saat ini kita semua sedang terfokus pada kasu Bu Prita. Ibu dua anak itu terancam kurungan enam tahun akibat tindak komunikasi sehubungan dengan penyebaran keluh kesahnya atas perlakuan dari lembaga pelayanan kesehatan. Bersama dengan teman-temanya, ibu dua anak itu berbagi pengalaman atas tindakan yang menurut pikirannya tidak fair. Sebagai manusia modern, tentu pembicaraan tidak dilakukan lewat obrolan atau rumpian sebagaimana biasanya label ibu-ibu. Lewat surat elektronik mereka berbagi informasi.

Rana Hukum Komunikasi Elektronik dan Ketidaktahuan Masyarakat

Dalam kasus Bu Prita, masalah komunikasi menimbulkan dampak hukum yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh yang bersangkutan. Dimulai dari macetnya komunikasi dengan pihak rumah sakit, kemudian menyebarkan ketidakpusannya melalui e-mail, serta dampak e-mail yang menyebabkan beliau didakwa oleh pasal pidana dan perdata adalah akibat komunikasi. Dampak komunikasi yang terjadi menimbulkan efek domino yang luar biasa. Kalau tidak luar biasa mana mungkin para calon presiden mau angkat bicara. Walaupun harus diiingat ada kepentingan politis dan bahkan dipolitisir.

Dalam konteks komunikasi, dikenal komunikasi massa, kelompok, organisasi dan interpersonal. Selama ini konteks komunikasi yang menjadi critical point ranah hukum adalah komunikasi massa sehingga muncul kajian ranah hukum komunikasi massa, Undang-undang  Pers dan Undang-undang Pornografi. Semuanya memiliki kekentalan wilayah kajian komunikasi massa. Selama ini, konteks komunikasi interpersonal atau komunikasi pribadi lewat media belum menjadi daya tarik para ahli komunikasi juga hukum sebagai ranah kajian bersama.

E-mail hakekatnya media perorangan bahkan kelompok untuk membicarakan atau menyampaikan pesan tertentu. Klasifikasi kontekstual e-mail adalah komunikasi interpersonal, kelompok, dan organisasi. Di samping itu sebagian besar orang menggunakan e-mail atau milis adalah untuk menyebarkan pesan yang sifatnya pribadi, mulai dari gosip, rumor, silaturahmi, sampai curhat yang bisa dibaca oleh kawan. Secara tidak disadari, karena e-mail itu terdokumentasikan dan tersimpan, maka akibatnya mudah dijadikan dasar sebagai bukti pelanggaran hukum manakala menyinggung perasaan orang lain.

Di lain pihak, peraturan (perundang-undangan) menyangkut teknologi informasi telah ditetapkan dan berlaku efektif pada 2010. Hal ini patut disyukuri bahwa Indonesia termasuk yang tanggap terhadap peraturan yang menyangkut kejahatan komunikasi elektronik. Hal ini akan menjadi pijakan yang kuat ungtuk menyelesaikan perkara hukum yang sebelumnya tidak  memiliki instrumen tentang aturan komunikasi elektronik.

Namun masalahnya masyarakat tidak mengetahui isi dan ancaman hukum di dalamnya. Pasal demi pasal yang menjelaskan tentang jenis dan pelanggaran yang dapat menimbulkan masalah hukum, asing  bagi mereka. Masyarakat menganggap komunikasi melalui e-mail, seperti obrolan keluh kesah lewat tatap muka dengan tetangga. Tidak terlalu banyak orang mendengar atau melihat. Persepsi kita, komunikasi lewat e-mail tidak ubahnya obrolan, gunjingan, bisikan atau curhat dimana tidak banyak orang memperdulikannya. Ketika obrolan selesai maka selesai juga event komunikasi dan pengaruhnya. Seperti kasus Bu Prita, yang bersangkutan tidak pernah menyangka bahwa apa yang disampaikan pada rekan terdekatnya bisa dibaca orang lain dan berubah menjadi release tentang buruknya citra pelayanan sebuah lembaga. Hal itu terjadi di luar perkiraan yang bersangkutan, seperti halnya sebagian besar masyarakat. Terlepas dari caci maki kita atas inferiornya pasien dan superiornya lembaga pelayanan kesehatan dengan orang-orangnya (dokter), kita tidak pernah tahu bahwa caci maki kita jika dilempar kepada media terdokumentasikan, maka bisa menimbulkan aduan hukum. Orang yang tersinggung akan lebih mudah membuktikan tindakan yang menyebabkan munculnya aduan hukum.

Kondisi ini tentu menjadi tugas penegak hukum dan pemerintah untuk lebih mensosialisasikan setiap produk aturan agar diketahui oleh masyarakat. Padahal dilain pihak seringkali muncul kasus di mana peraturan di buat hanya sekedar peraturan. Bahkan tidak terlepas dari kepentingan mendapatkan reward dari pembuatan produk itu sendiri bagi si pembuat aturan.





Mengolah Data dalam Penelitian Kualitatif

18 04 2009

Data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Teks, picture, simbol, penangkapan observer adalah sekumpulan data yang harus diolah. Bahkan menurut saya mengolah bukan tindakan atau perilaku baku sebagaimana halnya langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian kuantitatif. Hakekatnya dalam penelitian kualitatif, mengolah data adalah memberi kategori, mensistematisir, dan bahkan memproduksi makna oleh si “peneliti” atas apa yang menjadi pusat perhatiannya.

Mile dan Huberman seperti yang dikutip oleh Salim (2006: 20-24), menyebutkan ada tiga langkah pengolahan data kualitatif, yakni reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verification). Dalam pelaksanaannya reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, merupakan sebuah langkah yang sangat luwes, dalam arti tidak terikat oleh batasan kronologis. Secara keseluruhan langkah-langkah tersebut saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data, sehingga model dari Miles dan Huberman disebut juga sebagai Model Interaktif.

Berdasarkan pada penjelasan yang telah dikembangkan oleh Agus Salim (2006: 22-23), dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
1. Reduksi data (data reduction), dalam tahap ini peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang diperoleh.
2. Penyajian data (data display). Peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing and verification). Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan, mencatat keteraturan dan konfigurasi yang mungkin ada, alur kausalitas dari fenomena, dan proposisi.

Dalam sebuah penelitian, analisis data dilakukan atas statemen (statement) atau pernyataan yang dikemukakan oleh para informan. Hal ini dilakukan dengan cara, peneliti membaca seluruh transkrip wawancara yang ada dan mendeskripsikan seluruh pengalaman yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan upaya pada tahap yang dikemukakan tersebut akan diketahui makna baik makna konotatif-denotatif atau makna implisit dan eksplisit dari pernyataan atas topik atau objek.

Selanjutnya uraian makna itu sendiri akan memperlihatkan tema-tema makna (meaning themes) yang menunjukkan kecenderungan arah jawaban atau pengertian yang dimaksudkan oleh para  informan. Serta aspek penting lain yang dianalisis dalam fenomenologis adalah penjelasan holistik dan umum tentang sebuah pembicaraan dengan subjek penelitian. Dari penjelasan umum tersebut harus ditarik keterkaitan antar makna yang dikembangkan pada setiap topik yang dibicarakan selama proses wawancara berlangsung (general description of the experience).

Keabsahan data penelitian dapat dilihat dari kemampuan menilai data dari aspek validitas dan reliabilitas data penelitian. Untuk menguji validitas penelitian dapat dilakukan dengan metode triangulasi di mana peneliti menemukan kesepahaman dengan subjek penelitian. Sedangkan reliabilitas dapat dilakukan dengan melakukan atau menerapkan prosedur fieldnote atau catatan lapangan dengan prosedur yang akan ditetapkan (Kirk dan Miller, 1986: 41-42).

Agar mendapatkan gambaran yang memuaskan dari sebuah hasil wawancara, karena penelitian ini menerapkan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang pokok, menurut Tesch (Creswell, 2002: 144-145), dapat ditempuh tahap-tahap sebagai berikut jika peneliti telah menyiapkan teks atau transkrip wawancara secara lengkap.
1. Pahami catatan secara keseluruhan. Peneliti akan membaca semua catatan dengan seksama dan mungkin juga akan menuliskan sejumlah ide yang muncul.
2. Selanjutnya, peneliti akan memilih satu dokumen wawancara yang paling menarik, yang singkat yang ada pada tumpukan paling atas.
3. Menyusun daftar seluruh topik untuk beberapa informan.
4. Tahap berikutnya, peneliti akan menyingkat topik-topik tersbeut ke dalam kode-kode dan menuliskan kode-kode tersebut pada bagian naskah yang sesuai.
5. Selanjutnya peneliti akan mencari kata yang paling deskriptif untuk topik dan mengubah topik-topik tersebut ke dalam kategori-kategori.
6. Membuat keputusan akhir tentang singkatan setiap kategori dan mengurutkan kategori-kategori tersbeut menurut abjad.
7. Mengumpulkan setiap materi yang ada dalam satu tempat dan memulai melakukan analisis awal.
8. Seandainya diperlukan, akan disusun kode-kode terhadap data yang sudah ada.

Demikian, kira-kira hal-hal pokok yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam pengolahan data untuk sebuah proses penelitian kualitatif.





Kasus Ponari: Antara Anugrah dan Hak Anak

17 02 2009

Selasa, 10 Februari 2009 | 10:16 WIB Inilah fakta di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir kini menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Potongan berita itu dikutif dari Kompas on-line tentang praktek pedukunan seorang anak yang bernama Ponari. Fakta tentang keajaiban batu yang didapatkan sehabis disambar petir memang menjadi titik dari daya tarik orang-orang untuk meminta berkah kepada anak itu. Bagaimanapun secara kultural, penyembuhan melalui batu,  sebagai perantara atau media penyembuhan sudah dikenal sajak lama di Indonesia, termasuk di manapun. Tanpa peristiwa atau melalui  peristiwa, membesar-besarkan nilai kekeramatan batu selalu menjadi daya pikat orang untuk mempercayai batu sebagai media.

Bagi Ponari dan keluarganya mendapatkan batu berkah yang mampu menyembuhkan penyakit, tentu membawa perubahan. Dari yang tadinya tidak dipercaya orang menjadi diyakini, dari yang tadinya terpinggirkan menjadi tempat bergantung, dan konsekuensi lain, dari yang tadinya susah mencari uang sekarang uang datang sendiri. Tinggal seberapa mau dan tahan melayani kemauan ratusan bahkan ribuan orang antri menunggu tangan Ponari mencelupkan jarinya agar mendapatkan berkah.  Sebuah peluang yang sulit didapatkan oleh kebanyakan orang. Tidak jauh berbeda tentunya dengan seorang anak yang mampu menangkap binatang yang berbeda dari kelajiman atau langka kemudian mendapatkan uang sawer dari yang melihat, tentu sebuah kewajaran.

Namun masalahnya sekarang, terlepas dari praktek pedukunan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya, peristiwa ini menyangkut seorang anak dan batu yang menjadi media penyembuh dan pemberi berkah. Bisakah kita mengatakan identik fenomenanya dengan memajang seekor ular kemudian orang memberi sawer, memajang sepotong kayu dan memberikan uang receh, atau berdoa di depan batu pada malam Jum’at Kliwon kemudian penjaga memungut uang recehan. Argumen macam apapun tidak bisa diterima.

Melibatkan anak untuk mendapatkan atau mengais rejeki adalah intervensi. Menyuruh anak mencari dan mengemis adalah melanggar haknya. Serta membiarkan mereka lelah dan sakit untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa tentu tidak bisa dikatakan cara yang benar. Seluruhnya adalah eksploitasi atas hak-hak anak.

Mungkin kita harus berpikir bahwa sebenarnya kasus seperti ini adalah lazim. Mari kita pikirkan, mungkinkah sebenarnya kita juga mempraktekan hal yang sama dengan bungkus yang lain. Memaksa anak untuk memenuhi keinginan orang tua, jika anak memiliki kemampuan, biasa dalam kultur kita. Dalam kultur masyarakat paguyuban-agraris dan hegemonik, kuasa anak ada pada orang dewasa yang namanya orang tua. Orang tua maknanya bisa diperluas, paman, bibi, dan keluarga dekat lainya yang lebih dewasa biasa kita sebut orang tua. Mereka memiliki otoritas pada anak. Anak harus membantu dan menjadi bagian dari tenaga produksi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hakekatnya, itu dilakukan secara turun temurun. Namun sejauh itu dilakukan dalam kapasitas belajar, bermain, dan mendorong anak menentukan jalan hidupnya adalah sesuatu yang positif. Menyuruh anak dengan sedikit otoritatif untuk mengikuti perlombaan atau bekerja keras dalam belajar adalah pembelajaran. Menyertakan anak dalam proses seleksi dan audisi sebuah kontes idol, mungkin bagian dari arahan orang tua untuk membantu anak menyalurkan minatnya. Namun manakala menyuruh anak menandatangani kontrak kerja untuk sebuah produksi dan anak merasa tidak mampu itu harus dianggapa sebuah eksploitasi.

Pembatasan itu harus jelas manakala melihat hak anak dan perilaku eksploitatif orang tua. Memang orang tua di satu sisi memiliki otoritas, tetapi pada sisi yang lain potensi dan kemampuan anak harus menjadi pertimbangan. Mereka harus ditanya, mereka harus ditimbang kemampuannya, dan mereka kalau bisa terlibat dalam pengambilan keputusan. Memang rumit, tapi itulah yang harus ditempuh jika kita memang menginginkan kemaslahatan bagi anak.

Dalam kasus Ponari, semuanya harus berusaha untuk berpikir jernih. Tanya pada diri masing-masing, apakah kita sudah sewajarnya memperlakukan Ponari seperti itu? Menentengnya, menariknya ke sana-ke mari, dan  mungkin membiarkan dia kelelahan, tidakah itu eksploitatif? Betulkah uang yang dia kumpulkan akan menjadi bagian dari perjalanan tumbuh-kembangnya di masa yang akan datang? Tidakah juga kita tahu bahwa orang tuanya tidak setuju dan terjadi konflik kepentingan di antara orang dewasa di sekitarnya. Artinya ada muatan kepentingan orang dewasa untuk mengeksploitasi Ponari.  Jika demikian, masihkah kita akan mengatakan itu bagian dari berkah buat Ponari. Tidakah itu bukti dari “keserakahan” orang-orang dewasa disekitarnya untuk menarik keuntungan dari anak yang namanya Ponari.





Lagu Renungan di Bulan-bulan Terakhir

1 02 2009

Melatiku
Iwan Abdurrahman

Ini kisah tentang sekuntum bunga
Terputih dari yang putih
Yang daunya hijau di musim kering
Kemilau disinar surya

Dan bila musim bunga tiba
Melati berseri
Putih dan sejuk, bening berseri
Bergetaran di sudut hati

Ini kisah tentang sekuntum bunga
Terputih dari yang putih
Yang daunya hijau di musim kering
Kemilau disinar surya

Gubuk Sunyi
Iwan Adurrahman

Gubuk sunyi di pinggir danau
Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja
Yang juga nakal meraba-raba
Ujung bunga rerumputan

Lagu alam memang sunyi, sayang…
Apalagi sore ini
Sore ini sore Sabtu, sore biasa kita berdua
Membelai mentari senja, diujung jalan Bandung Utara

Mentarinya yang ini juga, sayang…
Cuma jarak yang memisah kita
1000 mil lebih sedepa
seribumilpun lebih sedepa

Lagu alam memang sunyi
Lagi pula bukan puisi
Cuma bahana yang diam-diam
Lalu bangkit dari dalam hati

Lagu alam memang sunyi, sayang…
Ini jarak yang memisah kita
Seribumil lebih sedepa
Seribumilpun lebih sedepa

Gubuk sunyi di pinggir danau…..hem hem..hem hem

Note:
Lagu yang mengingatkan perjalanan dalam keseharian pekerjaan di tahun-tahun terakhir.
Terimakasih Bah Iwan lagunya