Kenapa Framing Media terhadap Syekh yang Menikahi Ulfa tidak Berimbang?

28 10 2008

Dalam Islam seorang laki-laki dihalalkan menikah lebih dari satu. Tidak bisa dibantah, agama memperbolehkannya, dan terutama kaum laki-laki banyak yang mengamalkan sunnah itu sebagaimana Rasul juga melakukan poligami. Namun tentu sudah mafhum bahwa pernikahan itu tidak menimbulkan fitnah dan konflik di antara kerabat dan lingkungan kita, atau anggaplah bahwa pernikahan yang dilakukan untuk yang kedua, ketiga dan atu keempat membawa berkah dan mengedepankan nilai ibadah.

Manakala minggu-minggu ini kita dihebohkan dengan pernikahan seorang ”syekh” dengan gadis belia untuk istrinya yang kedua, bukan lagi sikap  mafhum, tetapi aneh, nyeleneh, dan bertanya maunya apa. Beberapa kali menyimak alasan sang Syekh mengenai motif yang ada dalam dirinya, tetap jauh dari penjelasan memuaskan. Walaupun secara pribadi reaksi emosional pribadi mengatakan bahwa emosi dikonstruksi oleh media yang mencuplik dan memotong sebagian komentar dari para aktor. Akhirnya, seperti juga reaksi kita pada isu media, cenderung dominan dikonstruksi seperti yang diinginkan media. Kita melihat Syekh sbagai tokoh ”si jahat” dan ”si baik” Ulfa sebagai ”princes” yang sedang berada dalam cengkramanan tokoh ”si jahat” itu.

Saat ini, media yang sedang memberitakan kehebohan ceritra tersebut sedang memuaskan pemirsa dengan cerita dari ”si jahat” dengan perangai buruk rupa dan ”si baik” dengan kepolosan dan kecantikannya. Pemirsa disuguhi dongeng klasik layaknya dalam film-film yang mengisahkan pemaksaan orang tua dengan kepentingan ekonomi dan ”si jahat” dengan kekuasaan untuk membangun ceritra yang lama itu. Itu realitas yang tetap dominan ada dalam alur cerita seperti ini. Walaupun biasanya dalam film klasik akan diselesaikan dengan kehadiran ”sang Pangeran” untuk menyelesaikan masalah.

Dalam ceritra kita kali ini, mungkin bakal tidak ada yang namanya ”sang pangeran” yang bisa menolong, dan ada kemungkinan media akan ”kecapean” merekonstruksi cerita, semuanya akan kembali kepada keheningan. Keheningan sebagaimana kalahnya kaum terpinggirkan yaitu perempuan yang lemah dan tidak tau berperan apa dalam cerita kita sekarang ini.

Bisakah kita bayangkan bahwa Ulfa yang polos itu tidak mengerti dengan cerita dan reaksi media, opini tokoh-tokoh perlindungan anak, dan pendapat Majlis Ulama Indonesia? Mungkinkah dia berpikir, kenapa saya tidak boleh menikah dengan tokoh dan orang kaya? Kenapa saya tidak boleh mendapatkan kesenangan dari pernikahan saya? Toh saya sudah mencapai akil baligh? Ini hanya sekedar pertanyaan imajiner saya ketika melihat media membenamkan sosok gender dalam alur konstruksi cerita media. Media hanya sedikit memberi ruang publik kepada perempuan dalam alur cerita mereka, mereka tidak berani menginvestigasi seorang Ulfa, temanya Ulfa yang perempuan, atau seorang anak perempuan yang diluar kasus itu jumlahnya ratusan seperti yang terjadi di wilayah lain. Mau lebih nyata? Tengok atau telusuri alur ceritra semodel Ulfa yang ada di wilayah jalur Pantura. Mereka dinikahkan semuda mungkin agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi ketika mereka memasuki dunia sebagai pekerja seks di bawa umur.

Framing media terhadap kasus dengan hanya mengedepankan sudut pandang ”kepentingan laki-laki”, sudah menjadi lebel jualan media. Cenderung tidak adil pada pihak yang tidak berdaya, dan seolah mengedepankan kepentingan publik pada hal realitas ”kaum laki-laki” pemiliki kekuatan.

Dalam kasus seperti ini, framing media hakekatnya dapat diperluas atau dibuka untuk melihat kacamata atau sudut pandang lain. Dalam hal ini perempuan atau seorang anak perempuan yang menurut perlindungan anak masih memiliki hak dilindungi dan diadvokasi sebagai anak; bermain, bersekolah, bergaul, dan membangun karakter peran sosial yang lebih besar. Framing media harus berpihak secara seimbang pada sosok anak perempuan yang diceritakan dalam alur cerita yang dibangun. Walaupun media mengalami kesulitan mendapatkan informasi dari Ulfa, kenapa tidak didorong kasus-kasus anak yang lain atau mantan anak-anak lain yang sekarang sudah dewasa untuk mendongengkan cerita mereka kepada publik. Tengok data terakhir korban trafiking dan pekerja seks yang dinikahkan lebih dulu, memulai tragedi itu pada saat mereka sedang anak-anak. Hakekaktnya media harus bersedia berbagi ceritra dan mengkonstruksi cerita dari kepentingan gender yang seimbang. Mari kita sadari itu sebagai ketidakadilan yang selalu dominan dari kepentingan media secara sepihak. Kita bukan pemirsa inferior, tetapi selalu bertanya atas cerita yang mereka bagikan kepada kita. Bukan berarti pembawa acaranya perempuan lantas sudah adil secara gender dalam framing media.

 

 

 


Actions

Information

7 responses

29 10 2008
ira mirawati

wah artikel yang hangat dan sangat menarik Pak. harus diakui, media memang tidak berimbang dalam memberitakan fenomena sang “syekh” ini. beberapa media bahkan benar-benar hanya mengungkapkan opini mereka tanpa informasi yang memadai dari berbagai sumber. lembaga2 perlindungan anak ramai2 mengadukan kasus ini pada polisi, pun tanpa informasi memadai dari sumbernya langsung.
mendengar berita2 kasus ini, pertanyaan yang ada dikepala saya : jangan2 sebenarnya ini adalah jalan yang paling baik untuk ulfa. jangan2 jika tidak dinikahi oleh sang syeikh, kehidupannya justru tidak sebaik ini.
apapun hasilnya, akan menjadi adil jika kemudian pemberitaan dilakukan dengan informasi dari berbagai sumber secara seimbang. sayangnya, media tidak berupaya ke arah sana. Wallahu’alam

31 10 2008
kajiankomunikasi

(1) Dominasi tayangan media televisi berpusat pada adanya semacam “konspirasi lunak” dari berbagai stasiun televisi dalam menentukan lapisan-lapisan tayangan yang menjadi andalan dalam menguasai “pembaca” (meminjam istilah teori kritis untuk menyebut semua jenis khalayak). Rasa percaya diri mereka untuk menguasai pembaca ini diperkuat oleh para pemasang iklan yang sumbernya lembaga rating, asumsi pribadi-pribadi dari pucuk pimpinan perusahaan pemasang iklan, dan kadang-kadang dari survey terhadap pembaca2 televisi yang salah sasaran. Tentu konstruksi media memiliki kekuatan dalam meluncurkan program-program tayangan, tetapi mungkin sekali waktu perlu melihat bahwa pisau analisis kita (framing). Sehingga ketika kita membedah pesan di media ada kalanya terdapat bagian lain yang tak sengaja tersayat.

(2) Media senantiasa berupaya agar life time setiap tayangan yang sudah dikemas dengan canggih terjaga dengan cara menyicil sorotan pada suatu topik disertai bumbu2 yang bombastis (mulai dari fakta yang didandani, tokoh yang dihadirkan, atau penekanan paralanguage, dan seterusnya).

Maaf pak Atwar, saya ikut nimbrung. Salam hangat ya pak dari Malang.

1 11 2008
teddykw

SEPAKATLAH dengan pak heru puji winarso dari malang. Cuma yang pasti, bagian yang sering tersayat oleh “pisau kita”, seperti misalnya berapa banyak keuntungan yang diperoleh media hasil pemberitaan semacam itu tidak akan pernah diakui media. Plus para pemerhati media seperti bu ira, pa atwar dan pa heru tidak akan dipilih menjadi tokoh yang dihadirkan media, karena bisa menyayat pendapatan mereka ha ha ha

1 11 2008
atwarbajari

Terimaksih untuk semua komen, mudah-mudah kita menjadi bagian dari komunitas publik yang sadar dengan kekuatan media dalam mengkonstruksi citra, tetapi selalu kritis pada “isu” yang mereka lemparkan. Toh seperti kata Teddy, mereka mendapatkan keuntungan dari apa yang mereka “lemparkan” kepada kita….salam hangat slalu atas pertemuan lewat blog ini

5 11 2008
indah rephi

yang saya protes dari media adalah..membesar2kan masalah. masalah yg ga ada diubek2 jd ada, masalah yg udah ada diuleg2 di kasih bumbu biar jd gede lalu jd berita yg layak di blowup ke permukaan, diulang2 sampe pemirsanya pada bosen.
bukannya saya mw mendukung syeh puji ya *saya anti poligami*, tp kl urusan seperti ini lalu diubek2 sampe dia ga punya privasi lagi kan ujung2 nya fitnah.

13 11 2008
meiisme

pak, saya mau nanya..
kasus ini bisa ga disebut eksploitasi media terhadap anak di bawah umur?
bahwa seharusnya identitas ulfa tidak boleh disebutkan, fotonya tidak boleh dipublikasikan, jadi media bukannya menyelamatkan dia dari “cengkraman si jahat” malah menjerumuskan dia?

makasih..

14 11 2008
atwarbajari

Sejauh mendiskreditkan dan menempatkan korban dalam posisi yang tidak menguntungkan adalah ketidakmampuan media dalam menjaga sumber berita, dan itu sebuah pelanggaran terhadap hak-hak sumber berita untuk tidak disebutkan identitasnya. Memang banyak hal yang dilanggar media, termasuk kasus Ulfa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: