Mereka Mengumpulkan Uang untuk Biaya Sekolah

12 11 2008

Obrolan dengan Anak-anak Pengamen Kota Cirebon

Bermain peran adalah bagian dari kehidupan sosial individu dalam masyarakat. Seperti yang dituliskan oleh Erving Goffman tentang Dramaturgis, setiap individu selalu manata atau memanage front stage dan back stage mereka. Maner yang ditampilkan senantiasa ada kesenjangan antara maner di ruang publik dan ruang-ruang privat mereka. Tentu dari hal itu yang diharapkan adalah sosialisasi yang dikembangkan individu bisa berhasil dan diterima orang lain. Semua individu melakukan itu, masing-masing memiliki gaya dalam menata maner mereka.

Demikian halnya dengan anak-anak pengamen, ternyata di balik kelusuhan, kebersahajaan, dan ethos yang dibangun di jalan mereka membawa peran yang lain yang harus mereka mainkan. Kesibukan mereka turun ke jalan dan menjadi anak jalanan dengan gaya dan tata kelola peran sebagai anak jalanan, mereka memainkan peran yang lain. Manakala masuk lingkungan sekolah mereka adalah pelajar dan sekaligus bertaggung jawab dengan seluruh kewajiban termasuk biaya sekolah. Bisa ditangkap maknanya, mereka turun mengamen dan uangnya untuk sekolah.

Ketika mengobrol dengan anak-anak dengan peran demikian, ternyata mereka memiliki pendapat bahwa mereka turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Motif dasarnya adalah mengumpulkan uang dalam rangka bertanggung jawab untuk menutupi sebagian kebutuhan keuangan sekolah mereka. Bagi mereka menjadi anak jalanan tidak harus terlepas dari sekolah, walaupun mereka menjalaninya dengan keadaan yang cukup sulit, seperti masalah waktusekolah yang berbenturan dengan jam belajar, bertemu dengan guru, dan diledek teman sekolah.

Anak-anak Pengamen Kota CirebonSugeng Sarif yang biasa dipanggil Gepeng, merupakan salah satu anak yang termasuk pengamen dan pelajar. Sugeng tercata sebagai siswa kelas 10 SMAN 7 Kota Cirebon pada saat obrolan dilakukan. Sugeng berpendapat bahwa ekonomi keluarga menjadi alasan utama untuk membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk sekolah. Di bandingkan dengan pengemen lain, Sugeng tampak lebih terpelajar, bahkan mampu menyelesaikan sekolah pada saat pertemuan terakhir dengan dirinya. Menurut Sugeng, dirinya mengamen: “Karena kehidupan ekonomi Pak, ya tidak mencukupi Pa. Orang tua mah ngak kerja, jualan Pa. Ibu, ibu rumah tangga, kalau Bapak Jualan di Lemah Wungkuk. Jualannya beli barang bekas, ya alat-alat sepeda.”

Sugeng menyebutkan, dengan mengamen dirinya menutupi kebutuhan sekolah yang tidak cukup dipenuhi oleh orang tuanya. Keberadaan di jalan tidak semata-mata bermain tetapi berusaha memecahkan kebutuhan ongkos sekolah yang tidak memadai. Seperti dikatakannya; “Sering ngamen ya kehidupan ekonomi, kalau sekolah paling sangunya lima ribu, itu uang dari mana…ya dari hasil ngamen. Saya ngamen Cuma buat sangu sekolah, makan, itu aja.”

Walaupun di samping itu juga dia memiliki alasan tambahan tatkala turun ke jalan. “Bisa tempat cari uang Pa, di jalan tuh bisa apa aja. Bisa cari uang, terus nambah pengetahuan daerah-daerah, ya pengetahuan daerah. Lingkungan…. senengnya berpindah-pindah tempat, kampung ini, kampung ini.”

Sugeng termasuk anak yang teliti dan pandai memanfaatkan penghasilan, hal itu disampaikan oleh teman-temannya. Misalnya, dari hasil mengamen selain mampu menambah uang sangu sekolah juga dirinya mampu membeli perlengkapan komunikasi seperti telepon mobile atau handphone. Dimana hal itu tidak dapat dilakukan oleh sebagain besar teman-teman ngamen lainnya.

Walaupun demikian seringkali aktivitas mengamen yang dijalankan bertubrukan dengan peran diri sebagai murid sekolah. Seperti diketahui sebagai anak sekolah Sugeng harus rajin berangkat sekolah tiap hari dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah itu. Akibatnya, karena desakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, meninggalkan sekolah adalah lebih baik dari pada tidak mendapatkan uang. Hal lain yang dia rasakan dalam benturan antara sekolah dengan aktivitas jalanan adalah bertemu dengan guru sekolah pada saat dia mengamen. Sugeng lebih suka menghindar dan teman-temanya yang mengutip uang.

“Ya malu aja ketemu temen sekolah, kalo temen sendirimah engak, malu ama temen sekolah aja. Kalo ketemu guru dan temen sekolah itu ada rasa malu aja. Kadang lagi masuk ke pecel, lihat guru, gurunya lagi makan, langsung lari. Tapi kalo lagi ngamen diminta aja, jaluk duitnya aja, tapi temen yang minta, sayanya ngumpet. Buat ngak keliatan ngamennya pake switer, nutup muka.”

Memainkan peran berbagi antara sebagai anak sekolah dan anak-anak jalanan adalah hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh Sugeng, juga dilakukan oleh Kipli. Walaupun dalam hal hasil mengamen, Kipli lebih senang menyerahkannya kepada orang tua. Dalam pikiran anak tersebut uang itu ditabung pada ibunya dan digunakan bagi kepentingan dirinya seperti biaya untuk membeli pakaian atau baju. Jerih payah hasil mayung pejalan kaki waktu hujan adalah pekerjaan rutin pada saat musim hujan. Sedangkan pada hari-hari biasa ia bekerja mengamen ala kadarnya, karena kemampuan mengamennya terbatas. Kipli hanya mampu memainkan dua sampai tiga lagu saja. “Nyari uang…mayungin kalo ujan, kalo ngak ujan ya ngamen pake gitar, lagunya Ungu Sesungguhnya manusia di Jalan jamblang deket parkiran.

Kipli (12) yang sehari-harinya nongkrong di Grage Mall Cirebon, tidak sepenuhnya menghabiskan waktu di jalanan. Hanya kurang empat jam sehari turun ke jalan. Namun pada hari-hari tertentu seperti libur dan Minggu waktunya habis digunakan di jalan dan nongkrong di Grage Mall. Ngamen, ojek payung, dan jualan kantong kresek dia lakukan untuk mendapatkan uang sekolah yang ditabung orang tuanya. Walaupun sanggahnya dia tidak membayar biaya sekolah karena iuran sekolah untak anak Sekolah Dasar sudah dibebaskan melalui dana BOS yang berlaku untuk pendidikan dasar. Dalam hal ini Kipli menyebutkan bahwa: “Duitnya dikasih semua sama Ibu, buat di tabung lebaran, karena sekolah ngak bayar

Anak jalanan ketiga yang memiliki status sebagai pelajar dan turun ke jalan adalah Yuda. Yang biasa dipanggil Narji oleh teman-temannya. Yuda masih sekolah kelas tiga di SMA Gracika Kota Cirebon. Pengamen yang sekolah, tetapi tidak berarti mengamen untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Bagi Yuda kebutuhan dasar sebagai anak dan kebutuhan lainnya sudah terpenuhi, bahkan orang tuanya memberinya sebuah sepeda motor. Namun demikian dia turun menjadi anak jalanan dengan motif yang berbeda dan unik dari teman-teman lainnya. Bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar tetapi untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan menambah koalisi pertemanan dengan anak-anak. Bahkan mungkin dirinya lebih banyak karena terbawa kebiasaan anak-anak di sekitarnya. Dalam hal ini Yuda adalah kasus anak yang potensial menjadi anak jalanan penuh karena terbiasa berkelompok dengan anak-anak jalanan. Saat obrolan berlangsung, waktu yang Dia habiskan di jalan pada saat pulang sekolah sore hari dan malam hari, serta sehari penuh pada saat libur hari minggu.

Niat mengamen ke jalan hanya sekedar belajar mencari uang untuk makan sendiri. Misalnya, Yuda mengatakan bahwa ngamen di jalan sekedar iseng-iseng atau itung-itung. Itung-itung dalam bahasa daerah Cirebon artinya sekedar melakukan. Lengkapnya dia mengatakan, “Itung-itung nyari uang aja buat makan sehari-hari. Padahal orang tuanya tidak mengharapkan turun ke jalan, bahkan mereka melarang keras anaknya turun mengamen. Mengapa demikian? Orang tuanya mampu memenuhi kebutuhan seahari-hari termasuk uang sekolah dan kebutuhan lainnya, menurut pengakuan Yuda.

Kapan anak jalanan seperti ini mengamen? Menurutnya mengamen saat dia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, seperti keinginan membeli sepotong pakean kemudian meminjam kepada teman pengamen. Pembayaran dilakukan setelah dia mendapatkan uang dari hasil mengamen, karena meminta kepada orang tua tidak dipenuhi.

Iseng-iseng mungkin lah bisa, tapi kalo Yuda tuh pa, kalo ngamen tuh ada perlunya aja, misalny kalo Yuda punya utang ke temen, jadi harus ngamen, soalne apa? Pikirane kalo Yuda minta ke orang tua ngak bakalan di kasih Pa.

Simak pula potongan wawancara dengan ketika ditelusuri lebih jauh tentang kebiasaan meminjam uang kepada pengamen yang lain:

Penulis

:

Kamu kan secara keuangan ngak punya masalah, ngak kayak temen kamu. Kenapa kamu turun ke jalan?

Anak Jalanan

:

Tapi sewaktu Yuda lagi ada utang ama temen tuh, pas udah kepaksa Pa

Penulis

:

Utang untuk apa kamu?

Anak Jalanan

:

Yuda pengen baju pisan. Ngak milie duit sih Ngak, buat beli baju. Milie duit pisan dikit, Isun misale ngamen dikit, kuwen gampang tak genti’i, dine kiyen. Minjem ke Nengak, sedine jumlahnya…Ngak bayarnya kikis sini ngamen dikit. Ngamen dapet bayarin ke Ngak..gitu.

Memainkan peran sebagai anak sekolah dan sekaligus anak jalanan bagi Yuda, bukan semata-mata peran diri yang memenuhi kebutuhan pribadi sebagai anak sekolah. Tetapi sekaligus peran ganda yang memainkan peran anak jalanan dengan kehidupa yang berbeda dengan anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang normal. Buktinya, Yuda biasa mengkonsumsi minuman keras dan obat yang dipakai di kalangan anak jalanan. Walupun dalam hal mengamen dia mengaku tidak pernah melakukan tindakan kriminal.

Seneng sih di jalan. Tapi apa gitu..ngak terlalu mencolok gitu..ngak kebawa-bawa yang negatif. Ngak pernah. Maksudnya cara-cara ngamen di jalan tuh ngak sering nyolong inilah, nyolong itulah. Ngak ke bawa-bawa kriminal gitulah.[1]

Sedangkan yang dimaksudkan senang berada di jalan, berkaitan dengan kehadiran teman bagi dirinya. Di mana kondisi tersebut tidak ia dapatkan dalam lingkungan di sekitar rumahnya.

Ya ngumpul sama temen-temen gitu, di jalan tuh lebih enak gitu, ketibang di dalam kempung tuh, lebih enak di jalan…..Maen gitar, bareng-bareng…kayak ngamen gitu aja.

Begitulah mereka bermain peran, sebagai pengamen dengan berbagai resiko interaksi jalanan dan sebagai pelajar yang harus berperan selayaknya pelajar. Begitu kompleks peran mereka, antara tuntutan peran pengamen sebagai kelompok devian dari anak-anak dan peran ideal sebagai pelajar. Tetapi mengapa mereka bisa memainkannya, bahkan beberapa di antara anak-anak itu sekarang sudah lulus pendidikan menengah dan berusaha mencari kerja dengan cara yang lain.

Mereka “mematahkan” mitos bahwa lingkungan yang kurang kondusif membentuk individu dengan tanggung jawab yang rendah. Mudah-mudahan tidak, setidaknya mereka masih memikirkan bangku sekolah, walaupun tidak mendekati peran ideal sebagai pelajar yang baik. Tetapi dengan pilihan yang sulit mereka memilih yang terbaik….hidup selalu ada pilihan yang terbaik di antara gangguan dan godaan pilihan tidak baik.”






Kenapa Framing Media terhadap Syekh yang Menikahi Ulfa tidak Berimbang?

28 10 2008

Dalam Islam seorang laki-laki dihalalkan menikah lebih dari satu. Tidak bisa dibantah, agama memperbolehkannya, dan terutama kaum laki-laki banyak yang mengamalkan sunnah itu sebagaimana Rasul juga melakukan poligami. Namun tentu sudah mafhum bahwa pernikahan itu tidak menimbulkan fitnah dan konflik di antara kerabat dan lingkungan kita, atau anggaplah bahwa pernikahan yang dilakukan untuk yang kedua, ketiga dan atu keempat membawa berkah dan mengedepankan nilai ibadah.

Manakala minggu-minggu ini kita dihebohkan dengan pernikahan seorang ”syekh” dengan gadis belia untuk istrinya yang kedua, bukan lagi sikap  mafhum, tetapi aneh, nyeleneh, dan bertanya maunya apa. Beberapa kali menyimak alasan sang Syekh mengenai motif yang ada dalam dirinya, tetap jauh dari penjelasan memuaskan. Walaupun secara pribadi reaksi emosional pribadi mengatakan bahwa emosi dikonstruksi oleh media yang mencuplik dan memotong sebagian komentar dari para aktor. Akhirnya, seperti juga reaksi kita pada isu media, cenderung dominan dikonstruksi seperti yang diinginkan media. Kita melihat Syekh sbagai tokoh ”si jahat” dan ”si baik” Ulfa sebagai ”princes” yang sedang berada dalam cengkramanan tokoh ”si jahat” itu.

Saat ini, media yang sedang memberitakan kehebohan ceritra tersebut sedang memuaskan pemirsa dengan cerita dari ”si jahat” dengan perangai buruk rupa dan ”si baik” dengan kepolosan dan kecantikannya. Pemirsa disuguhi dongeng klasik layaknya dalam film-film yang mengisahkan pemaksaan orang tua dengan kepentingan ekonomi dan ”si jahat” dengan kekuasaan untuk membangun ceritra yang lama itu. Itu realitas yang tetap dominan ada dalam alur cerita seperti ini. Walaupun biasanya dalam film klasik akan diselesaikan dengan kehadiran ”sang Pangeran” untuk menyelesaikan masalah.

Dalam ceritra kita kali ini, mungkin bakal tidak ada yang namanya ”sang pangeran” yang bisa menolong, dan ada kemungkinan media akan ”kecapean” merekonstruksi cerita, semuanya akan kembali kepada keheningan. Keheningan sebagaimana kalahnya kaum terpinggirkan yaitu perempuan yang lemah dan tidak tau berperan apa dalam cerita kita sekarang ini.

Bisakah kita bayangkan bahwa Ulfa yang polos itu tidak mengerti dengan cerita dan reaksi media, opini tokoh-tokoh perlindungan anak, dan pendapat Majlis Ulama Indonesia? Mungkinkah dia berpikir, kenapa saya tidak boleh menikah dengan tokoh dan orang kaya? Kenapa saya tidak boleh mendapatkan kesenangan dari pernikahan saya? Toh saya sudah mencapai akil baligh? Ini hanya sekedar pertanyaan imajiner saya ketika melihat media membenamkan sosok gender dalam alur konstruksi cerita media. Media hanya sedikit memberi ruang publik kepada perempuan dalam alur cerita mereka, mereka tidak berani menginvestigasi seorang Ulfa, temanya Ulfa yang perempuan, atau seorang anak perempuan yang diluar kasus itu jumlahnya ratusan seperti yang terjadi di wilayah lain. Mau lebih nyata? Tengok atau telusuri alur ceritra semodel Ulfa yang ada di wilayah jalur Pantura. Mereka dinikahkan semuda mungkin agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi ketika mereka memasuki dunia sebagai pekerja seks di bawa umur.

Framing media terhadap kasus dengan hanya mengedepankan sudut pandang ”kepentingan laki-laki”, sudah menjadi lebel jualan media. Cenderung tidak adil pada pihak yang tidak berdaya, dan seolah mengedepankan kepentingan publik pada hal realitas ”kaum laki-laki” pemiliki kekuatan.

Dalam kasus seperti ini, framing media hakekatnya dapat diperluas atau dibuka untuk melihat kacamata atau sudut pandang lain. Dalam hal ini perempuan atau seorang anak perempuan yang menurut perlindungan anak masih memiliki hak dilindungi dan diadvokasi sebagai anak; bermain, bersekolah, bergaul, dan membangun karakter peran sosial yang lebih besar. Framing media harus berpihak secara seimbang pada sosok anak perempuan yang diceritakan dalam alur cerita yang dibangun. Walaupun media mengalami kesulitan mendapatkan informasi dari Ulfa, kenapa tidak didorong kasus-kasus anak yang lain atau mantan anak-anak lain yang sekarang sudah dewasa untuk mendongengkan cerita mereka kepada publik. Tengok data terakhir korban trafiking dan pekerja seks yang dinikahkan lebih dulu, memulai tragedi itu pada saat mereka sedang anak-anak. Hakekaktnya media harus bersedia berbagi ceritra dan mengkonstruksi cerita dari kepentingan gender yang seimbang. Mari kita sadari itu sebagai ketidakadilan yang selalu dominan dari kepentingan media secara sepihak. Kita bukan pemirsa inferior, tetapi selalu bertanya atas cerita yang mereka bagikan kepada kita. Bukan berarti pembawa acaranya perempuan lantas sudah adil secara gender dalam framing media.

 

 

 





The Communication Networking on Advocation and Facilitating for Children Welfare and Protection

19 04 2008

(ATWAR BAJARI)**

The aim of determining regulations for children welfare and protection (CWP) is to create the best of effort in giving a better future for children. Children who are successful in social economy, who have sensitivity towards other people needs and proud of their achievement, will be the bright part of the family life, especially for the parents who are getting old. However, that ideal condition, especially in Indonesia, is still too good to be true.

In West Java area, 2002, several distressing cases on special protection and advocation for children have emerged. Those cases include the finding of some children breaking various kinds of rules, the increased number of children convicts and prisoners based on court decision, the high percentage of working children or children who are forced to work in various of sectors, the increasing number of schoolchildren as drug abuse victims, whether using narcotic, psychotropic, or addictive substances, and the increase number of HIV (+) newborn suspected to have been infected by the disease through the HIV (+) mother placenta (LAHA, 2002)

Looking back to those cases emphasized the importance of the efforts in protecting children’s right which, aside for making legal rules for the issue followed by continuous development program starting from the central government through the local one, still need specific care. Socialization and advocation on the children’s welfare and protection of their rights are the urgent effort to make this issue to be well assimilated, understood, and paid attention for by all parties including the legislative, executive, local government, NGO, pertaining offices and organization up to the parents. This effort can only be successful if there is socialization aimed to strengthen communication networking formally and informally.

In order to perform CWP advocation in a form of organization and government policy, there are several steps needed to be taken. The first is trying to identify the pertaining organizations in developing CWP. Those organizations as the knots will describe the communication and information network of CWP stakeholder on the CWP issue and the third is by trying to suggest a coordination management model in a form of communication network and CWP development interaction and the form of communication for socialization form that is performable.

====

*) Kajian dilakukan atas sponsor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Republik Indonesia

**) Disajikan dalam Sminar Kebudayaan Indonesia-Malaysia, Kuala Lumpur, 30 Mei 2007