Kuota Kursi PTN-PTS

4 03 2014

Kuota Kursi PTN-PTS





Perceptions and Behaviors of Health Communication on the Poor with High and Low HDI Atwar Bajari, Sri Susilawati, Agus Setiaman,

4 03 2014

Perceptions and Behaviors of Health Communication on the Poor with High and Low HDI Atwar Bajari, Sri Susilawati, Agus Setiaman,

Perceptions and Behaviors of Health Communication on the Poor with High and Low HDI

Atwar Bajari, Sri Susilawati, Agus Setiaman,

 

Abstract

 

Human development index (HDI) is one of development achievements within an area. One of the indicators for Human Development Index (HDI) is public health. Low rate of public health will lead to low human resources since a good resource requires good physical health. One of the aspects we need to consider of is public behavior in seeking information about health, especially by the poor whom become the object of development. This research is intended to map the difference between poor people with high HDI and low HDI within context of their health communication behavior.The result indicated that there is difference between poor people within high and low HDI on their perception of the role of government, the utilization of mass media for socialization, and evaluation on implementation of health program policy. From the result, therefore, it is necessary to have a different approach model of health. In this term, the research has recommended the Models of Health Communication Reinforcement for the Poor (HCRP) with high and low HDI.

 

Keywords: Human Development Index (HDI), the poor, seeking information, health communication, and communication reinforcement.





Anak Jalanan “Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang”

10 06 2012

Penulis: Dr. Atwar Bajari
Pengantar:

Prof. H. deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad)

Dr., Drg. Nina Justiana (Ketua PSW Unpad)

Penerbit: Humaniora
Bandung Mei 2012

Dalam keunikannya, seorang anak jalanan memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi anak normal mengenai hubungan dengan orang dewasa, tanggung jawab terhadap keluarga dan saudaranya, hubungan dengan lawan jenis, uang, dan kepercayaan pada agama.
Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.
Perbedaan kondisi dan keadaan tersebut, mengakibatkan anak jalanan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan dengan anak yang hidup dalam lingkungan standar pada umumnya dalam melihat lingkungan sekitar. Misalnya mereka beranggapan bahwa lingkungan itu lebih keras, berat, dan pengaturannya sangat tergantung dari diri mereka sendiri. Jika mereka berusaha dengan keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Lingkungan merupakan salah satu konstruk budaya dalam pembentukan makna anak jalanan. Lingkungan kumuh, ketiadaan bimbingan orangtua, dan tindakan kasar, cenderung membentuk watak yang pasif, inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif, agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. Dalam kondisi demikian, tata nilai yang ditanamkan akan sulit karena oto-aktivitas, rasa percaya diri, pengandalan diri sendiri hampir punah, hingga timbul mental ”primitif” dan ”sindrom kemiskinan” .
Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui sitmulasi tindakan kekerasan yang terus menerus, akan membentuk sebuah nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Buku ini memaparkan peta kondisi anak jalanan berdasarkan teropong riset kualitatif fenomenologi. Garis besar pembahasan pada sudut pandang atau perspektif komunikasi secara mikro. Walaupun  pendekatan sosiologis turut mewarnai kajian yang dilakukan.

 





METODOLOGI DAN EPISTEMOLOGI DALAM RUANG KOMUNIKASI KONVERGENSI

12 06 2011

Determinisme teknologi komunikasi dan informasi terhadap perubahan persepsi, sikap dan perilaku masyarakat, terhadap ruang, waktu, dan batas wilayah, telah menuntut pemikiran-pemikiran kreatif dalam perspektif Ilmu Komunikasi. Tradisi linier dan interaktif sendiri tidak mampu menjelaskan fenomena perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Realitas komunikasi dengan intervensi media yang semakin konvergen, tidak dapat dijelaskan hanya sekadar transmisi, pertukaran informasi interaktif dan pola-pola komunikasi yang stagnan.
Sifat komunikasi dengan multi arah (person to person, person to many, and many to many) menjadi amat rumit dalam skala dimensi waktu, ruang dan batas wilayah. Merupakan salah satu ciri dari hypercommunication era teknologi komunikasi saat ini. Dalam satu event komunikasi orang bisa membangun level komunikasi antar pribadi, kelompok, bahkan komunikasi massa.
Kerumitan terletak pada prediksi asal muasal, proses yang terjadi, serta akibat yang ditimbulkan dari proses komunikasi yang berlangsung. Aspek-aspek dari ciri-ciri komunikasi pada setiap level hadir bersamaan. Misalnya, kedekatan, keterbukaan, umpan balik langsung yang merupakan bagian dari ciri komunikasi langsung dan antar pribadi, hadir bersamaan dengan karakteristik komunikasi massa yang memiliki unsur keserempakan, kesegeraan dan keterlibatan lembaga dari seorang komunikator.
Sekarang amati kasus manusia seperti seorang polisi yang tiba-tiba berubah menjadi selebritis terkenal. Tanpa reputasi dan track record prestasi yang dibangun oleh orang yang bersangkutan, berubah manjadi pembicaraan publik secara terbuka. Tidak hanya menyangkut dirinya tetapi sudah masuk dalam ruang publik bahkan ruang kelembagaan yang di luar batas-batas rasionalitas. Pembentukan citra dari orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa menjadi memiliki apa-apa karena publik membicarakan itu dan media memanfaatkan peristiwa dari efek resonansi atas media konvergen semacam Youtube.com. Dan akhirnya melambungkan popularitas yang bersangkutan. Media konvensional memanfaatkannya sebagi sebuah isu murahan yang banyak disukai semua orang.
Demikian halnya dengan fenomena jejaring sosial yang memiliki kemampuan melebihi batas-batas komunikasi sosial. Jika keserempakan sebelumnya hanya miliki komunikasi massa, media jejaring sosial merubah struktur dan tatanan komunikasi dengan memadukan kemampuan kedua konteks komunikasi tersebut. Komunikasi menjadi ajang memainkan panggung pribadi dengan berbagai konsep dan pengelolaan. Media bisa berubah menjadi panggung depan atau panggung belakang yang menampilkan berbagai karakter secara berlainan dari karakter yang sesungguhnya. Bahkan orang bisa menjadi berupaya mengkonstruksi karakternya secara pragmatis demi hubungan dan reputasi secara berbeda.
Sebuah isue yang belum tentu ada benarnya secara faktual dan empirik, akan menjadi sangat objektif jika mendapatkan dukungan dan pembenaran dari seluruh member jejaring sosial dan dan seolah dukungan itu menjadi sebuah pembenaran. Tengok saja bagaimana orang memanfaatkan twitter untuk diretwitt atau diikuti oleh follower yang lain. Lama kelamaan membentuk sebuah opini akumulatif mengenai suatu isue yang entah berasal dari siapa dan dari mana. Komunikasi dengan fenomena seperti ini, sangat evasip, kumulatif, centang perenang, bergeser dari subyektif menjadi objektif, dan sarkastis.
Evasi komunikasi seringkali muncul karena komunikasi sifatnya dangkal, dan membicarakan sesuatu secara spontaneus. Akibatnya, pembicaraan menghilangkan hal yang pokok dan dukungan fakta yang memadai. Bahkan orang cenderung melengkapi kekurangan informasinya dengan interpretasi pribadi, padahal isu itu dilemparkan kepada publik. Akibatnya, makin lama spektrum pembicaraan tidak lagi pada hal yang pokok tapi berubah dengan membawa dimensi-dimensi lain secara kumulatif untuk menginterpretasikan sebuah wacana publik di ruang maya. Tengok saja beberapa kasus yang telah terjadi di berbagai bentuk ruang-ruang komunikasi seperti messenger group dan jejaring sosial. Ketika pemerintah melempar rencana untuk membuat regulasi atas pengaturan Blackberry, umpatan, opini dan hinaan pada menteri komunikasi, bukan lagi dasar fakta tetapi opini yang telah menyerang pribadi dari seorang menteri.
Sifat komunikasi dalam dunia maya yang interaktif, direct, dan feedback segera, telah membuat lompatan-lompatan opini dan pembahasan isu sangat dinamis. Saat ini orang membahas sesuatu tetapi di saat berikutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama berubah membahas topik yang lain. Lompatan-lompatan itu terkadang membuat sebuah isu tidak pernah selesai, atau mau diapakan dengan isue sebelumnya. Komunikasi melalui media konvergen semakin mendekati wacana dan konteks obrolan keseharian, tetapi melalui media. Namun, seringkali tidak disadari bahwa akibat dari wacana yang keluar dari koridor komunikasi langsung.

Memahami perilaku komunikasi yang begitu dinamis, membutuhkan satu upaya pemahaman dengan pendekatan yang berbeda. Terutama untuk merekonstruksi pendekatan memadai. Pendekatan-pendekatan komunikasi yang sebelumnya didominasi pengaruh, berubah menjadi komunikasi yang hyperinteractive. Konsep-konsep yang menjelaskan fenomena komunikasi yang massif, satu arah, dan hanya memperhatikan komponen-komponen komunikasi semata, sangat tidak mampu menjelaskan hakekat komunikasi yang sebenarnya.
Misalnya, dimensi ruang dalam kehidupan komunikasi telah berubah dari ruang fisik menjadi ruang imajiner berbentuk layar. Sebelumnya, layar komunikasi sebagai jendela hanya berlaku dalam komunikasi massa melalui televisi. Sekarang, hampir seluruh level komunikasi membutuhkan layar sebagai jendela komunikasi, one to many, many to one dan many to many. Bahkan layar memungkinkan lompatan-lompatan isu dan situasi komunikasi.
Disamping itu, kerja komunikasi bergeser dari otak ke mulut sebagai jembatan produksi simbol (bahasa), menjadi otak pada papan keypad sebagai alat produksi bahasa secara interaktif. Kemampuan melatih mulut untuk mengeluarkan bunyi bahasa sebagai simbol, tereduksi menjadi kemampuan papan ketik memproduksi kata-kata secara visual dan tertulis. Bahkan aspek ini pula yang menyebabkan sebuah percakapan informal, membutuhkan tatanan aturan yang baru.
Individu, tidak lagi dapat semena-mena memproduksi wacana jika tidak ingin menimbulkan efek komunikasi yang sebelumnya tidak ada dalam komunikasi verbal dan face to face. Lebih jauh lagi, tradisi komunikasi ujaran dibawa ke dalam kebiasaan komunikasi tertulis dengan dampak yang lebih luas dan atmosfir komunikasi yang berbeda.
Komunikasi layar juga memiliki sifat serba ada, serba cepat, dan minim mobilitas. Hal ini akan melatih kerja komunikasi pada individu secara aktif dengan menghilangkan relasi sosial atau jejaring sosial konvensional. Struktur komunikasi, menjadi amat dipengaruhi oleh kerja aktif menghadapi realitas yang jauh, bahkan menjauhakan dari sebuah kedekatan fisik.
Selanjutnya produksi kode kode secara artistik, representasi visual dan estetik, pengganti komunikasi ujaran yang mengandalkan auditif, ekspresif (bahsa tubuh) dan etis. Sejauh itu diproduksi dan disepakati dengan memenuhi ketiga aspek tersebut, maka orang menyepakati sebagai sebuah hal yang bisa diterima.
Melihat pada berbagai perubahan yang ada, menuntut berbagai perubahan cara pandang, cara mengungkap relitas, dan memecahkan masalah komunikasi menjadi amat kontekstual dan rumit. Tentu dalam hal ini adalah, pergeseran pada metodologi pendekatan yang berasal dari perspektif yang digunakan, serta inventarisasi atas dimensi-dimensi riset sebagai epistemologi komunikasi.
Intinya, komunikasi sosial menjadi berubah. Seperti yang dikemukakan dalam hasil risetnya terhadap anak-anak muda di United Kingdom dalam http://www.childnet.com, 2011, bahwa:

“… technology has not only mediated communication in countless ways, but … the very ways we communicate – and even the ways we talk and think about communication – are changing as a result.”
Social networking services are changing the ways in which people use and engage with the Internet and with each other. Young people, particularly, are quick to use the new technology in ways that increasingly blur the boundaries between online and offline activities.
Social networking services are also developing rapidly as technology changes with new mobile dimensions and features. Children and young people within the UK, who have grown up taking the Internet and mobile technologies for granted, make up a significant segment of the “beta generation” – the first to exploit the positive opportunities and benefits of new and emerging services, but also the first to have to negotiate appropriate behaviours within the new communities, and to have to identify and manage risk.





Tugas Mata Kuliah MPK II S1

29 05 2011

Salam
Silahkan download tugas akhir MK MPK II untuk kelas S1 Jatinangor dan kelas 110 SKS Bandung.
SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF
Selamat bekerja





Tugas Perencanaan Komunikasi

15 03 2010

Tugas ini untuk kelas MIK Bandung

Download dua buah kasus model perencanaan di bawah ini. Pelajari dan berikan komentar terhadap model perencanaan yang dilampirkan tersebut. Komentar meliputi:
1. Apakah yang membedakan kedu jenis perencanaan tersebut dililihat dari pengembangan langkah-langkah perencanaan.
2. Pada sepek apa kedua perencanaan tersebut menekankan fokus utama perencanaan komunikasi.
3. Apakh masih bisa disempurnakan?

Revie tugas dilakukan minggu ini secara personal
Terima kasih.

SPIN PROJECT
IDRC MODEL





Studi Fenomenologi: Peran Diri dan Perilaku Komunikasi Anak Jalanan

26 06 2009

1. Aktualisasi Masalah Penelitian

Jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1998, Kementrian Sosial R.I. menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan sekitar 400%. Tahun 1999 diperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak.

Di Provinsi Jawa Barat, setiap tahun, jumlah anak jalanan terus bertambah baik untuk kota besar seperti Kota Bandung atau kota-kota lain seperti Cirebon, Indramayu, Tangerang, Bekasi, dan Garut. Tahun 2001, jumlah anak jalanan yang tersebar di Jawa Barat adalah 6267 orang, dan tahun berikutnya meningkat 8352 orang. Sedangkan Kabupaten dengan jumlah yang ekstrim yaitu Bogor 1503 orang, Cirebon 994 orang, dan Bandung 840 orang. Walaupun tahun 2003 menunjukkan sedikit penurunan menjadi 5183 orang dengan kabupaten yang terbanyak adalah Kabupaten Garut 594 orang, Majalengka 558  orang dan Kabupaten Sukabumi 511 orang.

Kabupaten dan Kota Cirebon, memiliki penyandang masalah sosial yang cukup tinggi. Data 2006 menunjukkan populasi penyandang masalah sosial anak mencakup; anak terlantar 490 orang, anak nakal 820 orang, anak terlantar 2568 orang dan anak nakal sendiri sebanyak 983 orang. Dari jumlah penyandang, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon memiliki jumlah anak jalanan yang tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap fenomena anak jalanan. Faktor makro yang memunculkan masalah tersebut yaitu; pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, partisipasi sekolah pada anak usia sekolah yang memunculkan drop-out, pembangunan kawasan dan perkotaan yang belum merata, dan masalah kultur. Sedangkan masalah mikro di dalamnya tercakup; ajakan teman, desakan orang tua untuk mencari nafkah, rumah tangga yang tidak harmonis, anak dengan orang tua single parent,  dan ketidakpuasan terhadap sekolah atau guru.

Munculnya masalah anak jalanan di Kota dan Kabupaten Cirebon, dari sisi makro tidak bisa dihindari. Pertumbuhan kota di kedua wilayah tersebut, merupakan pendorong anak-anak untuk mencari nafkah dengan mengemis, mengamen, atau “memalak” di jalanan. Di samping itu, areal wisata relijius sebagai salah satu sektor andalan kepariwisataan di Cirebon, seperti Makam Sunan Gunung Jati dan Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi lokasi anak jalanan mengais rejeki dengan cara meminta sedekah kepada para pengunjung.

Jika ditelusuri, perbedaan lokasi anak jalanan menunjukkan adanya perbedaan dalam pola anak mengais rejeki. Anak jalanan di perkotaan Cirebon, mendapatkan uang dengan cara mengamen atau ojek payung, dan parkiran. Sedangkan di lokasi wisata, anak-anak mencari uang dengan cara mengemis, meminta dan mengejar para peziarah.

Keadaan ini tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang mendorong anak untuk turun mencari rejeki. Lingkungan mereka secara dominan memberikan pembelajaran tentang cara anak-anak mendapatkan uang. Di tempat ziarah, mengemis, meminta sumbangan merupakan hal yang lumrah, sehingga anak-anak meniru tindakan tersebut. Sedangkan, di kota Cirebon jarang ditemukan anak-anak jalanan mencari uang dengan cara seperti itu. Mereka lebih suka mengamen atau mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang.

Terlepas dari adanya perbedaan perilaku dalam mendapatkan uang, riset terhadap anak jalanan menggambarkan bahwa, persepsi tentang mereka berkaitan dengan stigma kekerasan, kriminalitas dan gangguan sosial. Anak jalanan, di samping menimbulkan masalah sosial, seperti keamanan, ketertiban lalulintas, dan kenyamanan, juga memunculkan tindakan kriminal terhadap anak jalanan itu sendiri. Mereka menjadi komunitas yang rentan terhadap kekerasan dan pelecehan orang dewasa, penggarukan petugas ketertiban kota, berkembangnya penyakit,  dan konsumsi minuman keras serta zat adiktif atau narkoba.

Anak jalanan didefinisikan sebagai individu yang memiliki batas usia sampai 18 tahun, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, baik untuk bermain maupun untuk mencari nafkah.  Realitas pengalaman yang dihadapi tersebut, akan membangun skema kognitif yang unik dari anak jalanan tentang lingkungan dengan perilakunya. Realitas yang dimaksud adalah bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dari lingkungan dan bagaimana peran yang harus dipilih (role taking) ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan.

Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.

Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka.  Melalui sitmulasi tindakan kekerasan terus menerus, terbentuk sebuah  nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Di samping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. Komunikasi intrabudaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan oleh mereka. Aspek-aspek tersebut tampak manakala berkomunikasi dengan sesaman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang  sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang ”liar”, memiliki perilaku dan gaya komunikasi yang berbeda.

2. Disain Studi Fenomenologi

Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Kualitatif dengan tradisi Fenomenologi. Subyek penelitian adalah anak jalanan pengamen di Kota Cirebon dan anak jalanan pengemis di Lingkungan Wisata Makam Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi partisipatif.

3. Hasil Penelitian: Peran Diri Anak Jalanan dan Perilaku Komunikasi

Anak jalanan memaknai peran diri dalam keluarga dan masyarakat, sebagai inidividu yang mandiri (tanggung jawab pada diri dan keluarga), otonom (berusaha melepasakan ketergantungan),  dan individu yang berusaha memiliki relasi sosial dalam konteks di jalanan. Konstruksi makna peran diri itu sendiri dibangun secara kreatif dan dinamis di dalam  interaksi sosial anak dengan orang-orang dalam lingkungan jalanan.

Pada anak pengemis, mereka telah memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang memenuhi kebutuhan sendiri dan mengurangi beban orang tua, diri yang belajar memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang disuruh dan didukung mengemis. Sedangkan anak pengamen memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, diri yang melepaskan ketergantungan pada orang tua, diri yang memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang mencari hubungan sosial di jalanan

Selanjutnya, hasil interaksi sosial anak-anak dengan orang-orang dalam lingkungannya membentuk  konstruksi makna secara subyektif dan obyektif tentang orang dewasa, aturan dan prinsip-prinsip yang berkembang dalam konteks jalanan. Anak-anak pengemis menganggap orang dewasa di luar sebagai pengatur karena memiliki otoritas,  dicurigai karena memiliki kepentingan, setara (sesama pengemis) sehingga mengedepankan persaingan, di samping pula berkembang anggapan sukarela (kepada peziarah) dan berusaha respek terhadap senior. Anak-anak pengemis juga menganggap bahwa aturan mengemis adalah sesuatu yang harus ada dan tidak perlu dipertanyakan (reserve) walaupun sebagai subordinat mereka mencurigai bahwa aturan yang dibuat dipenuhi muatan kepentingan orang dewasa.

Pemaknaan anak pengamen berbeda dengan anak pengemis. Anak pengamen memaknai orang dewasa sebagai tipikal dominan negatif, agresif dan menyerang, senantiasa menggunakan paksaan dan kekerasan dan perlu dilawan jika posisi menguntungkan (konflik). Dilain pihak juga telah berkembang pemaknaan dengan pola-pola spesifik; dominan positif dan skeptis terhadap lawan jenis, solidaritas sesama pengamen dan menghargai wibawa pengamen senior.

Aturan, menurut anak pengamen adalah sebuah konsensus yang berusaha dipatuhi. Penghasilan dianggap memiliki nilai publik (berbagi) dan terbuka, mementingkan kelompok,  menghormati senioritas, dan menghargai atau toleran terhadap zona proksemik jalanan.

Disamping itu, mereka memilikia prinsip; menghindari perbuatan jahat, rasionalisasi terhadap kebiasaan konsumsi minuman keras/obat  dan merokok dimaknai sebagai media interaksi sosial dengan motif ekonomi dan sosial.

Perilaku komunikasi interpersonal pada anak jalanan berlangsung secara dominan dengan orang-orang disekitar jalanan. Perilaku komunikasi interpersonal sendiri berlangsung dalam situasi; memaksa, otoritatif, konflik, mengganggu (teasing), membiarkan (bebas),  sukarela, dan rayuan. Komunikasi interpersonal melalui pesan verbal dan nonverbal, secara spesifik disesuaikan dengan kepentingan dalam menjalankan aktivitas di jalanan. Pesan verbal mayoritas  berupa istilah/kata; yang berhubungan dengan kekerasan/konflik, panggilan khas (sebutan) kepada orang atau konteks jalanan, aktivitas jalanan dan pekerjaan. Pesan nonverbal yang disampaikan berbentuk: gestural, intonasi suara, mimik muka (facial), artifaktual, isyarat bunyi, pakaian (fashion), panataan pakaian/asesoris (grooming) dan penampilan (manner).

Diangkat dari Disertasi Program Ilmu Komunikasi, 2009