Perilaku Komunikasi dan Pembentukan Makna

17 06 2008

Perilaku Komunikasi dan Simbol-simbol Anak Jalanan

Komunikasi menurut Porter dan Samovar dalam Mulyana (1990: 19) tidak terjadi dalam “ruang hampa” sosial, tetapi komunikasi itu sendiri hidup karena berinteraksi dengan sistem sosial. Bahkan sebaliknya, komunikasi juga berkontribusi terhadap kehidupan sosial. Selanjutnya, Ehrenhaus dalam makalahnya tentang “Culture and Atribution Process” yang disunting oleh Gudykunst (1983: 259) menyatakan bahwa, “Communications sustain all human relationship. It is necessary but insufficient for organizing social life. That organization is further contingent upon the significance interactants attribute to the messages through which their relationship are constituted.”

Komunikasi bergerak melibatkan unsur lingkungan sebagai wahana yang “mencipta” proses komunikasi itu berlangsung. Porter dan Samovar dalam Mulyana (1990: 19), mengatakan alih-alih komunikasi merupakan matriks tindakan-tindakan sosial yang rumit dan saling berinteraksi, serta terjadi dalam suatu lingkungan sosial yang kompleks. Lingkungan sosial ini merefleksikan bagaimana orang hidup, dan berinteraksi dengan orang lain. Lingkungan sosial ini adalah budaya, dan bila kita ingin benar-benar memahami komunikasi, maka kita harus memahami budaya.

Memahami posisi budaya dalam proses komunikasi seseorang menjadi sangat penting. Komunikasi dan budaya saling mempengaruhi satu sama lain secara timbal balik. Manakala seseorang berbicara kepada orang lain, di dalamnya akan melibatkan proses pelaku untuk menetapakan siapa berbicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana. Bahkan lebih jauh, membicarakan budaya dalam proses komunikasi, akan menentukan bagaimana seseorang menyandi pesan, membentuk makna terhadap pesan, keadaan untuk menyampaikan, dan menafsirkan pesan. Hal ini menurut Mulyana (1990: 20) akan memiliki konsekuensi, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi.

Budaya dalam proses komunikasi erat kaitannya dengan makna yang disusun oleh pelaku komunikasi. Misalnya, seorang petani panili di pantai timur Mexico sulit memahami turis Amerika yang mengenakan kemeja sport menyolok, menyandang tas kamera yang besar, membeli banyak perhiasan murahan dan berbicara keras. “Mengapa mereka begitu ganjil?” (Horton and Hunt, 1984: 58).

Demikian pula, sebagian anak jalanan menggigil demam, dan yang lainnya berteriak-teriak di malam hari, ketika mereka menginap di sebuah hotel berbintang tiga dalam sebuah kegiatan pelatihan. Manakala di tegur oleh panitia, mereka berkata “Saya tidak biasa tidur jam sembilan malam, bisa tidur kalau sudah bernyanyi dan berteriak sampai menjelang pagi hari” Peristiwa ini merupakan pengalaman menarik ketika memberikan pelatihan bagi anak jalanan di Kuningan tahun 2001.

Dua contoh kasus tersebut merupakan bukti bahwa perbedaan kerangka budaya peserta komunikasi, menimbulkan perbedaan dalam menyusun kerangka persepsi. Akibatnya akan menghasilkan makna yang berbeda pula di antara mereka. Kesimpulannya, sebuah kejadian dan perilaku yang tampak, akan memiliki makna yang berbeda jika sebuah masyarakat itu heterogen.

Sir Edward Tylor dalam Horton and Hunt (1984: 58) menyebutkan bahwa kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Pendapat Tylor tersebut jika disederhanakan maksudnya, kebudayaan adalah sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat. Oleh karena itu, seorang anak mengetahui cara makan, minum, berpakaian, tatakrama dalam pergaulan, sampai tata langkah sebuah acara religius, dilakukan melalui interaksi dengan anggota masyarakat di dalam sebuah lingkup kebudayaan tertentu.

Di dalam sebuah kultur, terdapat sub-subkultur yang berkembang secara unik dan dinamis. Unik dalam pengertian dapat dibedakan dari kultur besar yang melingkupinya, dan dinamis maksudnya berinteraksi dan saling mempengaruhi secara timbal balik di antara keduanya. Oleh karena itu, dalam sebuah budaya yang lebih besar, di dalam diri individu itu sendiri berkembang pengaruh-pengaruh spesifik dari psikobudaya, sosiobudaya dan budaya.

Edgar dan Sedgwick menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sub kultur mengacu pada nilai, kepercayaan dan gaya hidup sebuah kelompok minoritas.

Anak Jalanan: Sebagai Sub Kultur dan Perilaku Komunikasi

Komunitas anak jalanan adalah subbudaya dari sebuah budaya yang lebih besar di mana anak jalanan berada. Seperti didefinisikan Wikipedia, bahwa budaya anak jalanan adalah:

Refers the cumulative culture of rhymes, songs, jokes, taboos, games, folklore, and places (e.g., places “known” to be “haunted” or “a den” or “forbidden”), etc. among young children. Collectively, this body of knowledge is passed down from one generation of urban children to the next, and can also be passed between different groups of children.

Pentingnya memahami peran budaya bahkan subbudaya dalam perilaku komunikasi, dapat ditelusuri sampai cara seseorang memberikan makna pada sebuah kata. Sebuah kata dapat diartikan secara berbeda karena kerangka budaya yang berbeda. Oleh karena itu menurut Mulyana (2004: 95), “betapa sering kita menganggap hanya satu makna bagi kata atau isyarat tertentu. Padahal setiap pesan verbal dan nonverbal dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Bergantung dalam konteks budaya di mana pesan tersebut berada.”

Selanjutnya, Porter, Samovar, dan Cain (1981: 140) menyatakan bahwa, “There is no ‘real’ meaning, …because every person, from their own personal background, decides what a symbol mean. People have similar meaning only to the extent that they have had similar experiences or can anticipate similar experiences.”

Sedangkan mengenai keterkaitan antara pembentukan makna, bahasa, dan pengaruh latar belakang budaya secara gamblang Porter, Samovar, dan Cain menjelaskan sebagai berikut:

The relationship existing between language and culture should have begun to emerge from our discussion of language acquisiton and meaning. Both languange acquisition and languange meaning are directly related to experiences. These experiences are unique to each of us not only because of the differences encountered as individuals while we were growing up and learning to use language, but also because of what our culture has exposed us to. In short, each of us learns and use language as we do because of both our individual and cultural backgrounds (Porter, Samovar, dan Cain, 1984: 141).

Kerangka budaya anak jalanan, yang dianggap sebagai sebuah subkultur, akan mempengaruhi cara mereka memberi makna terhadap interaksi diri dan lingkungan yang dialaminya. Selanjutnya, bagaimana mereka menginterpretasi dan menyampaikannya pengalaman tersebut melalui tindak komunikasi mereka. Bagaimana mereka memilih dan menentukan kata yang digunakan, memilih bahasa, kelugasan bicara, kebersahajaan menangkap realitas ketika berkomunikasi, sampai pada sikap-sikap yang mungkin sangat tertutup terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya jika diajak berkomunikasi.

Hal yang unik, anak jalanan memproduksi simbol-simbol verbal yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Anak jalanan memiliki istilah khusus untuk sesuatu yang sudah diverbalisasi oleh publik pada umumnya. Misalnya mengapa mereka menyebut Satpol PP dan Polisi dengan sebutan “Wirog”, tentara dengan “sentar”, dan minuman keras jalanan dengan “keyak”.

Banyak hal di dunia mereka yang tidak kita mengerti, mereka berpikir dengan caranya, berjalan hidup dengan sistemnya, dan berkomunikasi dengan bahasanya.



Actions

Information

2 responses

26 02 2012
anggi

ada tidak yang menjelaskan tentang teori perilaku komunikasi dan apa semua jenis2x……….

26 10 2012
nuri

saya baca artikel ini, rasanya pernah dengar cerita anak jalanan itu…. waktu dilihat ternyata blog Pak Atwar.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: