Anak Jalanan “Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang”

10 06 2012

Penulis: Dr. Atwar Bajari
Pengantar:

Prof. H. deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad)

Dr., Drg. Nina Justiana (Ketua PSW Unpad)

Penerbit: Humaniora
Bandung Mei 2012

Dalam keunikannya, seorang anak jalanan memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi anak normal mengenai hubungan dengan orang dewasa, tanggung jawab terhadap keluarga dan saudaranya, hubungan dengan lawan jenis, uang, dan kepercayaan pada agama.
Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.
Perbedaan kondisi dan keadaan tersebut, mengakibatkan anak jalanan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan dengan anak yang hidup dalam lingkungan standar pada umumnya dalam melihat lingkungan sekitar. Misalnya mereka beranggapan bahwa lingkungan itu lebih keras, berat, dan pengaturannya sangat tergantung dari diri mereka sendiri. Jika mereka berusaha dengan keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Lingkungan merupakan salah satu konstruk budaya dalam pembentukan makna anak jalanan. Lingkungan kumuh, ketiadaan bimbingan orangtua, dan tindakan kasar, cenderung membentuk watak yang pasif, inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif, agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. Dalam kondisi demikian, tata nilai yang ditanamkan akan sulit karena oto-aktivitas, rasa percaya diri, pengandalan diri sendiri hampir punah, hingga timbul mental ”primitif” dan ”sindrom kemiskinan” .
Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui sitmulasi tindakan kekerasan yang terus menerus, akan membentuk sebuah nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Buku ini memaparkan peta kondisi anak jalanan berdasarkan teropong riset kualitatif fenomenologi. Garis besar pembahasan pada sudut pandang atau perspektif komunikasi secara mikro. Walaupun  pendekatan sosiologis turut mewarnai kajian yang dilakukan.

 





MENYENTUH KOMUNIKASI DI AKAR RUMPUT

29 12 2008

Refleksi Perjalanan Komunikasi Arus Bawah

When we are stupid, we really want the other people.
But when we are wise, we want to control ourselves.

You need all the changes, Unified, move, and finished it. (Disadur dari Rhenald Kasali, 2007)

I. Ruang Publik Media: Habis untuk Wacana Politik dan Selebritis

anjal-cirebon1

Energi komunikasi kita, saat ini lebih banyak digunakan untuk membedah isu-isu kontemporer, entah itu bersumber dari televisi atau obrolan gosip yang juga asal usulnya mungkin dari media massa. Mulai dari perceraian artis sampai pencalonan artis dalam bursa legislatif maupun eksekutif. Rasanya dunia ini begitu sempit dengan wacana komunikasi dari “itu ke itu”. Bahkan kalau mau ditelusuri dalam berbagai rujukan penelitian di tingkat perguruan tinggi sekalipun (minimal dalam lingkungan saya) rasa-rasanya wacana dalam skripsi dan thesis mahasiswa kajian tentang itu mendapatkan porsi yang cukup besar. Mahasiswa menyukai isu penelitian sekitar personal marketing dari seorang selebritis, semiotika pada simbol wacana dominan TV seperti iklan dan telenovela, serta kesukaan mengutaik-ngatik dramaturgis dari perilaku seorang tokoh kalangan tertentu yang hanya memiliki kepentingan dengan pihak tertentu juga.

Bukan tidak penting atau bahkan mau dikatakan mubazir. Tetapi cobalah kita juga menghabiskan energi komunikasi kita untuk menengok dan masuk dalam arus komunikasi, atau katakanlah saya juga ingin menyebut lingkaran-lingkaran komunikasi, yang lain yang tidak terekspos oleh media. Ada lingkaran-lingkaran komunikasi lain, yang unik, dan membutuhkan sentuhan-sentuhan untuk perubahan. Sekecil apapun dan sesulit apapun.

Namun, hakekatnya kita harus rela untuk tidak membungkus pesan-pesan komunikasi kita dengan muatan-muatan politis, memelihara status-quo, dan konspirasi yang berusaha memanfaatkan. Apalagi akhir-akhir ini kita dihadapkan pada selebrasi pemajangan gambar, slogan dan foto dari orang-orang yang memiliki kepentingan politis. Mereka tersenyum, bersolek, dan menyampaikan pesan verbal yang menjanjikan, Tapi kita tidak tahu siapa dan dari mana mereka. Kita hanya tahu maunya mereka saja, dan wallahu a’lam, tahukah mereka kepentingan kita?

