Anak Jalanan “Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang”

10 06 2012

Penulis: Dr. Atwar Bajari
Pengantar:

Prof. H. deddy Mulyana, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad)

Dr., Drg. Nina Justiana (Ketua PSW Unpad)

Penerbit: Humaniora
Bandung Mei 2012

Dalam keunikannya, seorang anak jalanan memiliki persepsi yang berbeda dengan persepsi anak normal mengenai hubungan dengan orang dewasa, tanggung jawab terhadap keluarga dan saudaranya, hubungan dengan lawan jenis, uang, dan kepercayaan pada agama.
Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.
Perbedaan kondisi dan keadaan tersebut, mengakibatkan anak jalanan memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan dengan anak yang hidup dalam lingkungan standar pada umumnya dalam melihat lingkungan sekitar. Misalnya mereka beranggapan bahwa lingkungan itu lebih keras, berat, dan pengaturannya sangat tergantung dari diri mereka sendiri. Jika mereka berusaha dengan keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Lingkungan merupakan salah satu konstruk budaya dalam pembentukan makna anak jalanan. Lingkungan kumuh, ketiadaan bimbingan orangtua, dan tindakan kasar, cenderung membentuk watak yang pasif, inferior, tercekam stigma mentalitas rendah diri, pasif, agresif, eksploitatif, dan mudah protes atau marah. Dalam kondisi demikian, tata nilai yang ditanamkan akan sulit karena oto-aktivitas, rasa percaya diri, pengandalan diri sendiri hampir punah, hingga timbul mental ”primitif” dan ”sindrom kemiskinan” .
Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka. Melalui sitmulasi tindakan kekerasan yang terus menerus, akan membentuk sebuah nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.

Buku ini memaparkan peta kondisi anak jalanan berdasarkan teropong riset kualitatif fenomenologi. Garis besar pembahasan pada sudut pandang atau perspektif komunikasi secara mikro. Walaupun  pendekatan sosiologis turut mewarnai kajian yang dilakukan.

 





Tindakan Sosial dan Pemaknaan Kata-kata: Belajar dari Kasus Bu Prita dan Ponari

12 06 2009

Setiap  individu selalu memberi makna terhadap aspek-aspek yang dia temui di sekitarnya. Mulai dari benda-benda yang secara kasat mata dapat disentuh atau dipegang sampai pada sesuatu yang sifatnya imanen atau transenden. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, rumah, kendaraan, sampai pada relasi sosial seperti rasa cinta, kasih sayang, sampai kebencian dan permusuhan di antara individu atau masyarakat.

Bagaimanapun individu secara kreatif melalui proses berfikir; mengurangi, menambahkan, dan menghasilkan makna melalui proses perseptual terhadap objek makna yang dihadapinya. Dalam memahami makna menurut Joseph DeVito (1998: 141), “Look for meaning in people, not in words. Meaning change but words are relatively static, and share meanings, not only words, through communication.”

Karena hakekatnya pembentukan makna ada pada individu, maka maka semua tindakan sosial yang dilakukan individu memunculkan pembentukan makna dan pembentukan makna dikonstruksi oleh setiap individu. Mungkin pembentukan itu sama, berhimpitan, bahkan bertolak belakang. Sebagian besar sangat ditentukan oleh kapasitas dan kepentingan masing-masing pihak dalam membentuk makna itu.

Masalahnya manakala sebuah makna itu dimiliki dan digunakan untuk mengendalikan orang lain bahkan diakumulasikan untuk menananamkan makna terhadap orang lain, seorang individu harus berhati-hati dengan konstruksi pemaknaan yang dimilikinya.Tengok kasus Bu Prita. Akibat pemaknaan terhadap statemen atau kata-kata yang tersebar melalui internet, sebuah lembaga rumah sakit  sebagai lembaga pelayanan publik memaknai sebagai penghinaan, negativitas citra, dan penyerangan. Padahal belum terbukti pula bahwa e-mail yang disebar di kalangan pertemanan itu secara signifikan menimbulkan pengaruh tersebut. Namun akibat konstruksi pemaknaan lembaga rumah sakit itu diterima dan dapat dijadikan delik aduan hukum, maka seorang ibu menginap dalam rumah tahanan selama dua puluh hari. Bahkan andai pidananya terbukti, kemungkinan hukumannya bisa lebih dari itu.

Kontras sekali dengan pemaknaan yang dilakukan masyarakat miskin, rendah akses lembaga kesehatan, dan sudah tidak mampu lagi berfikir rasional untuk menyembuhkan penyakitnya, seorang Dukun Cilik Ponari dianggap atau dimaknai sebagi individu yang mampu menolong, menyembuhkan, dan menjawab permasalahan mereka. Andaipun mereka tidak mendapatkannya, penyakit tetap, dan tidak dilayani secara baik, mereka tidak marah, komplain, atau mengajukan ketidakpuasan pelayanan pada konsumen. Padahal yakin bahwa hanya berapa peresen dari mereka yang “merasa” sembuh setelah berdukun pada Ponari. Sebagian besar tidak ada perubahan yang berarti.

Hakekatnya semua diterima apa adanya. Kontrak sosial di antara kedua belah pihak tidak harus diselesaikan oleh hukum formal, cukup rasionalisasi interpersonal bahwa berobat kepada Ponari hanya sekedar usaha, barangkali bisa sembuh.

Mengapa Pemaknaan Berbeda?

Pembentukan makna adalah berfikir, dan setiap individu memiliki kemampuan berfikir sesuai dengan kemampuan serta kapasitas kognitif atau muatan informasi yang dimilikinya. Oleh karena itu, makna tidak akan sama atas setiap individu walaupun objek yang dihadapinya adalah sama. Pemaknaan terjadi karena cara dan proses berfikir adalah unik pada setiap individu yang akan menghasilkan keragaman dalam pembentukan makna.

Keunikan berfikir sebagai proses pembentukan makna dalam diri individu ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri individu tersebut, seperti sistem nilai, kepercayaan, dan sikap. Menurut Kaye, keunikan tersebut terlihat nyata ketika individu membangun komunikasi dengan orang lain. Kaye (1994 :34-40) berpendapat bahwa;

In a very real sense, communication is about thinking. More precisely, it is concerned with the construction of meaning. Generally, people act toward others on the basis of how they construe others’ dispositions and behaviour. These constructions (meaning) are, in turn, influenced by individual value system, beliefs and attitudes.

Mulyana (2001: 256) mengutip pendapat R. Brown, menjelaskan bahwa makna sebagai sebuah kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Selanjutnya Mulyana (2001: 256) menyatakan bahwa, makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran  orang. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara suatu objek dan simbol yang digunakan untuk mempresentasikannya.

Teori lain yang menjelaskan perbedaan pembentukan makna dalam perilaku komunikasi interpersonal yaitu Coordinated Management of Meaning  Theory. Teori ini dikembangkan  Pearce dan Cronen pada tahun 1980 (dalam West dan Turner 2007: h. 110-113) dengan asumsi bahwa:

  • Human beings live in communication
  • Human beings co-create a social reality
  • Information transactions depend on personal and interpersonal meaning.

Menurut Teori ini, makna bersifat personal dan interpersional. Makna personal yaitu makna yang telah diperoleh ketika seseorang membawa pengalaman yang unik ke dalam interaksi. Sementara makna interpersonal adalah hasil interaksi manakala dua orang setuju terhadap interpretasi masing-masing pada sebuah interaksi itu. Makna personal dan interpersonal diperoleh dalam sebuah percakapan dan seringkali makna itu tanpa didasarkan pada banyak pemikiran.

Jika melihat pada asumsi-asumsi teori-teori tersebut, maka individu dalam rangka membangun harmonisasi atau juga memecahkan konflik yang dihadapinya, maka berhati-hati dengan makna personal yang akan diberikan kepada orang lain. Di lain pihak juga lebih banyak belajar membangun makna interpersonal yang ditanamkan dan hasil kesepakatan secara sosial. Andaikan Pihak Rumah Sakit yang mengadukan Bu Prita berhati-hati dalam menanggapi e-mail Bu Prita dan Bu Prita juga menyebarkan kegundahannya dengan cara yang berbeda, konflik ini tidak akan berkepanjangan. Andaikan pula dalam cerita Dukun Ponari, masyarakat lebih banyak mendengar dan meminta pendapat tentang keampuha sebuah “batu”, kemungkinan makna interpersonalnya akan berbeda. Mereka tidak akan terjebak pada sebuah mitos dan kepercayaan yang merepotkan banyak orang. Wallahu’alam.





Mengolah Data dalam Penelitian Kualitatif

18 04 2009

Data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Teks, picture, simbol, penangkapan observer adalah sekumpulan data yang harus diolah. Bahkan menurut saya mengolah bukan tindakan atau perilaku baku sebagaimana halnya langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian kuantitatif. Hakekatnya dalam penelitian kualitatif, mengolah data adalah memberi kategori, mensistematisir, dan bahkan memproduksi makna oleh si “peneliti” atas apa yang menjadi pusat perhatiannya.

Mile dan Huberman seperti yang dikutip oleh Salim (2006: 20-24), menyebutkan ada tiga langkah pengolahan data kualitatif, yakni reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verification). Dalam pelaksanaannya reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, merupakan sebuah langkah yang sangat luwes, dalam arti tidak terikat oleh batasan kronologis. Secara keseluruhan langkah-langkah tersebut saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data, sehingga model dari Miles dan Huberman disebut juga sebagai Model Interaktif.

Berdasarkan pada penjelasan yang telah dikembangkan oleh Agus Salim (2006: 22-23), dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
1. Reduksi data (data reduction), dalam tahap ini peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang diperoleh.
2. Penyajian data (data display). Peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing and verification). Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan, mencatat keteraturan dan konfigurasi yang mungkin ada, alur kausalitas dari fenomena, dan proposisi.

Dalam sebuah penelitian, analisis data dilakukan atas statemen (statement) atau pernyataan yang dikemukakan oleh para informan. Hal ini dilakukan dengan cara, peneliti membaca seluruh transkrip wawancara yang ada dan mendeskripsikan seluruh pengalaman yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan upaya pada tahap yang dikemukakan tersebut akan diketahui makna baik makna konotatif-denotatif atau makna implisit dan eksplisit dari pernyataan atas topik atau objek.

Selanjutnya uraian makna itu sendiri akan memperlihatkan tema-tema makna (meaning themes) yang menunjukkan kecenderungan arah jawaban atau pengertian yang dimaksudkan oleh para  informan. Serta aspek penting lain yang dianalisis dalam fenomenologis adalah penjelasan holistik dan umum tentang sebuah pembicaraan dengan subjek penelitian. Dari penjelasan umum tersebut harus ditarik keterkaitan antar makna yang dikembangkan pada setiap topik yang dibicarakan selama proses wawancara berlangsung (general description of the experience).

Keabsahan data penelitian dapat dilihat dari kemampuan menilai data dari aspek validitas dan reliabilitas data penelitian. Untuk menguji validitas penelitian dapat dilakukan dengan metode triangulasi di mana peneliti menemukan kesepahaman dengan subjek penelitian. Sedangkan reliabilitas dapat dilakukan dengan melakukan atau menerapkan prosedur fieldnote atau catatan lapangan dengan prosedur yang akan ditetapkan (Kirk dan Miller, 1986: 41-42).

Agar mendapatkan gambaran yang memuaskan dari sebuah hasil wawancara, karena penelitian ini menerapkan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang pokok, menurut Tesch (Creswell, 2002: 144-145), dapat ditempuh tahap-tahap sebagai berikut jika peneliti telah menyiapkan teks atau transkrip wawancara secara lengkap.
1. Pahami catatan secara keseluruhan. Peneliti akan membaca semua catatan dengan seksama dan mungkin juga akan menuliskan sejumlah ide yang muncul.
2. Selanjutnya, peneliti akan memilih satu dokumen wawancara yang paling menarik, yang singkat yang ada pada tumpukan paling atas.
3. Menyusun daftar seluruh topik untuk beberapa informan.
4. Tahap berikutnya, peneliti akan menyingkat topik-topik tersbeut ke dalam kode-kode dan menuliskan kode-kode tersebut pada bagian naskah yang sesuai.
5. Selanjutnya peneliti akan mencari kata yang paling deskriptif untuk topik dan mengubah topik-topik tersebut ke dalam kategori-kategori.
6. Membuat keputusan akhir tentang singkatan setiap kategori dan mengurutkan kategori-kategori tersbeut menurut abjad.
7. Mengumpulkan setiap materi yang ada dalam satu tempat dan memulai melakukan analisis awal.
8. Seandainya diperlukan, akan disusun kode-kode terhadap data yang sudah ada.

Demikian, kira-kira hal-hal pokok yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam pengolahan data untuk sebuah proses penelitian kualitatif.





MENYENTUH KOMUNIKASI DI AKAR RUMPUT

29 12 2008

Refleksi Perjalanan Komunikasi Arus Bawah

When we are stupid, we really want the other people.
But when we are wise, we want to control ourselves.

You need all the changes, Unified, move, and finished it. (Disadur dari Rhenald Kasali, 2007)

I. Ruang Publik Media: Habis untuk Wacana Politik dan Selebritis

anjal-cirebon1

Energi komunikasi kita, saat ini lebih banyak digunakan untuk membedah isu-isu kontemporer, entah itu bersumber dari televisi atau obrolan gosip yang juga asal usulnya mungkin dari media massa. Mulai dari perceraian artis sampai pencalonan artis dalam bursa legislatif maupun eksekutif. Rasanya dunia ini begitu sempit dengan wacana komunikasi dari “itu ke itu”. Bahkan kalau mau ditelusuri dalam berbagai rujukan penelitian di tingkat perguruan tinggi sekalipun (minimal dalam lingkungan saya) rasa-rasanya wacana dalam skripsi dan thesis mahasiswa kajian tentang itu mendapatkan porsi yang cukup besar. Mahasiswa menyukai isu penelitian sekitar personal marketing dari seorang selebritis, semiotika pada simbol wacana dominan TV seperti iklan dan telenovela, serta kesukaan mengutaik-ngatik dramaturgis dari perilaku seorang tokoh kalangan tertentu yang hanya memiliki kepentingan dengan pihak tertentu juga.

Bukan tidak penting atau bahkan mau dikatakan mubazir. Tetapi cobalah kita juga menghabiskan energi komunikasi kita untuk menengok dan masuk dalam arus komunikasi, atau katakanlah saya juga ingin menyebut lingkaran-lingkaran komunikasi, yang lain yang tidak terekspos oleh media. Ada lingkaran-lingkaran komunikasi lain, yang unik, dan membutuhkan sentuhan-sentuhan untuk perubahan. Sekecil apapun dan sesulit apapun.

Namun, hakekatnya kita harus rela untuk tidak membungkus pesan-pesan komunikasi kita dengan muatan-muatan politis, memelihara status-quo, dan konspirasi yang berusaha memanfaatkan. Apalagi akhir-akhir ini kita dihadapkan pada selebrasi pemajangan gambar, slogan dan foto dari orang-orang yang memiliki kepentingan politis. Mereka tersenyum, bersolek, dan menyampaikan pesan verbal yang menjanjikan, Tapi kita tidak tahu siapa dan dari mana mereka. Kita hanya tahu maunya mereka saja, dan wallahu a’lam, tahukah mereka kepentingan kita?

Jadi kalau demikian, kondisi yang bagaimana agar komunikasi kita jujur, memihak pada orang-orang yang teralienasi, yang tidak selalu dikaitkan denga konspirasi, atau apalagi sampai berusaha membungkus keburukan perilaku birokrasi, atau politis seseorang atau sekelompok orang?

Memang, mencari bentuk dan terobosan yang senantiasa diam dalam kelompok tersembunyi atau tidak tersentuh (silent) selalu tidak populer. Selalu dianggap mengerjakan sesuatu yang tidak akan selesai, kultur yang stagnan, atau residu dari sebuah proses perubahan sosial yang seharusnya dibuang di tempat “daur ulang.” Katakanlah, menangani gelandangan dan pengemis dengan berbagai program stimulasi macam apapun tidak akan menyelesaikan masalah pengemis, karena mereka menikmati dirinya berada dalam circumstance seperti itu, mereka adalah residu dari kelompok-kelompok orang yang tidak mampu berkompetisi dengan manusia lainnya. Jadilah mereka mengemis, mencari uang dari sektor yang tidak produktif. Demikian juga, menertibkan rumah kumuh untuk tata kota dengan paksa lebih efektif ketimbang “menyuluhi” mereka, yang belum tentu hasilnya. Mengejar-ngejar anak jalanan agar mereka ke rumah keluarga atau rumah perlindungan anak, atau bahkan menempatkan mereka di bangku sekolah sekalipun, tidak akan menggerakan mereka manjadi murid yang baik. Tetap saja kembali ke jalalan dan berkeliaran. Hidup di jalanan menyenangkan, dapat uang, nengak minuman keras sepuasnya, mendapatkan pengalaman seksual sedini mungkin, ngopi sampai pagi, dan tidak ada aturan standar. Itu membuat mereka “menemukan” dan “menjadi” individu yang memiliki otoritas, otonomi pada sumber daya di jalanan, dan memiliki mitos-mitos personal dan kelompok atas nilai-nilai yang juga dibangun dari jalanan.

Tapi masalahnya, bagaimana kalau kita biarkan jumlahnya semakin bertambah? Tidak perduli, dan kita sendiri egois dengan lebih senang memperbincangkan wacana komunikasi pada gaya hidup yang tidak kita miliki, gaya hidup yang sebenarnya juga tidak akan tersentuh, dan tali-temali komunikasi yang jauh dari realitas kita. Tidakah kita bisa memilih? Tidakah kita lebih baik menyentuh dunia yang dekat, dengan tenaga sedikit, dengan waktu yang tersisa, berbagi dengan mereka tentang apapun (positif tentunya). Bentuk-bentuk yang jamak di antaranya; mengenai yang produktif (life skill) untuk kehidupan, tentang kepekaan memilih peluang (soft skill) untuk usaha dan tentang nilai-nilai-nilai atau prinsip yang baik dan tidak baik menurut norma-norma yang menjadi standar yang berguna untuk bemasyarakat dan memelihara hubungan dengan yang Maha Kuasa.

II. Mereka Membutuhkan Sentuhan Komunikasi Spesifk

pelatihan-santri

Memasuki dunia kaum pinggiran, dunia yang jauh dari hingar bingar komunikasi hegemonis, dikuasai pasar, dan konspiratif, memang tidak mudah. Bahkan dengan niat baik apapun rasa curiga atau prasangka senantiasa muncul. Mungkin juga tidak salah, karena kita dibiasakan dengan komunikasi yang konspiratif, mendahulukan apa yang akan diterima, materialistis, dan cenderung memanfaatkan mereka yang hidup dipinggirkan untuk dukungan masal (kampanye politik misalnya, yang hanya dibayar 5 ribu-10 ribu agar ikut kampanye). Merupakan kesulitan tersendiri.

Upaya membangun minat dengan mendekatkan kepentingan “kita” dan “mereka” menjadi sebuah “pekerjaan bersama” adalah upaya mendekatkan komunikasi dengan mereka. Jika sudah demikian, upaya membuat bersama untuk berubah dengan itroduksi program secara “konspiratif” dalam makna untuk menggantikan kata partisipatif yang sudah usang, akan lebih kena untuk dilakukan.

Sebuah pengalaman yang tidak diduga, misalnya anak jalanan meminta diajari pidato, karena membutuhkan “improvement” kemampuan bicara saat mau ngamen, telah menjadi pekerjaan dengan tantangan sendiri, belajar nyablon bagi para santri di sebuah kampung nun jauh dari keramaian kota dan hingar-bingar media promosi modern menjadi sebuah semangat untuk diberikan kepada mereka. Bahkan permintaan membuat disain visual dengan software canggih tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk kegiatan publikasi di lingkungan sebuah pesantren. Dan satu lagi, ibu-ibu rumah tangga di desa terpencil yang biasa membantu suaminya di kebun di samping mengerjakan urusan rumah tangga, menjadi antusias manakala diajarkan komunikasi efektif antara suami-istri-anak. Mereka diskusi kelompok tentang kerumitan-kerumitan komunikasi dalam keluarga.

Kadang menimbulkan kebingungan sendiri, mengapa mereka seantusias itu? Apakah mereka juga ingin seperti masayarakat dengan IT di perkotaan di mana masyarakatnya dengan penuh gaya bahasa manakala tampil di depan publik. Pengamen ingin pintar pidato padahal mereka hanya sekedar menyampaikan salam di dekat pengemudi bis atau orang di jalan kala sedang menyantap jajanan  Perlukah pidato dahulu agar mengamen dengan baik? Kalau mereka meminta artinya penting, artinya diperlukan. Toh pengetahuan yang dibutuhkan untuk perubahan adalah pengetahuan yang dibutuhkan oleh publik. Digunakan user secara bermanfaat. Barangkali itu sentuhan-sentuhan komunikasi yang harus dikerjakan agar mereka juga “menjadi” bagian dari masyarakat dengan gaya komunikasi promotif, IT oriented dan masyarakat yang mengeksplorasi kemampuan berkomunikasi sepenuhnya untuk kepentingan kemaslahatan keluarganya.

Manakala sudah menjadi demikian, semuanya sudah mendekat dan kepentingan bersama didapatkan. Kerinduan-kerinduan bergabung dengan komunitas yang disebut residual, komunitas terpinggirkan sebagai perubahan dan modernisme, senantiasa muncul setiap saat. Seseorang akan semakin peka secara empati sosial, dan mereka semuanya tidak perlu diminta untuk bergerak atau dikejar-kejar semau kita. Mereka sendiri tahu kepentingan yang dirasakan. Tahu pergerakan harus dimuaai dari mana mau ke mana, dan tahu rambu-rambu mana yang tidak boleh dilanggar.

Namun demikian, semuanya memang tidak mudah. Kadang perencana sulit menentukan harus memulai dari mana dan mau ke mana. Jikapun sudah masuk dalam proses, jangan lupa tidak terbawa menjadi lebih jauh. Peka dan empatetis pada kepentingan subyek, juga ditambah peka terhadap kepentingan atau mision pribadi. Kita adalah bagian yang membantu mereka, dan harus segera memutuskan untuk menghentikan bantuan manakala mereka mandiri dan sudah tahu arah tujuan yang diinginkan mereka. Mereka tetap harus membawakan dirinya.

III. Membangunkan Apa yang Mereka Inginkan,dan Menyadarkan Apa yang Baik

Hampir selalu dirujuk dalam komunikasi untuk perubahan partisipatif, bahwa perubahan dalam perencanaan sosial yang berhasil adalah didasari keinginan mereka, katakanlah dalam hal ini masyarakat pinggiran, masyarakat yang tidak tersentuh dan juga miskin. Namun demikian sebagian besar perubahan selalu gagal dalam menghadapi kendala seperti ini. Pertanyaan besarnya menurut Diana Conyers (1994), “Apakah mereka (masyarakat) tahu apa yang mereka butuhkan?” “Apakah mereka tahu apa yang baik menurut mereka?”, dan mungkin juga menurut common sense saya “Apakah mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik bagi mereka?” Pernahkah anda melihat seorang anak jalanan menengak sembilan butir pil “destron” (dalam kamus perbedaharaan obat-obatan mereka) sekaligus? Mungkin akan menyedihkan melihat anak umur sembilan tahun merasakan akibatnya. Tapi katanya mereka suka, menyenangkan, dan bagian dari prestise di dapan kelompok.

Hal ini memang masalah yang tidak mudah dalam bagian perubahan untuk masayarakat pinggiran. Rata-rata bukan tidak tahu, tapi harus bagaimana. Sementara di lain pihak pengambil kebijakan lebih melihat pada kepentingan makro, serba cepat, dan menyelesaikan masalah dari muara bukan hilirnya. Lebih baik membongkar lapak dan rumah liar di bandingkan meningkatkan anggaran perumahan rakyat sederhana, lebih baik mengejar-ngejar anak jalanan untuk dimasukan ke dalam panti ketimbang menambah biaya atau anggaran pendidikan dasar dan menyediakan padat karya bagi orang tua mereka.

Oleh karena itu, setiap kita memiliki niat untuk “bersama” dengan mereka, maka harus menyiapkan diri dalam menerima kenyataan bahwa skala prioritas mereka mungkin sangat berbeda dari kenyataan skala prioritas yang dimiliki oleh kita. Walaupun kita sudah berusaha menjelaskan kepada mereka. Hal yang harus ditanggung, sentuhan-sentuhan komunikasi kita dengan mereka adalah membuka ruang-ruang privat atau agenda “perencana” menjadi penting agar diketahui mereka, hal ini akan menstimulasi bahwa mereka semakin tahu prioritas kita. Sementara di lain pihak peningkatan empatetis kita juga akan semakin masuk pada keinginan dan agenda privat mereka. Percayalah bahwa kemampuan saling membuka diri adalah awal yang baik untuk sharing dan dialog, dan terciptanya dialog adalah awal yang tepat untuk membangun kepentingan bersama. Dan dari sanalah hasil perubahan dan resikonya senantiasa memunculkan kebanggaan dan tanggung jawab bersama.

Wassalam

Perenungan Hasil Perjalanan Pengabdian Masyarakat Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Di Tasikmalaya, Desember 2008 dan Pelampiasan Rasa Kangen Pada Anak-anak Jalanan, Cirebon Juli-September 2008.





Fenomenologi sebagai Tradisi Penelitian Kualitatif

14 12 2008

“People actively interpret their experience and come to unnderstand the world by personal experience with it……the process of knowing through direct ecperience is the province of phenomenology.” (Littlejohn and Foss, 2005)

Di Mulai dari Sebuah Kesadaran Intersubyektif

Hakekatnya prinsip fenomenologi berkenaan dengan pemahaman tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif (dunia kehidupan) atau juga disebut Lebenswelt terbentuk. Fenomenologi bertujuan mengetahui bagaimana kita menginterpretasikan tindakan sosial kita dan orang lain sebagai sebuah yang bermakna (dimaknai) dan untuk merekonstruksi kembali turunan makna (makna yang digunakan saat berikutnya) dari tindakan yang bermakna pada komunikasi intersubjektif individu dalam dunia kehidupan sosial. (Rini Sudarmanti, 2005)

Dalam fenomenologi, setiap individu secara sadar mengalami sesuatu yang ada. Sesuatu yang ada yang pada kemudian menjadi pengalaman yang senantiasa akan dikonstruksi menjadi bahan untuk sebuah tindakan yang beramakna dalam kehidupan sosialnya.

Manakala berbicara sesuatu yang dikonstruksi, tidak terlepas dari interpretasi pengalaman di dalam waktu sebelumnya. Interpretasi itu sendiri berjalan dengan ketersediaa dari pengetahuan yang dimiliki. Namun demikian, sebagai mana proses interpretasi, harus diperhatikan kemampuan menangkap lebih jauh atau melihat sesuatu lebih jauh (seeing beyond) dalam fenomena yang sedang dikonstruksi itu,

Fenomenologi Sebagai Tradisi Penelitian

Jika dilanjutkan dengan fenomenologi sebagai sebuah metodologi penelitian, walaupun ada juga yang lebih senang menyebut sebagi tradisi penelitian, maka kita dapat menelusuri beberapa pengertian yang  sederhana. Metode Fenomenologi, menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52)  adalah, “a phenomenological study describes the meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon. Phenomenologist explore the structure of cosciousness in human experiences“. Sedangkan menurut Husserl (Creswell, 1998: 52).peneliti fenomenologis berusaha mencari tentang, “The essential, invariant structure (or essence) or the central underlying meaning of the experience and emphasize the intentionality of consciousness where experience contain both the outward appearance and inward consciousness based on memory, image, and meaning”.

Alasuutari (1995: 35) menyatakan bahwa, “…..phenomenology is to look at how the individual tries to interpret the world and to make sense of it”. Selanjutnya Husserl (Cuff and Payne, 1981: 122) menyatakan bahwa, “Phenomenology referred to his atempt to described the ultimate foundations of human experience by ‘seeing beyond ‘ the particulars of everyday experiences in order to describe the ‘essences’ which underpin them.” Menurut TD. Wilson dari Sheffield University London, dengan menggunakan pendekatan Schutz, secara lebih rinci menjelaskan, tujuan fenomenologi yaitu:

…is to study how human phenomena are experienced in consciousness, in cognitive and perceptual acts, as well as how they may be valued or appreciated aesthetically. Phenomenology seeks to understand how persons construct meaning and a key concept is intersubjectivity. Our experience of the world, upon which our thoughts about the world are based, is intersubjective because we experience the world with and through others.

Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku manusia yang dialami dalam kesadaran, dalam kognitif dan dalam tindakan-tindakan perseptual. Fenomenolog mencari pemahaman seseorang dalam membangun makna dan konsep kunci yang intersubyektif. Karena itu, menurut Kuswarno “…penelitian fenomenologis harus berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala…”

Logos Fenomenologi

Melakukan pemahaman terhadap fenomena melalui fenomenologi, mempertimbangkan mengetahui dua aspek penting yang biasa disebut dengan “logos”nya fenomenologi, yakni ‘intentionality’ dan ‘bracketing’. Intentionality adalah maksud memahami sesuatu, di mana setiap pengalaman individu memiliki sisi obyektif dan subyektif. Jika akan memahami, maka kedua sisi itu harus dikemukakan. Sisi obyektif fenomena (noema) artinya sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau sekalipun sesuatu yang masih akan dipikirkan (ide). Sedangkan sisi subyektif (noesis) adalah tindakan yang dimaksud (intended act) seperti merasa, mendengar, memikirkan, dan menilai ide.

Aspek kedua ‘bracketing’ atau juga disebut reduksi phenomenology, dimana seorang “pengamat” berupaya menyisihkan semua asumsi umum yang dibuat mengenai sesuatu fenomena. Seorang pengamat akan berusaha untuk menyisihkan dirinya dari prasangka, teori, filsafat, agama, bahkan ‘common sense’ sehingga dirinya mampu menerima gejala yang dihadapi sebagai mana adanya.

Studi fenomenologi dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi peneliti. Creswell (1998: 55) menjelaskan tantangan tersebut yaitu:

  • The researcher requires a solid grounding in the philosophical precepts of phenomenology.
  • The participants in the study need to be carefully chosen to be individuals who have experienced the phenomenon.
  • Bracketing personal experiences by the researcher may be difficult.
  • The researcher needs to decide how and in what way his or her personal experiences will introduced into the study.

Hakekatnya tantangan itu harus mampu duhadapi oleh seorang fenomenolog, penguasaan pada landasan filosofis dalam cara fikir fenomenologi, kemampuan memilih individu sebagai subyek yang mengalami yang akan dieksplorasi, kemampuan memelihara dan meningkatkan kemampuan logos fenomenologi, dan memilih serta memilah pengalaman bermakna yang dikonstruksi oleh subyek penelitian.





Mereka Mengumpulkan Uang untuk Biaya Sekolah

12 11 2008

Obrolan dengan Anak-anak Pengamen Kota Cirebon

Bermain peran adalah bagian dari kehidupan sosial individu dalam masyarakat. Seperti yang dituliskan oleh Erving Goffman tentang Dramaturgis, setiap individu selalu manata atau memanage front stage dan back stage mereka. Maner yang ditampilkan senantiasa ada kesenjangan antara maner di ruang publik dan ruang-ruang privat mereka. Tentu dari hal itu yang diharapkan adalah sosialisasi yang dikembangkan individu bisa berhasil dan diterima orang lain. Semua individu melakukan itu, masing-masing memiliki gaya dalam menata maner mereka.

Demikian halnya dengan anak-anak pengamen, ternyata di balik kelusuhan, kebersahajaan, dan ethos yang dibangun di jalan mereka membawa peran yang lain yang harus mereka mainkan. Kesibukan mereka turun ke jalan dan menjadi anak jalanan dengan gaya dan tata kelola peran sebagai anak jalanan, mereka memainkan peran yang lain. Manakala masuk lingkungan sekolah mereka adalah pelajar dan sekaligus bertaggung jawab dengan seluruh kewajiban termasuk biaya sekolah. Bisa ditangkap maknanya, mereka turun mengamen dan uangnya untuk sekolah.

Ketika mengobrol dengan anak-anak dengan peran demikian, ternyata mereka memiliki pendapat bahwa mereka turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Motif dasarnya adalah mengumpulkan uang dalam rangka bertanggung jawab untuk menutupi sebagian kebutuhan keuangan sekolah mereka. Bagi mereka menjadi anak jalanan tidak harus terlepas dari sekolah, walaupun mereka menjalaninya dengan keadaan yang cukup sulit, seperti masalah waktusekolah yang berbenturan dengan jam belajar, bertemu dengan guru, dan diledek teman sekolah.

Anak-anak Pengamen Kota CirebonSugeng Sarif yang biasa dipanggil Gepeng, merupakan salah satu anak yang termasuk pengamen dan pelajar. Sugeng tercata sebagai siswa kelas 10 SMAN 7 Kota Cirebon pada saat obrolan dilakukan. Sugeng berpendapat bahwa ekonomi keluarga menjadi alasan utama untuk membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk sekolah. Di bandingkan dengan pengemen lain, Sugeng tampak lebih terpelajar, bahkan mampu menyelesaikan sekolah pada saat pertemuan terakhir dengan dirinya. Menurut Sugeng, dirinya mengamen: “Karena kehidupan ekonomi Pak, ya tidak mencukupi Pa. Orang tua mah ngak kerja, jualan Pa. Ibu, ibu rumah tangga, kalau Bapak Jualan di Lemah Wungkuk. Jualannya beli barang bekas, ya alat-alat sepeda.”

Sugeng menyebutkan, dengan mengamen dirinya menutupi kebutuhan sekolah yang tidak cukup dipenuhi oleh orang tuanya. Keberadaan di jalan tidak semata-mata bermain tetapi berusaha memecahkan kebutuhan ongkos sekolah yang tidak memadai. Seperti dikatakannya; “Sering ngamen ya kehidupan ekonomi, kalau sekolah paling sangunya lima ribu, itu uang dari mana…ya dari hasil ngamen. Saya ngamen Cuma buat sangu sekolah, makan, itu aja.”

Walaupun di samping itu juga dia memiliki alasan tambahan tatkala turun ke jalan. “Bisa tempat cari uang Pa, di jalan tuh bisa apa aja. Bisa cari uang, terus nambah pengetahuan daerah-daerah, ya pengetahuan daerah. Lingkungan…. senengnya berpindah-pindah tempat, kampung ini, kampung ini.”

Sugeng termasuk anak yang teliti dan pandai memanfaatkan penghasilan, hal itu disampaikan oleh teman-temannya. Misalnya, dari hasil mengamen selain mampu menambah uang sangu sekolah juga dirinya mampu membeli perlengkapan komunikasi seperti telepon mobile atau handphone. Dimana hal itu tidak dapat dilakukan oleh sebagain besar teman-teman ngamen lainnya.

Walaupun demikian seringkali aktivitas mengamen yang dijalankan bertubrukan dengan peran diri sebagai murid sekolah. Seperti diketahui sebagai anak sekolah Sugeng harus rajin berangkat sekolah tiap hari dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah itu. Akibatnya, karena desakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, meninggalkan sekolah adalah lebih baik dari pada tidak mendapatkan uang. Hal lain yang dia rasakan dalam benturan antara sekolah dengan aktivitas jalanan adalah bertemu dengan guru sekolah pada saat dia mengamen. Sugeng lebih suka menghindar dan teman-temanya yang mengutip uang.

“Ya malu aja ketemu temen sekolah, kalo temen sendirimah engak, malu ama temen sekolah aja. Kalo ketemu guru dan temen sekolah itu ada rasa malu aja. Kadang lagi masuk ke pecel, lihat guru, gurunya lagi makan, langsung lari. Tapi kalo lagi ngamen diminta aja, jaluk duitnya aja, tapi temen yang minta, sayanya ngumpet. Buat ngak keliatan ngamennya pake switer, nutup muka.”

Memainkan peran berbagi antara sebagai anak sekolah dan anak-anak jalanan adalah hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh Sugeng, juga dilakukan oleh Kipli. Walaupun dalam hal hasil mengamen, Kipli lebih senang menyerahkannya kepada orang tua. Dalam pikiran anak tersebut uang itu ditabung pada ibunya dan digunakan bagi kepentingan dirinya seperti biaya untuk membeli pakaian atau baju. Jerih payah hasil mayung pejalan kaki waktu hujan adalah pekerjaan rutin pada saat musim hujan. Sedangkan pada hari-hari biasa ia bekerja mengamen ala kadarnya, karena kemampuan mengamennya terbatas. Kipli hanya mampu memainkan dua sampai tiga lagu saja. “Nyari uang…mayungin kalo ujan, kalo ngak ujan ya ngamen pake gitar, lagunya Ungu Sesungguhnya manusia di Jalan jamblang deket parkiran.

Kipli (12) yang sehari-harinya nongkrong di Grage Mall Cirebon, tidak sepenuhnya menghabiskan waktu di jalanan. Hanya kurang empat jam sehari turun ke jalan. Namun pada hari-hari tertentu seperti libur dan Minggu waktunya habis digunakan di jalan dan nongkrong di Grage Mall. Ngamen, ojek payung, dan jualan kantong kresek dia lakukan untuk mendapatkan uang sekolah yang ditabung orang tuanya. Walaupun sanggahnya dia tidak membayar biaya sekolah karena iuran sekolah untak anak Sekolah Dasar sudah dibebaskan melalui dana BOS yang berlaku untuk pendidikan dasar. Dalam hal ini Kipli menyebutkan bahwa: “Duitnya dikasih semua sama Ibu, buat di tabung lebaran, karena sekolah ngak bayar

Anak jalanan ketiga yang memiliki status sebagai pelajar dan turun ke jalan adalah Yuda. Yang biasa dipanggil Narji oleh teman-temannya. Yuda masih sekolah kelas tiga di SMA Gracika Kota Cirebon. Pengamen yang sekolah, tetapi tidak berarti mengamen untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Bagi Yuda kebutuhan dasar sebagai anak dan kebutuhan lainnya sudah terpenuhi, bahkan orang tuanya memberinya sebuah sepeda motor. Namun demikian dia turun menjadi anak jalanan dengan motif yang berbeda dan unik dari teman-teman lainnya. Bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar tetapi untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan menambah koalisi pertemanan dengan anak-anak. Bahkan mungkin dirinya lebih banyak karena terbawa kebiasaan anak-anak di sekitarnya. Dalam hal ini Yuda adalah kasus anak yang potensial menjadi anak jalanan penuh karena terbiasa berkelompok dengan anak-anak jalanan. Saat obrolan berlangsung, waktu yang Dia habiskan di jalan pada saat pulang sekolah sore hari dan malam hari, serta sehari penuh pada saat libur hari minggu.

Niat mengamen ke jalan hanya sekedar belajar mencari uang untuk makan sendiri. Misalnya, Yuda mengatakan bahwa ngamen di jalan sekedar iseng-iseng atau itung-itung. Itung-itung dalam bahasa daerah Cirebon artinya sekedar melakukan. Lengkapnya dia mengatakan, “Itung-itung nyari uang aja buat makan sehari-hari. Padahal orang tuanya tidak mengharapkan turun ke jalan, bahkan mereka melarang keras anaknya turun mengamen. Mengapa demikian? Orang tuanya mampu memenuhi kebutuhan seahari-hari termasuk uang sekolah dan kebutuhan lainnya, menurut pengakuan Yuda.

Kapan anak jalanan seperti ini mengamen? Menurutnya mengamen saat dia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, seperti keinginan membeli sepotong pakean kemudian meminjam kepada teman pengamen. Pembayaran dilakukan setelah dia mendapatkan uang dari hasil mengamen, karena meminta kepada orang tua tidak dipenuhi.

Iseng-iseng mungkin lah bisa, tapi kalo Yuda tuh pa, kalo ngamen tuh ada perlunya aja, misalny kalo Yuda punya utang ke temen, jadi harus ngamen, soalne apa? Pikirane kalo Yuda minta ke orang tua ngak bakalan di kasih Pa.

Simak pula potongan wawancara dengan ketika ditelusuri lebih jauh tentang kebiasaan meminjam uang kepada pengamen yang lain:

Penulis

:

Kamu kan secara keuangan ngak punya masalah, ngak kayak temen kamu. Kenapa kamu turun ke jalan?

Anak Jalanan

:

Tapi sewaktu Yuda lagi ada utang ama temen tuh, pas udah kepaksa Pa

Penulis

:

Utang untuk apa kamu?

Anak Jalanan

:

Yuda pengen baju pisan. Ngak milie duit sih Ngak, buat beli baju. Milie duit pisan dikit, Isun misale ngamen dikit, kuwen gampang tak genti’i, dine kiyen. Minjem ke Nengak, sedine jumlahnya…Ngak bayarnya kikis sini ngamen dikit. Ngamen dapet bayarin ke Ngak..gitu.

Memainkan peran sebagai anak sekolah dan sekaligus anak jalanan bagi Yuda, bukan semata-mata peran diri yang memenuhi kebutuhan pribadi sebagai anak sekolah. Tetapi sekaligus peran ganda yang memainkan peran anak jalanan dengan kehidupa yang berbeda dengan anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang normal. Buktinya, Yuda biasa mengkonsumsi minuman keras dan obat yang dipakai di kalangan anak jalanan. Walupun dalam hal mengamen dia mengaku tidak pernah melakukan tindakan kriminal.

Seneng sih di jalan. Tapi apa gitu..ngak terlalu mencolok gitu..ngak kebawa-bawa yang negatif. Ngak pernah. Maksudnya cara-cara ngamen di jalan tuh ngak sering nyolong inilah, nyolong itulah. Ngak ke bawa-bawa kriminal gitulah.[1]

Sedangkan yang dimaksudkan senang berada di jalan, berkaitan dengan kehadiran teman bagi dirinya. Di mana kondisi tersebut tidak ia dapatkan dalam lingkungan di sekitar rumahnya.

Ya ngumpul sama temen-temen gitu, di jalan tuh lebih enak gitu, ketibang di dalam kempung tuh, lebih enak di jalan…..Maen gitar, bareng-bareng…kayak ngamen gitu aja.

Begitulah mereka bermain peran, sebagai pengamen dengan berbagai resiko interaksi jalanan dan sebagai pelajar yang harus berperan selayaknya pelajar. Begitu kompleks peran mereka, antara tuntutan peran pengamen sebagai kelompok devian dari anak-anak dan peran ideal sebagai pelajar. Tetapi mengapa mereka bisa memainkannya, bahkan beberapa di antara anak-anak itu sekarang sudah lulus pendidikan menengah dan berusaha mencari kerja dengan cara yang lain.

Mereka “mematahkan” mitos bahwa lingkungan yang kurang kondusif membentuk individu dengan tanggung jawab yang rendah. Mudah-mudahan tidak, setidaknya mereka masih memikirkan bangku sekolah, walaupun tidak mendekati peran ideal sebagai pelajar yang baik. Tetapi dengan pilihan yang sulit mereka memilih yang terbaik….hidup selalu ada pilihan yang terbaik di antara gangguan dan godaan pilihan tidak baik.”






Memahami Perilaku Manusia dari Penelitian Kualitatif

9 09 2008

Feomena manusia dalam masyarakat dapat didekati dengan pemahaman secara subjektif dan objektif. Secara subjektif, perilaku manusia dipahami dari sudut pandang dirinya, dengan kerangka pengalaman secara penuh dari individu itu sendiri. Peneliti hanya merangkai dan menstrukturkan pengalaman itu untuk temuan-temuan ilmiah dan berusaha memecahkan masalah masyarakat yang dihadapi. Hakekatnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam penedekatan subjektif berfokus pada manusia sebagai pelaku sosial yang menterjemahkan perilaku mereka tersebut. Peneliti hanya berperan sebagai pengamat dan penemu. Hal ini tentu sebaliknya dengan pendekatan objektif yang melihat peneliti sebagai penguji dan interpreter atas fenomena menusia dari kacamata teori yang digunakan.

Penelitian kualitatif adalah wujud metodologis yang memberikan protokol tatalaksana pendekatan subjektif. Dimana penelitian berusaha menjelaskan fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang kerangka pelaku atau subjek penelitian. Bagaimana melihat situasi dan konteks yang ada disekitarnya menurut sudut pandang mereka. Oleh karena itu, makna tentang objek yang diamati dalam penelitian kualitatif dibawa oleh para informan kepada peneliti. Thomas R. Lindlof (1995: 21-22), menjelaskan perbedaan pokok penelitian kualitatif dengan kuantitatif bahwa dalam penelitian kualitatif seorang peneliti mencari untuk memelihara bentuk dan isi dari tindakan atau perilaku manusia dan untuk menganalisis kualitasnya, dari pada ke dalam matematika dan transformasi formal lainnya.

Dengan mengutif pendapat Anderson dan Meyer, Thomas R. Lindlof (1995: 21-22), menguatkan pendapatnya bahwa, “Qualitative research methods are distinguished from quantitative methods in that they do not rest their evidence on the logic of mathematics, the principle of numbers, or the mehods of statistical analysis.” Selanjutnya dengan kalimatnya sendiri Anderson menyebutkan bahwa, “actual talk, gesture, and other social action are the raw materials of analysis.”

Sedangkan John W. Creswell dengan mengutif pendapat Denzin and Lincoln, menyebutkan bahwa:

Qualitative research involves the studied use and collection of e variety of empirical materials—case study, personal experience, introspective, life story, interview, obervational, historical, interactional, and visual texts—that describe routine and problematic moments and meaning in indi-viduals lives. (Creswell, 1998: 15)

Sedangkan John W. Creswell (1998: 15) sendiri membuat sebuah batasan yang lebih ringkas dengan menyebutkan bahwa; penelitian kualitatif adalah sebuah proses penyelidikan, pemahaman didasarkan pada perbedaan tradisi-tradisi metodologis pada penelitian yang menjelaskan permasalahan sosial atau manusia. Peneliti menjelaskan sebuah tempat, gambaran holistik, analisis kata-kata, laporan secara detail menurut sudut pandang informan dan perilaku studi dalam seting alamiah (natural setting).

Oleh karena itu menurut John W. Creswell (1998:16), berdasarkan pendapat Bogdan dan Biklen, Eisner, dan Meriam, menyebutkan bahwa sebuah penelitian dikatakan sebagai penelitian kualitatif jika menunjukkan ciri-ciri; (1) Penelitian dilakukan dalam seting alamiah (field focused) di mana sumber data di gali atau didapatkan. Peneliti tidak berusaha melakukan intervensi terhadap subjek-subjek penelitian, seperti mempengaruhi opini, memaksa sumber bertutur, dan tidak berusaha melayani informan secara empatetis.

Selanjutnya, (2) Peneliti adalah key instrument, dalam pengumpulan data, yang berusaha membangun validitas data melalui berbagai upaya pendekatan terhadap subjek penelitian. (3) Kumpulan data sebagai kata-kata atau gambar, (4) Hasil penelitian harus menjelaskan tentang proses dari pada produk, (5) Analisis data secara induktif, di mana peneliti kualitatif lebih tertarik pada bagian-bagian yang bersifat mikro, (5) Fokus pada perspektif partisipan, atau makna yang dimiliki mereka, (6) menggunakan bahasa ekspresif, dan (7) Memiliki kemampuan menyajikan secara persuasif dengan menyajikan alasan-alasan atau argumen yang berguna.

Sedangkan Deddy Mulyana (2003: 147-148), penelitian yang mengambil perspektif subjektif memiliki sembilan ciri sebagai berikut:

  1. Jika ditinjau dari sifat realitas, realitas komunikasi bersifat ganda, rumit, semu, dinamis (mudah berubah), dikonstruksikan, dan holistik; kebenaran realitas bersifat relatif.
  2. Segi sifat manusia (komunikator atau peserta komunikasi): aktor (komunikator) bersifat aktif, kreatif, dan memiliki kemauan bebas; perilaku (komunikasi) secara internal dikendalikan oleh individu
  3. Sifat hubungan dalam dan mengenai realitas (komunikasi): semua entitas secara simultan saling mempengaruhi, sehingga peneliti tak mungkin membedakan sebab dari akibat.
  4. Hubungan antara peneliti dan subjek penelitian: setaraf, empati, akrab, interaktif, timbal balik, saling mempengaruhi dan berjangka lama.
  5. Tujuan penelitian: menangani hal-hal bersifat khusus, bukan hanya perilaku terbuka, tetapi juga proses yang tak terucapkan, dengan sampel kecil/purposif; memahami peristiwa yang punya makna historis; menekankan perbedaan individu; mengembangkan hipotesis (teori) yang terikat oleh konteks dan waktu; membuat penilaian etis/estetis atas fenomena (komunikasi) spesifik.
  6. Metode penelitian: deskriptif (wawancara tak berstruktur/mendalam, pengamatan berperan-serta), analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis, penafsiran sangat ditekankan alih-alih pengamatan objektif.
  7. Analisis: induktif; berkesinambungan sejak awal hingga akhir; mencari model, pola, atau tema.
  8. Kriteria kualitas penelitian: otentisitas, yakni sejauh mana temuan penelitian mencerminkan penghayatan subjek yang diteliti (komunikator).
  9. Peran nilai: nilai, etika, dan pilihan moral peneliti melekat dalam proses penelitian (pemilihan masalah penelitian, tujuan penelitian, paradigma, teori dan metode/teknik analisis yang digunakan, dsb.).

Penelitian kualitatif harus berupaya mengembangkan tujuan yang berorientasi pada pemahaman peneliti terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan subjek penelitian. Menurut Joseph A. Maxwell (1996: p.17-20) tujuan penelitian kualitatif yang cocok untuk dikembangkan dalam mengkaji sebuah fenomena perilaku manusia adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian kualitatif berusaha memahami makna (understanding the meaning) yang dimiliki oleh partisipan dalam sebuah studi tentang peristiwa, situasi, dan perilaku di mana mereka terlibat di dalamnya. Peneliti berupaya menangkap makna yang berasal dari sudut pandang partisipan (participants’ perspective) manakala mereka berhadapan dengan peristiwa atau kejadian yang bersifat fisik (physical events) dan sekaligus upaya partisipan mengerti dan merasakan (sense making) tentang peristiwa tersebut.
  2. Memahami fakta atau keterangan-keterangan di dalam konteks yang mana partisipan bertindak, serta pengaruh dari konteks tersebut terhadap perilaku mereka. Oleh karena itu, dalam studi kualitatif ditekankan pada pemahaman individu yang jumlah relatif lebih sedikit (kecil) ketimbang mengumpulkan data dari sejumlah besar orang.
  3. Mengidentifikasi pengaruh dan fenomena yang tidak dapat diantisipasi dan menghasilkan grounded theory tentang kejadian akhir.
  4. Memahami proses yang mana peristiwa atau tindakan-tindaka itu dilakukan. Seperti yang dikemukakan oleh Merriam dalam pendapat Maxwell (1996 : p. 19), bahwa penelitian kualitatif lebih tertarik pada penggambaran proses dari pada hasil akhir (outcome).
  5. Berupaya mengembangkan penjelasan-penjelasan sebab akibat. Hal ini berbeda dengan penelitian kuantitatif yang lebih menekankan penjelasan hubungan sebab akibat tentang keberadaan variabel-variabel tersebut berhubungan. Dalam penelitian kuantitatif penjelasan hubungan sebab akibat untuk menjawab bagaimana variabel bebas memainkan peran dalam menyebabkan terhadap variabel terikat. Penjelasan sebab akibat dalam penelitian kualitatif merupakan bagian dari proses teorisasi, di mana peneliti berupaya menjelaskan proses sebab akibat yang berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian.

Dalam taradisi penelitian kualitatif setiap fenomena manusia dan perilakuknya dapat didekati dengan berbagai pendekatan yang ada, misalnya: Etnografi, Fenomenologi, Grounded Theory, Etnometodologi, Historis, Biografi, Interaksionisme Simbolik dan Clinical Research. Namun demikian fokus utamanya tetap pada manusia sebagai kreator dalam sistem sosial yang secara sukarela dan otonom melakukan tindakan-tindakan sosial.