Menghargai Hidup Lewat Cara Morrie Menghadapi Kematian

24 11 2008

(Esay: Tuesdays With Morrie)

So many people walk around with a meaningless life. They seem half-asleep, even when they’re busy doing things they think are important. This is because they are chasing the wrong things. The way you get meaning into your life is to devote yourself to loving others, devote yourself to your community around you, and devote yourself to creating something that gives you purpose and meaning.

The most important thing in life is to learn how to give out love, and to let it come in.


Begitu banyak orang di sekitar berjalan dengan hidup sia-sia. Mereka tampaknya setengah-tidur, bahkan ketika mereka sedang sibuk berpikir, mereka melakukan hal-hal yang penting. Hal ini karena mereka mengejar sesuatu yang salah. Cara menerima berarti dalam hidup Anda sendiri adalah untuk mencurahkan penuh kasih untuk orang lain, mencurahkan Anda sendiri untuk masyarakat di sekitar Anda, dan mencurahkan sendiri untuk membuat sesuatu yang memberikan arti dan tujuan Anda.

“Tuesdays with Morrie” Begitu judul sebuah buku esay yang saya baca. Biasanya saya tidak tertarik membaca novel atau esay, tetapi hari itu seorang mahasiswa menyodorkannya kepada saya dan mengatakan buku ini bagus. Tentu sebagai rasa ucapan terima kasih kepada yang memberi, saya baca esay itu secara perlahan di waktu senggang. Berusaha menangkap judul dan mengira-ngira isi dari judul adalah kebiasaan saya. Apa maksudnya! Penasaran di baca halaman demi halaman, mengalir, masuk ke otak dan mebuat saya sadar bahwa ini tentang kematian seseorang, kematian yang akan segera menjemput seorang profesor karena penyakit yang sangat berat. Di sisa “waktunya” profesor berusaha menterjemahkan makna seluruh hidup dari masa menjelang kematian.

Makna yang diulang-ulang Profesor Morrie, kematian memang bukan sesuatu yang bisa dihindari, sama dengan tidak bisa menghindari dari masa lalu dengan membuang (tidak mengingat) masa lalu itu, sama dengan takut menjadi tua, padahal tua akan datang dengan sendirinya, dan sama dengan ketidakmampuan menghindari sakit hati/patah hati dari cinta padahal akan datang pada suatu “waktu”.

Semua bukan untuk dihindari tapi biarkanlah itu semua datang dan “melumuri” tubuh kita, merasakannya, dan memberi makna kepada semuanya. Dengan begitu kita akan menghargai kematian dan sebaliknya lebih menghargai kehidupan, merasakan datangnya masa tua dan sebaliknya lebih menghargai masa muda dulu, merasakan patah hati dan semakin menghargai sebelum patah hati itu datang, dan menghargai masa lalu sebagai bagian yang tidak bisa dihindari dalam “ada “ di masa sekarang. Karena kita pernah mengalaminya. Biarkanlah kran-kran semua itu kita buka dan datang “menyembur” membasuh tubuh kita. Bukan untuk ditutup rapat-rapat, karena dengan begitu kita tidak mampu merasakannya, mungkin berusaha membuangnya, menidatahukanya, dan tidak mempelajarinya, akhirnya tidak mampu menghargainya.

Begitulah cara Morrie berbagi dengan “murid-muridnya” untuk menunjukkan pada kita cara menyikapi kematian agar lebih menghargai apa yang dia lalui dan dapatkan dalam hidupnya.

Banyak hal menyadarkan saya melalui semua topik dalam perkuliahan Morrie dengan mahasiswanya. Dan salah satunya adalah Mitch si penulis thesis terakhir Morrie. Tapi satu hal, dari semua topik itu mereka berbicara tentang makna hidup, arti hidup, dan arah hidup. Mau kemana kita dan ingat tidak satupun yang kita bawa menjelang ajal. Hanya persahabatan dan cinta (emosi) menurut Morrie yang akan tersisa dalam ingatan setiap orang setelah pergi.


Actions

Information

14 responses

25 11 2008
teddy k wirakusumah

gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, profesor mati meninggalkan cinta dan persahabatan, begitu maksudnya boss?

25 11 2008
ira mirawati

aduh bapak, menyentuh sekali. saya sering berpikir, kalau saya meninggal nanti apakah ada orang yang akan mendoakan saya dengan tulus, yang merasakan sedih karena tidak akan bertemu saya lagi.
doa saya adalah semoga saya mati dalam keadaan khusnul khotimah ketika sedang melakukan kebaikan, bukan saat saya berbuat jahat. amin.

25 11 2008
atwarbajari

Lingkungan Morrie memang dekat dengan dunia kita, dan rasanya saya mengidolakan morrie pada saat berhadapan dengan mahasiswanya…apakah bisa?
Sampai menjelang ajal datang karena penyakit berat, beliau tidak sepi dari kunjungan kolega dan murid-muridnya.

25 11 2008
atwarbajari

Ted judul buku itu pernah kita diskusikan…dan contoh menulis kualitatif yang sangat baik. Setuju lah dengan pendapatnya….

25 11 2008
Hejis

Salah satu dimensi orang yang mulia di mata Allah adalah orang yang menyadari kehidupan ini mesti diisi (dengan tuntunan Allah) dan kematian mesti dipersiapkan, mungkin begitu ya kang Atwar. Dengan bahasa bu Ira, “khusnul khatimah”. Subhanallah.

26 11 2008
Glitterpury

Pak atwar mah pury yakin.. Ga bkalan sepi kunjungan dr murid dan kolega,,kan kata ibu Ira,pak atwar bnyk fansnya B-)

26 11 2008
Glitterpury

Selama ada niat baik, ketulusan hati, dan keiklasan jiwa.. Dalam menjalani hidup,, Setiap org saya yakin bisa seperti Morrie.. Tidak hanya seorang profesor, mungkin petugas pengambil bola dlm pertandingan tennis pun memiliki ksempatan yg sama seperti morrie.. Dgn cara yang berbeda tentunya..

28 11 2008
winangun

selami dimensi kata , dalam dunia penuh makna…?
mantap uy.. pa minjem athu bukunya sayah jadi panasaran

1 12 2008
atwar

Boleh….bagi-bagi pengetahuan dan kesadaran, giman cara nganternya?

1 12 2008
Roberto Edward

Pa atwar, klo ga salah bukunya yang waktu itu bapak tunjukin ke saya ya? jadi penasaran ingin membacanya juga… siapa tahu bisa menjadi teman dalam mengisi waktu luang saya yang sekarang sedang berlimpah ruah… hehe… Boleh tau pa judul novel dan pengarangnya? saya lupa…

2 12 2008
atwarbajari

Bener Yu….judulnya Tuesdays with Morrie….baca ya

23 12 2008
dayinta amandini cinantya

selesai baca buku ini saya langsung tahu kunci untuk berdamai dengan diri sendiri yaitu conversation, interaction, affection (seperti yg Morrie blg kpd Mitch). kalau yg favorit saya dari Mitch Albom judulny for one more day, pak.. tidak kalah menyentuh dibanding Tuesday with Morrie, karna ini menyangkut ibu sih jadi siapa pun pasti akan sangattttt terenyuh. he he he

24 12 2008
atwarbajari

Ya satu hal lagi kunci hidup dari Morrie adalah berdamai dengan diri, berdamai dengan segala yang menyangkut masalah yang ada pada diri kita dengan hati ikhlas dan pasrah, maka kita tidak akan berat menerimnya. Kalau ngak salah begitu ya? Oke thanks infonya, mudah-mudahan saya sempat membaca buku berikutnya yang dikabarkan Dayinta…

25 01 2009
kartika

siapa takut menghadapi kematian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: