Perspektif Media Massa terhadap Konfigurasi Laki-laki dan Perempuan

17 06 2008

Menurut Wood (1996) media massa telah membangun makna tentang pria dan perempuan serta hubungan antara pria dan perempuan. Wood berdasarkan hasil risetnya secara gamblang menguraikan bahwa stereotif yang berkembang yaitu; secara umum pria dalam media ditampilkan sebagai aktif, petualang, kuat, agresif secara seksual, dan sebagian besar tidak tampil dalam hubungan yang bersifat manusiawi. Sementara itu, makna tentang perempuan yang didasarkan pada pandangan budaya secara konsisten, digambarkan sebagai objek seks yang selalu langsing, cantik, pasif, tergantung (dependen), dan sering tidak kompeten, serta dungu.

Selaras dengan ungkapan Wood, Doyle menyimpulkan dari hasil pengamatannya, bahwa citra yang dibentuk oleh media mengenai laki-laki adalah sebagai mahluk yang agresif, dominan dan ditempatkan dalam aktivitas yang menggairahkan, di mana dari citra yang terbentuk itu mereka menerima ganjaran dari orang lain untuk prestasi yang didapatkan dari kemaskulinitasannya (Wood, 1996).

Kemudian, McCauley, Thangavelu, dan Rozin (1988) yang juga dikutif oleh Wood, menyatakan bahwa mayoritas laki-laki yang ditayangkan dalam waktu primetime televisi adalah independen, agresif, dan berkuasa. Sedangkan, untuk seluruh usia dalam tayangan televisi digambarkan sebagai; serius, konfiden, kompeten, powerfull, dan dalam posisi yang tinggi.

Selanjutnya Brown dan Campbel (1997), menyebutkan aspek yang tidak muncul dalam televisi dari laki-laki yaitu mereka jarang ditampilkan dalam aktivitas atau pekerjaan rumah tangga. Di mana menurut Horovitz yang dimaksud dengan pekerjaan rumah adalah pekerjaan memasak dan mengurus anak.

Di lain pihak gambaran yang diperlihatkan tentang perempuan, menurut Davis, ternyata perempuan tampak lebih muda dan langsing daripada perempuan kebanyakan dan digambarkan sebagai pasif, dependen terhadap laki-laki, dan terlibat dalam hubungan sosial atau pekerjaan rumah. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil pengamatan waktu tayang primetime dalam televisi pada tahun 1987 (Davis, 1990).

Menurut Craft, dan Sanders and Rock, Penampilan muda dan cantik dari seorang perempuan seringkali juga mempengaruhi harapan terhadap acara siaran berita. Dalam hal ini, penyiar perempuan diharapkan muda, atraktif secara fisik, dan kurang terbuka dari pada laki-laki (Craft, 1988; Sanders and Rock, 1988).

Penggambaran media tentang perempuan melahirkan dua citra tentang perempuan; perempuan baik dan perempuan buruk. Perempuan baik yaitu; cantik, differential, dan fokus di dalam rumah, keluarga, dan melindungi yang lain. Bagian dari laki-laki; yakni mereka biasanya sebagai korban, malaikat, martir, dan istri yang loyal dan penolong. Sedangkan perempuan buruk ditampilkan sebagai; tukang fitnah, pelacur, jalang, atau non-perempuan, yang ditampilkan sebagai keras, dingin, agresif- pada semua itu perempuan baik tidak seperti itu.

Demikian pula Marwah Daud Ibrahim (1998) memiliki pendapat yang senada dengan para penulis di atas bahwa; potret diri perempuan di media massa, dalam literatur, surat kabar/majalah, film, televisi, iklan, dan buku-buku masih memper-lihatkan stereotip yang merugikan: perempuan pasif, tergantung pada pria, dan terutama malihat dirinya sebagai simbol seks.

Atas kondisi yang terjadi tersebut, Marwah (1998) mengemukakan tiga pertanyaan yang kemudian dijawabnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: (1) Mengapa gambaran perempuan di media masih suram juga?; (2) Dikaitkan dengan perkembangan terakhir tentang kian meningkatnya peran perempuan dalam masyarakat, bagaimana kira-kira trend dari proyeksi perempuan di masa depan?; (3) Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan citra positif tentang perempuan di media massa?

Dari pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan diatas, jawaban untuk pertanyaan yang pertama relevan dengan masalah penelitian ini untuk dibahas. Menurut Marwah, faktor-faktor yang menyebabkan gambaran perempuan begitu suram dalam media massa adalah:

  • Pertama, karena faktor realitas realitas sosial dan budaya perempuan memang belumlah menggembirakan juga. Media pada dasarnya adalah cermin dan refleksi dari masyarakat secara umum.
  • Kedua, media massa pada dasarnya cenderung mengangkat hal-hal yang mena-rik dalam masyarakat. Ini pada gilirannya membuat media meliput orang-orang yang berpengaruh dari berbagai kehidupan: politik, agama, sastra, teknologi, ekonomi, dan sebagainya. Jadi kalau potret perempuan masih minim dalam deretan orang berpengaruh itu berarti bahwa dalam kenyataannya orang yang dinilai berpengaruh itu sangat terbatas jumlahnya yang berkelamin perempuan.
  • Ketiga, media massa menganggap bahwa yang memilukan merupakan sesuatu yang menarik. Pelakon dari hal-hal yang memilukan, menguras air mata, dan emosi adalah perempuan, sehingga jangan heran jika kisah-kisah sedih, yang memperlihatkan gambaran perempuan sebagai mahluk yang lemah, merupakan potret umum tentang perempuan.
  • Keempat, mengapa gambaran perempuan dalam media masih cenderung sebagai objek, adalah karena yang mendominasi media: pemilik, penulis, reporter, editor, dan sebagainya itu masih didominasi oleh pria. Sepanjang ini masih terjadi perempuan tidak bisa melakukan banyak hal, atau menuntut beragam kehendak sekitar perubahan citra mereka di media massa.
  • Dari berbagai pendapat yang telah dituliskan, seluruhnya memiliki pendapat bahwa media massa telah membentuk citra stereotip atas dasar gender dengan berbagai argumentasi yang dikemukakan. Namun hakikatnya, menurut Wood media tidak hanya sekedar membentuk citra masing-masing pihak, tetapi bila kedua jenis gender itu bertemu dalam satu fragmentasi alur ceritra, maka akan terbentuk stereotip yang saling bertolak belakang.

Terdapat empat tema yang ditampilkan, bagaimana media merefleksikan dan menanamkan susunan tradisional di antara gender, yakni:

a. Perempuan dependen dan pria independen

Dalam peran-peran yang dimainkan, perempuan sebagai kelompok minooritas, kebanyakan memainkan peran pendukung untuk sebuah peran pokok yang biasanya dipegang oleh kaum pria. Sebagai contoh, hasil analisis MTV ternyata mereka menayangkan perempuan atau perempuan sebagai seorang yang pasif dan menunggu perhatian dari pria, di mana pria ditampilkan cuek, mengeksploitir, atau memerintah perempuan (Brown, Campbell, dan Fisher, dalam Wood, 1997).

Demikian pula studi yang dilakukan oleh Pareles dan Texier (dalam Wood, 1997), yang meneliti klip lagu-lagu rap di Amerika. Menurut hasil penelitian mereka bahwa dalam video musik rap yang dibintangi pria dan perempuan Afrika-Amerika, ditampilkan bahwa pria mendominasi perempuan, di mana para bintang perempuan menjadi objek hasrat dari kaum pria.

Studi tentang peran-peran perempuan yang cenderung inferior dalam kaitannya dengan peran-peran pria, tidak hanya berlangsung dalam media TV dan film, tetapi juga terjadi dalam surat kabar dan atau majalah. Majalah berperan dalam menempatkan kembali pola-pola tradisional dominan-subordinat dalam hubungan laki-laki-perempuan, yang mana memperkuat kembali fokus mereka terhadap peran-peran perempuan sebagai pengayom dan pendukung suami dan keluarga (Pairce dalam Wood, 1997).

b. Perempuan yang tidak kompeten dan pria yang berkuasa

Tema kedua yang terekam dalam studi tentang relasi laki-laki-perempuan dalam media massa yaitu, perempuan dianggap tidak berdaya di tengah-tengah masyarakat yang dikendalikan kaum pria. Kompetensi pria yang ditampilkan pada hakikatnya digunakan oleh mereka untuk melindungi para perempuan dari ketidakberdayaannya.

Peran televisi dalam memposisikan ketidakseimbangan peran laki-laki-perempuan, cukup kuat. Dalam hal ini TV mengkomunikasikan pesan bahwa pria berkuasa dan perempuan tidak. Pesan demikian makin kuat keberadaannya tatkala disajikan dalam program-program yang ditempatkan pada waktu prime-time. Televisi membentuk citra dengan menampilkan perempuan yang butuh pertolongan pria dan lebih banyak menampilkan perempuan sebagai inkompeten lebih dari pada laki-laki (Boyer dan Lichter dalam Wood, 1997).

c. Perempuan menerima dan menggunakan penghasilan

dan pria sebagai pencari nafkah

Asumsi ini memperkuat peran-peran tradisional perempuan. Maksudnya peran-peran sosial perempuan lebih banyak dikerjakan dan bertanggungjawab terhadap urusan rumah. Sementara laki-laki menghabiskan waktunya di luar rumah untuk mencari nafkah demi kesejahteraan keluarga (istri dan anak-anaknya) yang ia tinggalkan di rumah.

Tetapi, tatkala dalam media massa digambarkan seorang perempuan yang bekerja di luar rumah, kehidupan karir mereka secara tipikal kurang diperhatikan oleh masyarakat. Bahkan dalam kondisi yang demikian sibukpun karakter mereka biasanya digambarkan sebagai orang yang memiliki tanggung jawab di dua tempat yakni mereka sangat memperhatikan keluarga, beperan sebagai ibu, dan istri. Dengan tuntutan seperti itu seolah masyarakat mengharapkan (harapan yang dibentuk oleh dunia laki-laki) munculnya “superwomen” yang harus bertanggungjawab pada semuanya.

d. Perempuan korban dan objek seks, dan laki-laki agresif

Pesan dalam media massa dalam berbagai bentuk seperti news (berita), iklan, drama rumah tangga/telenovela, feature, dan lain-lain, yang berkaitan dengan urusan perempuan sebagai korban dari objek seks agresivitas laki-laki, merupakan pokok pesan yang banyak ditemukan. Seolah-olah tanpa berita seperti itu, media tidak memiliki makna apa-apa dalam menjalankan fungsinya.

Dalam hal ini, alih-alih media massa akan memberitakan sesuatu secara objektif, misalnya berita tentang perkosaan yang dialami seorang perempuan, malah media massa itu sendiri secara tidak langsung menjadi alat stimulasi rasa ingin tahu bagi pembacanya tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Sehingga secara tidak langsung perempuan mengalami pelecehan kedua, yakni setelah mengalami/ditimpa perkosaan oleh laki-laki yang menyerangnya, dia juga menjadi objek berita yang menyiarkannya.

Menu berita maupun drama/telenovela yang berkaitan dengan perempuan sebagai korban pelecehan pria, telah menjadi pilihan beberapa media baik surat kabar/majalah, TV, maupun radio, sebagai menu pokok seperti berita utama dari media yang bersangkutan. Misalnya, bisa kita dapatkan dengan mudah media seperti tabloid yang menyajikan peristiwa perkosaan sebagai kolom yang mengupas secara detail apa, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana peritiwa itu terjadi. Dalam hal ini media justru bertindak sebagai alat stimulasi pemuas rasa ingin tahu peristiwa yang diberitakannya. Bila kita lihat dari kebanyakan berita yang ditampilkan, memiliki isi seragam yakni menampilkan perempuan atau perempuan sebagai korban atau objek dan laki-laki sebagai pelaku.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: