Kuota Kursi PTN-PTS

4 03 2014

Kuota Kursi PTN-PTS

Advertisements




Anak Jalanan “Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang”

10 06 2012

Penulis: Dr. Atwar Bajari
Pengantar:

Prof. H. deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad)

Dr., Drg. Nina Justiana (Ketua PSW Unpad)

Penerbit: Humaniora
Bandung Mei 2012

Dalam keunikannya, seorang anak jalanan memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi anak normal mengenai hubungan dengan orang dewasa, tanggung jawab terhadap keluarga dan saudaranya, hubungan dengan lawan jenis, uang, dan kepercayaan pada agama.
Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.
Perbedaan kondisi dan keadaan tersebut, mengakibatkan anak jalanan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan dengan anak yang hidup dalam lingkungan standar pada umumnya dalam melihat lingkungan sekitar. Misalnya mereka beranggapan bahwa lingkungan itu lebih keras, berat, dan pengaturannya sangat tergantung dari diri mereka sendiri. Jika mereka berusaha dengan keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Lingkungan merupakan salah satu konstruk budaya dalam pembentukan makna anak jalanan. Lingkungan kumuh, ketiadaan bimbingan orangtua, dan tindakan kasar, cenderung membentuk watak yang pasif, inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif, agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. Dalam kondisi demikian, tata nilai yang ditanamkan akan sulit karena oto-aktivitas, rasa percaya diri, pengandalan diri sendiri hampir punah, hingga timbul mental ”primitif” dan ”sindrom kemiskinan” .
Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui sitmulasi tindakan kekerasan yang terus menerus, akan membentuk sebuah nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Buku ini memaparkan peta kondisi anak jalanan berdasarkan teropong riset kualitatif fenomenologi. Garis besar pembahasan pada sudut pandang atau perspektif komunikasi secara mikro. Walaupun  pendekatan sosiologis turut mewarnai kajian yang dilakukan.

 





Tugas Mata Kuliah MPK II S1

29 05 2011

Salam
Silahkan download tugas akhir MK MPK II untuk kelas S1 Jatinangor dan kelas 110 SKS Bandung.
SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF
Selamat bekerja





Tugas Perencanaan Komunikasi

15 03 2010

Tugas ini untuk kelas MIK Bandung

Download dua buah kasus model perencanaan di bawah ini. Pelajari dan berikan komentar terhadap model perencanaan yang dilampirkan tersebut. Komentar meliputi:
1. Apakah yang membedakan kedu jenis perencanaan tersebut dililihat dari pengembangan langkah-langkah perencanaan.
2. Pada sepek apa kedua perencanaan tersebut menekankan fokus utama perencanaan komunikasi.
3. Apakh masih bisa disempurnakan?

Revie tugas dilakukan minggu ini secara personal
Terima kasih.

SPIN PROJECT
IDRC MODEL





Surat Pendek dari “Krucil”

26 06 2009

Salute buat Soegeng Sarjadi (eh salah, itumah ketua SSS ya Soegeng Sarjadi Syndicate) Soegeng Sarif, karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya (sama dunkz kaya saya… 😛 ) dan selamat, karena sudah bisa menyelesaikan sekolahnya. “Cepat langkah waktu pagi menunggu, si budi sibuk siapkan buku. Tugas dari sekolah selesai setengah, sanggupkah si budi diam di dua sisi…” By: Iwan Fals Cerita sugeng hampir sama dengan lirik lagu Iwan Fals. Tapi saya kurang setuju ketika dia menghindari gurunya. Padahal itu momen yang sangat bagus untuk membuktikan, bahwa dia adalah anak yang mandiri, yang benar-benar menjalankan apa yang dia pelajari dari pelajaran PPKN.

Untuk Yuda, sebenarnya saya sepakat dengan keinginanya mencari teman. Tapi tahukan dia? Bahwa dengan caranya, dia sudah mengikis sedikit rezeki anak jalanan yang notabenya tidak mempunyai uang kecuali turun kejalan. Padahal dia bisa melakukan hal yang bersifat social, tapi tidak mengurangi keinginannya mencari teman di jalanan, bahkan membantu teman-temannya. Pengalaman saya bersama KRUCIL, kami mempunyai teman yang notabenya bukan “orang susah”. Dia hanya ingin tahu saja kehidupan dijalan dengan ikut ngamen bareng KRUCIL. Dan ada satu perbedaan antara dia dengan KRUCIL yang bisa dibilang Anak Jalanan “Murni”. Teman KRUCIL ini mencari uang bukan buat makan, tetapi untuk memenuhi keinginannya membeli barang yang disuka, entah itu narkoba, ataupun barang2 lainnya. Alasannya sama seperti Yudi, bila Ia minta sama orang tuanya, dia tidak akan dikasih. Karena orang tuanya mengetahui, bahwa Ia akan menggunakan uang itu bukan untuk hal2 yang menguntungkan, tapi cuma kenikmatan sesaat.

Buat bang Atwar, thanks dah ngasih ilmu baru. Saya jadi lebih tau akan kehidupan anak jalanan di luar lingkungan jalanan saya. Semoga ilmu ini bermanfaat buat saya dan orang lain, serta pesan-pesannya bisa menyadarkan orang yang selalu memandang sebelah mata kehidupan di jalanan.

Salam “keras” dari KRUCIL… barnas_krucil@yahoo.co.id KRUCIL





Kasus Ponari: Antara Anugrah dan Hak Anak

17 02 2009

Selasa, 10 Februari 2009 | 10:16 WIB Inilah fakta di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir kini menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Potongan berita itu dikutif dari Kompas on-line tentang praktek pedukunan seorang anak yang bernama Ponari. Fakta tentang keajaiban batu yang didapatkan sehabis disambar petir memang menjadi titik dari daya tarik orang-orang untuk meminta berkah kepada anak itu. Bagaimanapun secara kultural, penyembuhan melalui batu,  sebagai perantara atau media penyembuhan sudah dikenal sajak lama di Indonesia, termasuk di manapun. Tanpa peristiwa atau melalui  peristiwa, membesar-besarkan nilai kekeramatan batu selalu menjadi daya pikat orang untuk mempercayai batu sebagai media.

Bagi Ponari dan keluarganya mendapatkan batu berkah yang mampu menyembuhkan penyakit, tentu membawa perubahan. Dari yang tadinya tidak dipercaya orang menjadi diyakini, dari yang tadinya terpinggirkan menjadi tempat bergantung, dan konsekuensi lain, dari yang tadinya susah mencari uang sekarang uang datang sendiri. Tinggal seberapa mau dan tahan melayani kemauan ratusan bahkan ribuan orang antri menunggu tangan Ponari mencelupkan jarinya agar mendapatkan berkah.  Sebuah peluang yang sulit didapatkan oleh kebanyakan orang. Tidak jauh berbeda tentunya dengan seorang anak yang mampu menangkap binatang yang berbeda dari kelajiman atau langka kemudian mendapatkan uang sawer dari yang melihat, tentu sebuah kewajaran.

Namun masalahnya sekarang, terlepas dari praktek pedukunan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya, peristiwa ini menyangkut seorang anak dan batu yang menjadi media penyembuh dan pemberi berkah. Bisakah kita mengatakan identik fenomenanya dengan memajang seekor ular kemudian orang memberi sawer, memajang sepotong kayu dan memberikan uang receh, atau berdoa di depan batu pada malam Jum’at Kliwon kemudian penjaga memungut uang recehan. Argumen macam apapun tidak bisa diterima.

Melibatkan anak untuk mendapatkan atau mengais rejeki adalah intervensi. Menyuruh anak mencari dan mengemis adalah melanggar haknya. Serta membiarkan mereka lelah dan sakit untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa tentu tidak bisa dikatakan cara yang benar. Seluruhnya adalah eksploitasi atas hak-hak anak.

Mungkin kita harus berpikir bahwa sebenarnya kasus seperti ini adalah lazim. Mari kita pikirkan, mungkinkah sebenarnya kita juga mempraktekan hal yang sama dengan bungkus yang lain. Memaksa anak untuk memenuhi keinginan orang tua, jika anak memiliki kemampuan, biasa dalam kultur kita. Dalam kultur masyarakat paguyuban-agraris dan hegemonik, kuasa anak ada pada orang dewasa yang namanya orang tua. Orang tua maknanya bisa diperluas, paman, bibi, dan keluarga dekat lainya yang lebih dewasa biasa kita sebut orang tua. Mereka memiliki otoritas pada anak. Anak harus membantu dan menjadi bagian dari tenaga produksi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hakekatnya, itu dilakukan secara turun temurun. Namun sejauh itu dilakukan dalam kapasitas belajar, bermain, dan mendorong anak menentukan jalan hidupnya adalah sesuatu yang positif. Menyuruh anak dengan sedikit otoritatif untuk mengikuti perlombaan atau bekerja keras dalam belajar adalah pembelajaran. Menyertakan anak dalam proses seleksi dan audisi sebuah kontes idol, mungkin bagian dari arahan orang tua untuk membantu anak menyalurkan minatnya. Namun manakala menyuruh anak menandatangani kontrak kerja untuk sebuah produksi dan anak merasa tidak mampu itu harus dianggapa sebuah eksploitasi.

Pembatasan itu harus jelas manakala melihat hak anak dan perilaku eksploitatif orang tua. Memang orang tua di satu sisi memiliki otoritas, tetapi pada sisi yang lain potensi dan kemampuan anak harus menjadi pertimbangan. Mereka harus ditanya, mereka harus ditimbang kemampuannya, dan mereka kalau bisa terlibat dalam pengambilan keputusan. Memang rumit, tapi itulah yang harus ditempuh jika kita memang menginginkan kemaslahatan bagi anak.

Dalam kasus Ponari, semuanya harus berusaha untuk berpikir jernih. Tanya pada diri masing-masing, apakah kita sudah sewajarnya memperlakukan Ponari seperti itu? Menentengnya, menariknya ke sana-ke mari, dan  mungkin membiarkan dia kelelahan, tidakah itu eksploitatif? Betulkah uang yang dia kumpulkan akan menjadi bagian dari perjalanan tumbuh-kembangnya di masa yang akan datang? Tidakah juga kita tahu bahwa orang tuanya tidak setuju dan terjadi konflik kepentingan di antara orang dewasa di sekitarnya. Artinya ada muatan kepentingan orang dewasa untuk mengeksploitasi Ponari.  Jika demikian, masihkah kita akan mengatakan itu bagian dari berkah buat Ponari. Tidakah itu bukti dari “keserakahan” orang-orang dewasa disekitarnya untuk menarik keuntungan dari anak yang namanya Ponari.





Lagu Renungan di Bulan-bulan Terakhir

1 02 2009

Melatiku
Iwan Abdurrahman

Ini kisah tentang sekuntum bunga
Terputih dari yang putih
Yang daunya hijau di musim kering
Kemilau disinar surya

Dan bila musim bunga tiba
Melati berseri
Putih dan sejuk, bening berseri
Bergetaran di sudut hati

Ini kisah tentang sekuntum bunga
Terputih dari yang putih
Yang daunya hijau di musim kering
Kemilau disinar surya

Gubuk Sunyi
Iwan Adurrahman

Gubuk sunyi di pinggir danau
Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja
Yang juga nakal meraba-raba
Ujung bunga rerumputan

Lagu alam memang sunyi, sayang…
Apalagi sore ini
Sore ini sore Sabtu, sore biasa kita berdua
Membelai mentari senja, diujung jalan Bandung Utara

Mentarinya yang ini juga, sayang…
Cuma jarak yang memisah kita
1000 mil lebih sedepa
seribumilpun lebih sedepa

Lagu alam memang sunyi
Lagi pula bukan puisi
Cuma bahana yang diam-diam
Lalu bangkit dari dalam hati

Lagu alam memang sunyi, sayang…
Ini jarak yang memisah kita
Seribumil lebih sedepa
Seribumilpun lebih sedepa

Gubuk sunyi di pinggir danau…..hem hem..hem hem

Note:
Lagu yang mengingatkan perjalanan dalam keseharian pekerjaan di tahun-tahun terakhir.
Terimakasih Bah Iwan lagunya