Tindakan Sosial dan Pemaknaan Kata-kata: Belajar dari Kasus Bu Prita dan Ponari

12 06 2009

Setiap  individu selalu memberi makna terhadap aspek-aspek yang dia temui di sekitarnya. Mulai dari benda-benda yang secara kasat mata dapat disentuh atau dipegang sampai pada sesuatu yang sifatnya imanen atau transenden. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, rumah, kendaraan, sampai pada relasi sosial seperti rasa cinta, kasih sayang, sampai kebencian dan permusuhan di antara individu atau masyarakat.

Bagaimanapun individu secara kreatif melalui proses berfikir; mengurangi, menambahkan, dan menghasilkan makna melalui proses perseptual terhadap objek makna yang dihadapinya. Dalam memahami makna menurut Joseph DeVito (1998: 141), “Look for meaning in people, not in words. Meaning change but words are relatively static, and share meanings, not only words, through communication.”

Karena hakekatnya pembentukan makna ada pada individu, maka maka semua tindakan sosial yang dilakukan individu memunculkan pembentukan makna dan pembentukan makna dikonstruksi oleh setiap individu. Mungkin pembentukan itu sama, berhimpitan, bahkan bertolak belakang. Sebagian besar sangat ditentukan oleh kapasitas dan kepentingan masing-masing pihak dalam membentuk makna itu.

Masalahnya manakala sebuah makna itu dimiliki dan digunakan untuk mengendalikan orang lain bahkan diakumulasikan untuk menananamkan makna terhadap orang lain, seorang individu harus berhati-hati dengan konstruksi pemaknaan yang dimilikinya.Tengok kasus Bu Prita. Akibat pemaknaan terhadap statemen atau kata-kata yang tersebar melalui internet, sebuah lembaga rumah sakit  sebagai lembaga pelayanan publik memaknai sebagai penghinaan, negativitas citra, dan penyerangan. Padahal belum terbukti pula bahwa e-mail yang disebar di kalangan pertemanan itu secara signifikan menimbulkan pengaruh tersebut. Namun akibat konstruksi pemaknaan lembaga rumah sakit itu diterima dan dapat dijadikan delik aduan hukum, maka seorang ibu menginap dalam rumah tahanan selama dua puluh hari. Bahkan andai pidananya terbukti, kemungkinan hukumannya bisa lebih dari itu.

Kontras sekali dengan pemaknaan yang dilakukan masyarakat miskin, rendah akses lembaga kesehatan, dan sudah tidak mampu lagi berfikir rasional untuk menyembuhkan penyakitnya, seorang Dukun Cilik Ponari dianggap atau dimaknai sebagi individu yang mampu menolong, menyembuhkan, dan menjawab permasalahan mereka. Andaipun mereka tidak mendapatkannya, penyakit tetap, dan tidak dilayani secara baik, mereka tidak marah, komplain, atau mengajukan ketidakpuasan pelayanan pada konsumen. Padahal yakin bahwa hanya berapa peresen dari mereka yang “merasa” sembuh setelah berdukun pada Ponari. Sebagian besar tidak ada perubahan yang berarti.

Hakekatnya semua diterima apa adanya. Kontrak sosial di antara kedua belah pihak tidak harus diselesaikan oleh hukum formal, cukup rasionalisasi interpersonal bahwa berobat kepada Ponari hanya sekedar usaha, barangkali bisa sembuh.

Mengapa Pemaknaan Berbeda?

Pembentukan makna adalah berfikir, dan setiap individu memiliki kemampuan berfikir sesuai dengan kemampuan serta kapasitas kognitif atau muatan informasi yang dimilikinya. Oleh karena itu, makna tidak akan sama atas setiap individu walaupun objek yang dihadapinya adalah sama. Pemaknaan terjadi karena cara dan proses berfikir adalah unik pada setiap individu yang akan menghasilkan keragaman dalam pembentukan makna.

Keunikan berfikir sebagai proses pembentukan makna dalam diri individu ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri individu tersebut, seperti sistem nilai, kepercayaan, dan sikap. Menurut Kaye, keunikan tersebut terlihat nyata ketika individu membangun komunikasi dengan orang lain. Kaye (1994 :34-40) berpendapat bahwa;

In a very real sense, communication is about thinking. More precisely, it is concerned with the construction of meaning. Generally, people act toward others on the basis of how they construe others’ dispositions and behaviour. These constructions (meaning) are, in turn, influenced by individual value system, beliefs and attitudes.

Mulyana (2001: 256) mengutip pendapat R. Brown, menjelaskan bahwa makna sebagai sebuah kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Selanjutnya Mulyana (2001: 256) menyatakan bahwa, makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran  orang. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara suatu objek dan simbol yang digunakan untuk mempresentasikannya.

Teori lain yang menjelaskan perbedaan pembentukan makna dalam perilaku komunikasi interpersonal yaitu Coordinated Management of Meaning  Theory. Teori ini dikembangkan  Pearce dan Cronen pada tahun 1980 (dalam West dan Turner 2007: h. 110-113) dengan asumsi bahwa:

  • Human beings live in communication
  • Human beings co-create a social reality
  • Information transactions depend on personal and interpersonal meaning.

Menurut Teori ini, makna bersifat personal dan interpersional. Makna personal yaitu makna yang telah diperoleh ketika seseorang membawa pengalaman yang unik ke dalam interaksi. Sementara makna interpersonal adalah hasil interaksi manakala dua orang setuju terhadap interpretasi masing-masing pada sebuah interaksi itu. Makna personal dan interpersonal diperoleh dalam sebuah percakapan dan seringkali makna itu tanpa didasarkan pada banyak pemikiran.

Jika melihat pada asumsi-asumsi teori-teori tersebut, maka individu dalam rangka membangun harmonisasi atau juga memecahkan konflik yang dihadapinya, maka berhati-hati dengan makna personal yang akan diberikan kepada orang lain. Di lain pihak juga lebih banyak belajar membangun makna interpersonal yang ditanamkan dan hasil kesepakatan secara sosial. Andaikan Pihak Rumah Sakit yang mengadukan Bu Prita berhati-hati dalam menanggapi e-mail Bu Prita dan Bu Prita juga menyebarkan kegundahannya dengan cara yang berbeda, konflik ini tidak akan berkepanjangan. Andaikan pula dalam cerita Dukun Ponari, masyarakat lebih banyak mendengar dan meminta pendapat tentang keampuha sebuah “batu”, kemungkinan makna interpersonalnya akan berbeda. Mereka tidak akan terjebak pada sebuah mitos dan kepercayaan yang merepotkan banyak orang. Wallahu’alam.





MENYENTUH KOMUNIKASI DI AKAR RUMPUT

29 12 2008

Refleksi Perjalanan Komunikasi Arus Bawah

When we are stupid, we really want the other people.
But when we are wise, we want to control ourselves.

You need all the changes, Unified, move, and finished it. (Disadur dari Rhenald Kasali, 2007)

I. Ruang Publik Media: Habis untuk Wacana Politik dan Selebritis

anjal-cirebon1

Energi komunikasi kita, saat ini lebih banyak digunakan untuk membedah isu-isu kontemporer, entah itu bersumber dari televisi atau obrolan gosip yang juga asal usulnya mungkin dari media massa. Mulai dari perceraian artis sampai pencalonan artis dalam bursa legislatif maupun eksekutif. Rasanya dunia ini begitu sempit dengan wacana komunikasi dari “itu ke itu”. Bahkan kalau mau ditelusuri dalam berbagai rujukan penelitian di tingkat perguruan tinggi sekalipun (minimal dalam lingkungan saya) rasa-rasanya wacana dalam skripsi dan thesis mahasiswa kajian tentang itu mendapatkan porsi yang cukup besar. Mahasiswa menyukai isu penelitian sekitar personal marketing dari seorang selebritis, semiotika pada simbol wacana dominan TV seperti iklan dan telenovela, serta kesukaan mengutaik-ngatik dramaturgis dari perilaku seorang tokoh kalangan tertentu yang hanya memiliki kepentingan dengan pihak tertentu juga.

Bukan tidak penting atau bahkan mau dikatakan mubazir. Tetapi cobalah kita juga menghabiskan energi komunikasi kita untuk menengok dan masuk dalam arus komunikasi, atau katakanlah saya juga ingin menyebut lingkaran-lingkaran komunikasi, yang lain yang tidak terekspos oleh media. Ada lingkaran-lingkaran komunikasi lain, yang unik, dan membutuhkan sentuhan-sentuhan untuk perubahan. Sekecil apapun dan sesulit apapun.

Namun, hakekatnya kita harus rela untuk tidak membungkus pesan-pesan komunikasi kita dengan muatan-muatan politis, memelihara status-quo, dan konspirasi yang berusaha memanfaatkan. Apalagi akhir-akhir ini kita dihadapkan pada selebrasi pemajangan gambar, slogan dan foto dari orang-orang yang memiliki kepentingan politis. Mereka tersenyum, bersolek, dan menyampaikan pesan verbal yang menjanjikan, Tapi kita tidak tahu siapa dan dari mana mereka. Kita hanya tahu maunya mereka saja, dan wallahu a’lam, tahukah mereka kepentingan kita?

Jadi kalau demikian, kondisi yang bagaimana agar komunikasi kita jujur, memihak pada orang-orang yang teralienasi, yang tidak selalu dikaitkan denga konspirasi, atau apalagi sampai berusaha membungkus keburukan perilaku birokrasi, atau politis seseorang atau sekelompok orang?

Memang, mencari bentuk dan terobosan yang senantiasa diam dalam kelompok tersembunyi atau tidak tersentuh (silent) selalu tidak populer. Selalu dianggap mengerjakan sesuatu yang tidak akan selesai, kultur yang stagnan, atau residu dari sebuah proses perubahan sosial yang seharusnya dibuang di tempat “daur ulang.” Katakanlah, menangani gelandangan dan pengemis dengan berbagai program stimulasi macam apapun tidak akan menyelesaikan masalah pengemis, karena mereka menikmati dirinya berada dalam circumstance seperti itu, mereka adalah residu dari kelompok-kelompok orang yang tidak mampu berkompetisi dengan manusia lainnya. Jadilah mereka mengemis, mencari uang dari sektor yang tidak produktif. Demikian juga, menertibkan rumah kumuh untuk tata kota dengan paksa lebih efektif ketimbang “menyuluhi” mereka, yang belum tentu hasilnya. Mengejar-ngejar anak jalanan agar mereka ke rumah keluarga atau rumah perlindungan anak, atau bahkan menempatkan mereka di bangku sekolah sekalipun, tidak akan menggerakan mereka manjadi murid yang baik. Tetap saja kembali ke jalalan dan berkeliaran. Hidup di jalanan menyenangkan, dapat uang, nengak minuman keras sepuasnya, mendapatkan pengalaman seksual sedini mungkin, ngopi sampai pagi, dan tidak ada aturan standar. Itu membuat mereka “menemukan” dan “menjadi” individu yang memiliki otoritas, otonomi pada sumber daya di jalanan, dan memiliki mitos-mitos personal dan kelompok atas nilai-nilai yang juga dibangun dari jalanan.

Tapi masalahnya, bagaimana kalau kita biarkan jumlahnya semakin bertambah? Tidak perduli, dan kita sendiri egois dengan lebih senang memperbincangkan wacana komunikasi pada gaya hidup yang tidak kita miliki, gaya hidup yang sebenarnya juga tidak akan tersentuh, dan tali-temali komunikasi yang jauh dari realitas kita. Tidakah kita bisa memilih? Tidakah kita lebih baik menyentuh dunia yang dekat, dengan tenaga sedikit, dengan waktu yang tersisa, berbagi dengan mereka tentang apapun (positif tentunya). Bentuk-bentuk yang jamak di antaranya; mengenai yang produktif (life skill) untuk kehidupan, tentang kepekaan memilih peluang (soft skill) untuk usaha dan tentang nilai-nilai-nilai atau prinsip yang baik dan tidak baik menurut norma-norma yang menjadi standar yang berguna untuk bemasyarakat dan memelihara hubungan dengan yang Maha Kuasa.

II. Mereka Membutuhkan Sentuhan Komunikasi Spesifk

pelatihan-santri

Memasuki dunia kaum pinggiran, dunia yang jauh dari hingar bingar komunikasi hegemonis, dikuasai pasar, dan konspiratif, memang tidak mudah. Bahkan dengan niat baik apapun rasa curiga atau prasangka senantiasa muncul. Mungkin juga tidak salah, karena kita dibiasakan dengan komunikasi yang konspiratif, mendahulukan apa yang akan diterima, materialistis, dan cenderung memanfaatkan mereka yang hidup dipinggirkan untuk dukungan masal (kampanye politik misalnya, yang hanya dibayar 5 ribu-10 ribu agar ikut kampanye). Merupakan kesulitan tersendiri.

Upaya membangun minat dengan mendekatkan kepentingan “kita” dan “mereka” menjadi sebuah “pekerjaan bersama” adalah upaya mendekatkan komunikasi dengan mereka. Jika sudah demikian, upaya membuat bersama untuk berubah dengan itroduksi program secara “konspiratif” dalam makna untuk menggantikan kata partisipatif yang sudah usang, akan lebih kena untuk dilakukan.

Sebuah pengalaman yang tidak diduga, misalnya anak jalanan meminta diajari pidato, karena membutuhkan “improvement” kemampuan bicara saat mau ngamen, telah menjadi pekerjaan dengan tantangan sendiri, belajar nyablon bagi para santri di sebuah kampung nun jauh dari keramaian kota dan hingar-bingar media promosi modern menjadi sebuah semangat untuk diberikan kepada mereka. Bahkan permintaan membuat disain visual dengan software canggih tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk kegiatan publikasi di lingkungan sebuah pesantren. Dan satu lagi, ibu-ibu rumah tangga di desa terpencil yang biasa membantu suaminya di kebun di samping mengerjakan urusan rumah tangga, menjadi antusias manakala diajarkan komunikasi efektif antara suami-istri-anak. Mereka diskusi kelompok tentang kerumitan-kerumitan komunikasi dalam keluarga.

Kadang menimbulkan kebingungan sendiri, mengapa mereka seantusias itu? Apakah mereka juga ingin seperti masayarakat dengan IT di perkotaan di mana masyarakatnya dengan penuh gaya bahasa manakala tampil di depan publik. Pengamen ingin pintar pidato padahal mereka hanya sekedar menyampaikan salam di dekat pengemudi bis atau orang di jalan kala sedang menyantap jajanan  Perlukah pidato dahulu agar mengamen dengan baik? Kalau mereka meminta artinya penting, artinya diperlukan. Toh pengetahuan yang dibutuhkan untuk perubahan adalah pengetahuan yang dibutuhkan oleh publik. Digunakan user secara bermanfaat. Barangkali itu sentuhan-sentuhan komunikasi yang harus dikerjakan agar mereka juga “menjadi” bagian dari masyarakat dengan gaya komunikasi promotif, IT oriented dan masyarakat yang mengeksplorasi kemampuan berkomunikasi sepenuhnya untuk kepentingan kemaslahatan keluarganya.

Manakala sudah menjadi demikian, semuanya sudah mendekat dan kepentingan bersama didapatkan. Kerinduan-kerinduan bergabung dengan komunitas yang disebut residual, komunitas terpinggirkan sebagai perubahan dan modernisme, senantiasa muncul setiap saat. Seseorang akan semakin peka secara empati sosial, dan mereka semuanya tidak perlu diminta untuk bergerak atau dikejar-kejar semau kita. Mereka sendiri tahu kepentingan yang dirasakan. Tahu pergerakan harus dimuaai dari mana mau ke mana, dan tahu rambu-rambu mana yang tidak boleh dilanggar.

Namun demikian, semuanya memang tidak mudah. Kadang perencana sulit menentukan harus memulai dari mana dan mau ke mana. Jikapun sudah masuk dalam proses, jangan lupa tidak terbawa menjadi lebih jauh. Peka dan empatetis pada kepentingan subyek, juga ditambah peka terhadap kepentingan atau mision pribadi. Kita adalah bagian yang membantu mereka, dan harus segera memutuskan untuk menghentikan bantuan manakala mereka mandiri dan sudah tahu arah tujuan yang diinginkan mereka. Mereka tetap harus membawakan dirinya.

III. Membangunkan Apa yang Mereka Inginkan,dan Menyadarkan Apa yang Baik

Hampir selalu dirujuk dalam komunikasi untuk perubahan partisipatif, bahwa perubahan dalam perencanaan sosial yang berhasil adalah didasari keinginan mereka, katakanlah dalam hal ini masyarakat pinggiran, masyarakat yang tidak tersentuh dan juga miskin. Namun demikian sebagian besar perubahan selalu gagal dalam menghadapi kendala seperti ini. Pertanyaan besarnya menurut Diana Conyers (1994), “Apakah mereka (masyarakat) tahu apa yang mereka butuhkan?” “Apakah mereka tahu apa yang baik menurut mereka?”, dan mungkin juga menurut common sense saya “Apakah mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik bagi mereka?” Pernahkah anda melihat seorang anak jalanan menengak sembilan butir pil “destron” (dalam kamus perbedaharaan obat-obatan mereka) sekaligus? Mungkin akan menyedihkan melihat anak umur sembilan tahun merasakan akibatnya. Tapi katanya mereka suka, menyenangkan, dan bagian dari prestise di dapan kelompok.

Hal ini memang masalah yang tidak mudah dalam bagian perubahan untuk masayarakat pinggiran. Rata-rata bukan tidak tahu, tapi harus bagaimana. Sementara di lain pihak pengambil kebijakan lebih melihat pada kepentingan makro, serba cepat, dan menyelesaikan masalah dari muara bukan hilirnya. Lebih baik membongkar lapak dan rumah liar di bandingkan meningkatkan anggaran perumahan rakyat sederhana, lebih baik mengejar-ngejar anak jalanan untuk dimasukan ke dalam panti ketimbang menambah biaya atau anggaran pendidikan dasar dan menyediakan padat karya bagi orang tua mereka.

Oleh karena itu, setiap kita memiliki niat untuk “bersama” dengan mereka, maka harus menyiapkan diri dalam menerima kenyataan bahwa skala prioritas mereka mungkin sangat berbeda dari kenyataan skala prioritas yang dimiliki oleh kita. Walaupun kita sudah berusaha menjelaskan kepada mereka. Hal yang harus ditanggung, sentuhan-sentuhan komunikasi kita dengan mereka adalah membuka ruang-ruang privat atau agenda “perencana” menjadi penting agar diketahui mereka, hal ini akan menstimulasi bahwa mereka semakin tahu prioritas kita. Sementara di lain pihak peningkatan empatetis kita juga akan semakin masuk pada keinginan dan agenda privat mereka. Percayalah bahwa kemampuan saling membuka diri adalah awal yang baik untuk sharing dan dialog, dan terciptanya dialog adalah awal yang tepat untuk membangun kepentingan bersama. Dan dari sanalah hasil perubahan dan resikonya senantiasa memunculkan kebanggaan dan tanggung jawab bersama.

Wassalam

Perenungan Hasil Perjalanan Pengabdian Masyarakat Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Di Tasikmalaya, Desember 2008 dan Pelampiasan Rasa Kangen Pada Anak-anak Jalanan, Cirebon Juli-September 2008.