Jadi kalau demikian, kondisi yang bagaimana agar komunikasi kita jujur, memihak pada orang-orang yang teralienasi, yang tidak selalu dikaitkan denga konspirasi, atau apalagi sampai berusaha membungkus keburukan perilaku birokrasi, atau politis seseorang atau sekelompok orang?

Memang, mencari bentuk dan terobosan yang senantiasa diam dalam kelompok tersembunyi atau tidak tersentuh (silent) selalu tidak populer. Selalu dianggap mengerjakan sesuatu yang tidak akan selesai, kultur yang stagnan, atau residu dari sebuah proses perubahan sosial yang seharusnya dibuang di tempat “daur ulang.” Katakanlah, menangani gelandangan dan pengemis dengan berbagai program stimulasi macam apapun tidak akan menyelesaikan masalah pengemis, karena mereka menikmati dirinya berada dalam circumstance seperti itu, mereka adalah residu dari kelompok-kelompok orang yang tidak mampu berkompetisi dengan manusia lainnya. Jadilah mereka mengemis, mencari uang dari sektor yang tidak produktif. Demikian juga, menertibkan rumah kumuh untuk tata kota dengan paksa lebih efektif ketimbang “menyuluhi” mereka, yang belum tentu hasilnya. Mengejar-ngejar anak jalanan agar mereka ke rumah keluarga atau rumah perlindungan anak, atau bahkan menempatkan mereka di bangku sekolah sekalipun, tidak akan menggerakan mereka manjadi murid yang baik. Tetap saja kembali ke jalalan dan berkeliaran. Hidup di jalanan menyenangkan, dapat uang, nengak minuman keras sepuasnya, mendapatkan pengalaman seksual sedini mungkin, ngopi sampai pagi, dan tidak ada aturan standar. Itu membuat mereka “menemukan” dan “menjadi” individu yang memiliki otoritas, otonomi pada sumber daya di jalanan, dan memiliki mitos-mitos personal dan kelompok atas nilai-nilai yang juga dibangun dari jalanan.

Tapi masalahnya, bagaimana kalau kita biarkan jumlahnya semakin bertambah? Tidak perduli, dan kita sendiri egois dengan lebih senang memperbincangkan wacana komunikasi pada gaya hidup yang tidak kita miliki, gaya hidup yang sebenarnya juga tidak akan tersentuh, dan tali-temali komunikasi yang jauh dari realitas kita. Tidakah kita bisa memilih? Tidakah kita lebih baik menyentuh dunia yang dekat, dengan tenaga sedikit, dengan waktu yang tersisa, berbagi dengan mereka tentang apapun (positif tentunya). Bentuk-bentuk yang jamak di antaranya; mengenai yang produktif (life skill) untuk kehidupan, tentang kepekaan memilih peluang (soft skill) untuk usaha dan tentang nilai-nilai-nilai atau prinsip yang baik dan tidak baik menurut norma-norma yang menjadi standar yang berguna untuk bemasyarakat dan memelihara hubungan dengan yang Maha Kuasa.

II. Mereka Membutuhkan Sentuhan Komunikasi Spesifk

pelatihan-santri

Memasuki dunia kaum pinggiran, dunia yang jauh dari hingar bingar komunikasi hegemonis, dikuasai pasar, dan konspiratif, memang tidak mudah. Bahkan dengan niat baik apapun rasa curiga atau prasangka senantiasa muncul. Mungkin juga tidak salah, karena kita dibiasakan dengan komunikasi yang konspiratif, mendahulukan apa yang akan diterima, materialistis, dan cenderung memanfaatkan mereka yang hidup dipinggirkan untuk dukungan masal (kampanye politik misalnya, yang hanya dibayar 5 ribu-10 ribu agar ikut kampanye). Merupakan kesulitan tersendiri.

Upaya membangun minat dengan mendekatkan kepentingan “kita” dan “mereka” menjadi sebuah “pekerjaan bersama” adalah upaya mendekatkan komunikasi dengan mereka. Jika sudah demikian, upaya membuat bersama untuk berubah dengan itroduksi program secara “konspiratif” dalam makna untuk menggantikan kata partisipatif yang sudah usang, akan lebih kena untuk dilakukan.

Sebuah pengalaman yang tidak diduga, misalnya anak jalanan meminta diajari pidato, karena membutuhkan “improvement” kemampuan bicara saat mau ngamen, telah menjadi pekerjaan dengan tantangan sendiri, belajar nyablon bagi para santri di sebuah kampung nun jauh dari keramaian kota dan hingar-bingar media promosi modern menjadi sebuah semangat untuk diberikan kepada mereka. Bahkan permintaan membuat disain visual dengan software canggih tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk kegiatan publikasi di lingkungan sebuah pesantren. Dan satu lagi, ibu-ibu rumah tangga di desa terpencil yang biasa membantu suaminya di kebun di samping mengerjakan urusan rumah tangga, menjadi antusias manakala diajarkan komunikasi efektif antara suami-istri-anak. Mereka diskusi kelompok tentang kerumitan-kerumitan komunikasi dalam keluarga.

Kadang menimbulkan kebingungan sendiri, mengapa mereka seantusias itu? Apakah mereka juga ingin seperti masayarakat dengan IT di perkotaan di mana masyarakatnya dengan penuh gaya bahasa manakala tampil di depan publik. Pengamen ingin pintar pidato padahal mereka hanya sekedar menyampaikan salam di dekat pengemudi bis atau orang di jalan kala sedang menyantap jajanan  Perlukah pidato dahulu agar mengamen dengan baik? Kalau mereka meminta artinya penting, artinya diperlukan. Toh pengetahuan yang dibutuhkan untuk perubahan adalah pengetahuan yang dibutuhkan oleh publik. Digunakan user secara bermanfaat. Barangkali itu sentuhan-sentuhan komunikasi yang harus dikerjakan agar mereka juga “menjadi” bagian dari masyarakat dengan gaya komunikasi promotif, IT oriented dan masyarakat yang mengeksplorasi kemampuan berkomunikasi sepenuhnya untuk kepentingan kemaslahatan keluarganya.

Manakala sudah menjadi demikian, semuanya sudah mendekat dan kepentingan bersama didapatkan. Kerinduan-kerinduan bergabung dengan komunitas yang disebut residual, komunitas terpinggirkan sebagai perubahan dan modernisme, senantiasa muncul setiap saat. Seseorang akan semakin peka secara empati sosial, dan mereka semuanya tidak perlu diminta untuk bergerak atau dikejar-kejar semau kita. Mereka sendiri tahu kepentingan yang dirasakan. Tahu pergerakan harus dimuaai dari mana mau ke mana, dan tahu rambu-rambu mana yang tidak boleh dilanggar.

Namun demikian, semuanya memang tidak mudah. Kadang perencana sulit menentukan harus memulai dari mana dan mau ke mana. Jikapun sudah masuk dalam proses, jangan lupa tidak terbawa menjadi lebih jauh. Peka dan empatetis pada kepentingan subyek, juga ditambah peka terhadap kepentingan atau mision pribadi. Kita adalah bagian yang membantu mereka, dan harus segera memutuskan untuk menghentikan bantuan manakala mereka mandiri dan sudah tahu arah tujuan yang diinginkan mereka. Mereka tetap harus membawakan dirinya.

III. Membangunkan Apa yang Mereka Inginkan,dan Menyadarkan Apa yang Baik

Hampir selalu dirujuk dalam komunikasi untuk perubahan partisipatif, bahwa perubahan dalam perencanaan sosial yang berhasil adalah didasari keinginan mereka, katakanlah dalam hal ini masyarakat pinggiran, masyarakat yang tidak tersentuh dan juga miskin. Namun demikian sebagian besar perubahan selalu gagal dalam menghadapi kendala seperti ini. Pertanyaan besarnya menurut Diana Conyers (1994), “Apakah mereka (masyarakat) tahu apa yang mereka butuhkan?” “Apakah mereka tahu apa yang baik menurut mereka?”, dan mungkin juga menurut common sense saya “Apakah mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik bagi mereka?” Pernahkah anda melihat seorang anak jalanan menengak sembilan butir pil “destron” (dalam kamus perbedaharaan obat-obatan mereka) sekaligus? Mungkin akan menyedihkan melihat anak umur sembilan tahun merasakan akibatnya. Tapi katanya mereka suka, menyenangkan, dan bagian dari prestise di dapan kelompok.

Hal ini memang masalah yang tidak mudah dalam bagian perubahan untuk masayarakat pinggiran. Rata-rata bukan tidak tahu, tapi harus bagaimana. Sementara di lain pihak pengambil kebijakan lebih melihat pada kepentingan makro, serba cepat, dan menyelesaikan masalah dari muara bukan hilirnya. Lebih baik membongkar lapak dan rumah liar di bandingkan meningkatkan anggaran perumahan rakyat sederhana, lebih baik mengejar-ngejar anak jalanan untuk dimasukan ke dalam panti ketimbang menambah biaya atau anggaran pendidikan dasar dan menyediakan padat karya bagi orang tua mereka.

Oleh karena itu, setiap kita memiliki niat untuk “bersama” dengan mereka, maka harus menyiapkan diri dalam menerima kenyataan bahwa skala prioritas mereka mungkin sangat berbeda dari kenyataan skala prioritas yang dimiliki oleh kita. Walaupun kita sudah berusaha menjelaskan kepada mereka. Hal yang harus ditanggung, sentuhan-sentuhan komunikasi kita dengan mereka adalah membuka ruang-ruang privat atau agenda “perencana” menjadi penting agar diketahui mereka, hal ini akan menstimulasi bahwa mereka semakin tahu prioritas kita. Sementara di lain pihak peningkatan empatetis kita juga akan semakin masuk pada keinginan dan agenda privat mereka. Percayalah bahwa kemampuan saling membuka diri adalah awal yang baik untuk sharing dan dialog, dan terciptanya dialog adalah awal yang tepat untuk membangun kepentingan bersama. Dan dari sanalah hasil perubahan dan resikonya senantiasa memunculkan kebanggaan dan tanggung jawab bersama.

Wassalam

Perenungan Hasil Perjalanan Pengabdian Masyarakat Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Di Tasikmalaya, Desember 2008 dan Pelampiasan Rasa Kangen Pada Anak-anak Jalanan, Cirebon Juli-September 2008.





The Little Media: Keunggulan Media Kecil untuk Mendorong Sikap Kelompok

24 10 2008

 

Pendahuluan

 

Konteks penggunaan media sebagai alat bantu komunikasi tidak selalu berkonotasi komunikasi modern dan canggih seperti media massa (Big Media). Mulai dari jaman  pra-sejarah, manusia sudah memanfaatkan pasir atau dinding gua untuk menggambarkan  suatu kepercayaan, asap dan bunyi tong- tong atau bedug untuk tanda kejadian atau peristiwa. Kemudian pada jaman raja-raja; mulai digunakan batu untuk prasasti, lukisan atau tulisan pada dinding candi, dan kayu atau daun lontar untuk menuliskan kepercayaan atau ajaran  dari para empu. Dalam konteks membangun partipasi kelompok dan pemberdayaan, media kecil, seperti klasifikasi dari Schramm, media kecil menjadi lebih berdaya guna.

           

A. Mengapa Menggunakan Media Kecil?

 

Dari keanekaragaman jenis dan kemampuan media komunikasi, yang menjadi pokok perhatian utama dalam pemanfaatan media untuk komunikasi, adalah sejauhmana media yang bersangkutan medukung tujuan komunikasi?  Secara umum, media komunikasi membantu dalam menambah minat, variasi, dan dampak, serta pesan yang disajikan cenderung lebih lama melekat dalam memori khalayak. Misalnya dikemukakan oleh Cothran dalam Curtis, dkk. (1996) bahwa, media visual meningkatkan pemahaman sampai 200% dalam pengajaran kelompok, meningkatkan daya ingat anggota pseserta belajar sekitar 14-38%, dan efisiensi waktu yang diperlukan sampai 40% untuk menjelaskan konsep tunggal dalam presentasi bisnis.

Beberapa hasil penelitian tentang kemampuan media yang dikumpulkan oleh Schramm (1984), memberikan bukti-bukti bahwa:

  • Kombinasi  media audio visual memberikan hasil yang jauh lebih besar dalam mempengaruhi  khalayak.
  • Penggunaan gambar hidup memberikan   hasil 26% lebih tinggi dalam tes mengenai materi yang disajikan,   khalayak yang belajar hanya lewat peta, model, gambar, dan karya wisata.
  • Presentasi dengan  menggunakan   kombinasi pengajaran berprog- ram, film bicara, tape slide, dan tape latihan (multi media), memberikan hasil belajar yang signifikan dari pada belajar lewat bantuan seorang guru.

Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan komunikasi  bermedia atau multi media menurut Kemp (1963) adalah:

 

1. Meningkatkan pengertian atau pemahaman terhadap suatu topik

 

Pemanfaatan media visual akan mempermudah pengertian dan pemahaman serta menghemat  penggunaan  kata-kata verbal, karena khalayak sendiri yang akan menginterpre- tasikan makna gambar yang disajikan. Di samping itu, seperti dikemukakan oleh Anderson dalam Curtis, dkk. (1966) bahwa, “suatu kombinasi presentasi yang menggunakan kemampuan bicara dan penayangan gambar berdampak lebih besar terhadap topik yang kompleks   pesan yang diucapkan sendiri.”

 

2. Meningkatkan daya tarik bagi khalayak

 

Alasan yang paling penting dalam penggunaan media presentasi adalah menarik perhatian khalayak. Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan perhatian khalayak dari media komunikasi adalah; tingkat kecanggihan media, kualitas yang disajikan, warna yang digunakan, bentuk unik dari suatu obyek yang dihadirkan, realitas obyek yang ditampilkan, penggunaan bunyi atau suara (sound effect), dan kombinasi bentuk dan ukuran objek yang ditampilkan.

  

3. Mengajarkan keahlian lebih efektif

 

Rangkaian atau proses untuk mengajarkan keterampilan lebih mudah dijelaskan apabila menggunakan media daripada sekedar kata-kata.  Seperti,  gambar berseri pada kemasan barang elektronik yang menerangkan langkah-langkah perakitan, kemasan bergambar pada obat-obatan yang menerangkan cara dan dosis yang harus digunakan, dan kotak bergambar yang menerangkan cara mengoperasikan mainan anak-anak. Gambar-gambar dengan putaran arah jarum jam pada kemasan   tersebut, akan memudahkan para pembeli atau pengguna.

 

4. Merangsang khalayak untuk bertindak

 

Visualisasi  motto, jargon, dan yel-yel yang mengajak orang untuk berprilaku, akan lebih merangsang orang yang melihat dan mendengarnya. Bahkan kecenderungan untuk menirukan atau mengikuti cenderung lebih besar  terjadi. Misalnya yel-yel, Hidup Bintang! dengan menggambarkan acungan satu jari, kemudian Hidup Golkar! dengan menggambarkan acungan dua jari,  dan Hidup Banteng! dengan tiga jarinya, akan mendorong orang untuk mengikuti dan menirunya.

 

5. Menumbuhkan sikap  yang diinginkan  terhadap materi yang dibicarakan

 

Sikap positif lebih mudah terjadi dengan dukungan penggunaan media, misalnya dalam pelayanan iklan komersial para perancang komunikasi cenderung memilih media massa tertentu untuk menjual produknya kepada masyarakat. Melalui pemanfaatan siaran televisi, pemilik produk dapat mempromosikan produknya dengan  keunggulan televisi   media yang lain. Televisi lebih mampu memvisualisasikan gagasan para perancang iklan dalam membentuk citra produk yang ditawarkan, dan mengajak khalayak untuk menggunakan produk tersebut. 

 

6. Memperpanjang waktu penyimpanan informasi

 

Anderson dalam Curtis dkk. (1966), menyatakan bahwa para penyimak akan mengingat isi presentasi lebih lama bila presentasi tersbut menggunakan gambar. Faktor yang mendukung dalam mengingat sebuah informasi adalah, penyajian informasi dengan dukungan visual dan auditory, sebab hal itu akan  menyempurnakan kata-kata yang disampaikan.

 

7. Memberikan perolehan pengalaman yang tidak mudah melalui berbagai cara

 

Gagasan yang kompleks akan lebih sulit diterima atau disimak. Hal ini berkaitan dengan tingkat abstraksi gagasan. Tetapi apabila dijelaskan dengan visualisasi, maka tingkat abstraksi tersebut dapat diturunkan atau direndahkan sehingga mendekati realitas yang sebenarnya.

Penutup

 

Melihat pada pendapat Kemp dengan berbagai riset yang telah dilakukan, sudah selayaknya para ahli pemberdayaan, NGO, dan ataupu kaum politisi yang sekarang sedang gencar membangun image untuk pengumpulan suara bagi calon legislatif, berusaha memanfaatkan media kecil untuk kampanye mereka. Di mana selama ini, hal ini kurang terpikirkan dan lebih suka orasi retoris yang cenderung lebih membangun suasana emosional, tidak kritis, dan loyalitas temporer.

 

 

 





Trafiking di Jawa Barat

17 04 2008

Pada masa penjajahan oleh Jepang, trafiking di Indonesia sudah muncul dan berkembang. Kaum perempuan diberikan janji untuk bekerja dan terjun ke dunia musik di negeri Sakura. Namun pada kenyataannya mereka disekap dan dijadikan objek seks di kamp tentara Jepang di Indonesia.

Sebagian besar kasus trafiking terhadap kaum perempuan, selalu berkaitan dengan latar belakang kesulitan ekonomi. Kemudian, para perekrut menjanjikan kepada mereka untuk keluar dari kesulitan dengan dalih pekerjaan atau mendapatkan karier dalam bidang yang mereka sukai, seperti dunia hiburan, pramuwisata, pramusaji di sebuah hotel atau bar dan lain-lain. Bahkan pengalaman lapangan menunjukan bahwa, rekruitmen korban juga dilakukan secara besar-besaran melalui agen tenaga atau jasa tenaga kerja, di mana korban kemudian diseleksi untuk disesuaikan dengan pesanan pihak penampung atau pemakai (user).

Seluruh tahap atau liku-liku calon yang akan dijerat ke dalam trafiking, pada akhirnya mereka terjebak ke dalam dunia prostitusi, menjadi objek seks, pekerja rumah tangga tanpa jaminan sosial, ekonomi dan kesehatan yang jelas, buruh perusahaan tanpa jaminan gaji atau pendapatan yang memadai, serta mengalami pemerasan, tindak kekerasan, dan penghilangan hak-hak mereka sebagai manusia.

Trafiking tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa yang dipekerjakan secara paksa, tetapi juga pada anak-anak. Mereka diperjualbelikan tanpa menyertakan aturan legal yang jelas, seperti adopsi ilegal, buruh pabrik, penambangan, kerja paksa di luar batas wilayahnya, kerja paksa di hutan-hutan sebagai penebang dan pengangkut kayu, objek seks (phaedopilia), sampai pada penjualan dan pengambilan organ tubuh mereka, seperti pada kasus-kasus korban mutilasi.

Kasus trafiking muncul pada sebuah wilayah, disebabkan oleh berbagai faktor. Selama ini, kajian lapangan sebagian besar menunjukkan bahwa seorang perempuan muda atau seorang anak diperjualbelikan karena dorongan ekonomi. Misalnya, seorang perempuan muda, akan dianggap lebih mudah terjebak trafiking pada saat mereka sedang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup keluarga. Pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi penyebab utama dalam kejadian tersebut. Selanjutnya, seorang anak diperjualbelikan karena orang tua mereka tidak mampu mengasuh dan membesarkan mereka karena alasan keterbatasaan ekonomi keluarga.

Pengalaman Organisasi Perempuan yang menangani masalah Trafiking pada perempuan dewasa menyebutkan bahwa kemiskinan hanya salah satu pendorong, namun bukan faktor utama. Faktor berikutnya adalah karena dipaksa atau dibujuk orang lain disekitarnya, mengembangkan karier di negeri orang lain yang kemudian dijebak untuk diperjualbelikan. Menurut mereka pemanfaatan peluang oleh sindikat atau pihak kedua terhadap korban merupakan cara lain munculnya kasus trafiking. Rasa putus asa, marah, keluarga broken home, dan terdominasi bisa menyebabkan pihak lain mengambil keuntungan darinya. Dengan demikian, faktor mikro sosial yakni ketidakberesan dalam unit sosial terkecil yakni keluarga, juga menjadi pencetus kejadian trafiking pada seseorang korban.

Selanjutnya, kondisi yang mempercepat peningkatan kejadian trafiking yaitu, longgarnya pengaturan pelaksanaan kegiatan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, suap dan korupsi, dan minimnya informasi bekerja di luar negeri. Kondisi demikian membuat calon korban Trafiking merasa tidak perlu memeriksa ulang deskripsi pekerjaan dan kontrak kerja di tempat tujuan. Di samping selalu ada kepercayaan bahwa; teman, kerabat, tetangga, pacar, bahkan suami tidak akan menjerumuskan mereka. Hal-hal di atas juga menjawab fenomena 20 persen dari seluruh buruh migran Indonesia adalah korban trafiking seperti angka perkiraan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI.

Jawa Barat merupakan salah satu propinsi dengan korban trafiking yang tinggi. Hal ini tidak dapat dipungkiri jika melihat pada aspek makro seperti kondisi ekonomi, kependudukan, sosial, budaya, hukum, dan lain-lain. Misalnya ketidakseimbangan jumlah pencari kerja dengan ketersediaan lowongan kerja akan mendorong mereka mencari peluang kerja keluar propinsi bahkan keluar negeri. Selanjutnya, peningkatan sektor industri yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan cenderung berkorelasi dengan peningkatan kasus pelecehan, penipuan, dan angka tindak kekerasan terhadap kaum perempuan dan kasus-kasus trafiking di dalamnya.

Tahun 2006 jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 39.960.869 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki sebesar 20.192.207 jiwa dan perempuan 19.768.662 jiwa, tingkat kepadatan penduduk mencapai 1378,65 jiwa per km2, serta jumlah pencari kerja pada seluruh jenjang pendidikan mencapai 4.676.721 jiwa atau 11,70% dari jumlah penduduk. Jumlah pencari kerja perempuan mencapai 1.879.839 (41,00% dari jumlah pencari kerja). Selanjutnya, jumlah pencari kerja dengan kualifikasi pendidikan rendah sampai menengah mencapai 3.909.792, atau 83,60% dari seluruh pencari kerja yang ada.

Sedangkan lowongan pekerjaan yang tersedia di Jawa Barat pada tahun 2006 hanya mencapai 35.003 lowongan menurut 10 sektor pekerjaan yang ada.Persaingan memperebutkan lowongan pekerjaan, menyebabkan pencari kerja dengan kualifikasi pendidikan dan keterampilan yang lebih rendah tersisihkan dan mencari peluang ke luar wilayah, seperti menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Kondisi tersebut akan mendorong munculnya praktek-praktek rekrutmen TKI ilegal dengan memanfaatkan tingginya persaingan kerja, lemahnya aturan pencarian kerja keluar negeri seperti kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, informasi minimal calon tenaga kerja tentang negara tujuan dan jenis pekerjaan yang dibutuhkan, serta lembaga yang menampung mereka. Para perekrut tenaga kerja, dengan memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut akan dengan leluasa dan mudah mendapatkan calon tenaga kerja terebut.

Pada tahun 2006, tenaga kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat yang telah diberangkatkan ke luar negeri mencapai 5.141 orang dan jumlah lembaga Pengiriman Jasa Tenaga Kerja Indonesia yang resmi terdaftar pada Disnakertrans mencapai 41 perusahaan.Sementara itu rekruitmen tenaga kerja Indonesia yang ilegal datanya tidak diketahui. Keadaan lembaga ilegal yang sulit diketahui tersebut, tentu merupakan faktor penyebab sulitnya penelusuran trafiking dengan modus operandi kontrak kerja muncul di sebuah wilayah atau negara.

Data korban Trafiking di Jawa Barat sulit dikumpulkan. Namun, menyimak tingginya anggapan bahwa jumlah tenaga pekerja seks komersial diperbatasan Indonesia dengan negara tetangga, berasal dari perempuan Jawa Barat, tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu terjadi. Kini saatnya semua pihak peduli, sehingga kasus Trafiking tidak terulang kembali. Tugas pemerintah daerah melalui pihak yang berwajib sangat signifikan dalam menjerat secara hukum terhadap semua yang terlibat atau sindikat Trafiking. Di samping juga membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat melalui penyebaran informasi ke pelosok wilayah menjadi tugas berikutnya.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 baru disahkan. Sehingga pelaku sebelumnya yang dijerat dengan menggunakan undang-undang pidana biasa dianggap terlalu ringan, bahkan dibebaskan karena menebus dengan uang. Berdasarkan UU RI No. 21 Tahun 2007, perdagangan perempuan dan anak dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).[4]

Munculnya kasus trafiking di Jawa Barat, menunjukkan masih kurangnya support system terhadap pembangunan masyarakat untuk pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Peningkatan kualitas pendidikan perempuan, peningkatan status gizi dan kesehatan ibu/perempuan dan anak, serta perluasan partisipasi perempuan dalam bidang politik, sosial dan ekonomi merupakan support system yang mempengaruhi kualitas pembangunan terhadap perempuan dan anak tersebut.

Indikator pembangunan kesejahteraan sosial perempuan di Jawa Barat misalnya angka anak, wanita dan lansia korban kekerasan dan wanita rawan sosial ekonomi. Pada tahun 2003, jumlah anak, wanita dan lansia korban kekerasan sebanyak 4674 orang dan pada tahun 2006 sebanyak 5335 orang, dengan demikian selang tiga tahun telah terjadi kenaikan sebesar 14,14%. Sedangkan wanita rawan sosial ekonomi pada tahun 2003 sebanyak 116.218 orang dan tahun 2006 sebesar 128.525 orang, dengan demikian selang tiga tahun telah terjadi kenaikan sebesar 10,59%.

Sementara itu penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) untuk anak menunjukkan, bahwa di Jawa Barat pada Tahun 2003 terdapat anak balita terlantar 25.947 orang, anak jalanan 5.559 orang, anak terlantar 81.719, dan anak nakal 6.028. Tahun 2006, terdapat anak balita terlantar 29.161 orang, anak jalanan 8.448 orang, anak terlantar 280.389, dan anak nakal 6.679 orang.Di samping masalah-masalah besar lainnya yang harus di perhitungkan manakala melihat peta situasi pembangunan untuk anak. Misalnya angka pratisipasi sekolah dan drop-out pada setiap jenjang pendidikan, tingkat pembanguan kesehatan anak seperti status gizi, kelahiran dan kematian bayi dan balita, dan perlindungan anak.

Melihat pada kondisi demikian, ditingkat wilayah, seperti propinsi perlu ada upaya-upaya pencegahan dan penanganan untuk penghapusan Trafiking. Upaya pencegahan melibatkan banyak pihak seperti keluarga, tokoh masyarakat, perguruan tinggi dan pihak berwenang seperti Kepolisian, Kantor Imigrasi, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, BPMD, Dinas Sosial. Hal yang paling penting lagi adalah penyusunan pedoman pencegahan dan perlindungan trafiking serta pengembangan jejaring kelembagaan untuk pencegahan dan penghapusan trafiking tersebut.

Di samping itu, aturan atau keputusan, tidak akan berjalan efektif apabila tidak ada lembaga yang melakukan sosialisasi, pencegahan dan penanganan terhadap trafiking. Setiap wilayah harus memiliki jaringan kelembagaan dalam bentuk forum yang memiliki kepedulian terhadap trafiking.

———————————-
Disajikan dalam Seminar Antar Bangsa, Bandung, 5 Februari 2008. Tulisan lengkap mengenai topik ini terdapat dalam “Buku Pedoman Penghapusan Trafiking di Jawa Barat” yang di tulis bersama Penulis dan Tim dari Pemprov. Jawa Barat 2008.