Polarisasi Pembangunan Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

23 04 2008

Kajian Beberapa Parameter Kesetaraan Gender di Jawa Barat

(Atwar Bajari dan Tata Bina Udin)

 

Persoalan gender di Jawa Barat yang menyangkut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan bukan semata-mata persoalan fungsional, namun juga persoalan etis, yakni bahwa kebebasan, kesehatan, pendidikan, perlindungan hidup berbagai hak untuk eksis adalah suatu keharusan dan intern dalam hidup itu sendiri antar laki-laki dan perempuan. Di lain pihak meningkatkan pemberdayaan perempuan masih banyak menemui kendala, baik faktor-faktor struktural maupun faktor-faktor kultural dari masyarakat sendiri. Misalnya masyarakat masih melihat, bahwa dari sudut pandang agama dan sosio kultural, kesetaraan dan keadilan gender dalam pelaksanaan pembangunan belum dianggap penting. Persepsi bahwa laki-laki dalam pendidikan lebih diutamakan daripada perempuan sangat tampak pada masyarakat yang tinggal di perdesaan.

Eksistensi dan akses perempuan akibat pola pikir lama mengakibatkan perempuan cenderung terpuruk didalam berbagai bidang seperti bidang publik maupun pemerintahan. Perempuan kurang memiliki ruang publik yang terbuka dan kondusif untuk dapat mengaktualisasikan tanggung jawab yang lebih besar dan kompleks. Banyak proses lahirnya keputusan atau dipengaruhi oleh kultur kekuasaan yang menyebabkan rasa ketidakrelaan laki-laki apabila perempuan diposisikan sebagai sosok yang sama-sama mempunyai akses sebagai penentu arah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam rangka mencapai suatu keadaan yang setara dan adil dalam kegenderan, perlu melihat kondisi perempuan di Jawa Barat dalam berbagai bidang kehidupan. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan berbagai program dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintahan dan masyarakat. Kondisi perempuan di Jawa Barat masih sangat memprihatinkan, perempuan masih tertinggal di bidang pendidikan dan kesehatan serta bidang-bidang lainnya. Data menunjukkan Angka Melek Huruf perempuan sebesar 90,67% dibandingkan pada laki-laki sebesar 95,68%. Partisipasi sekolah tidak mengalami perbedaan pada usia 7-12 tahun (95%-96%), tetapi pada usia 19-21 tahun perempuan hanya 8,1% lebih sedikit dibandingkan laki-laki sebesar 11,3%. Angka Putus Sekolah (APTS) perempuan pada usia sekolah 13-15 tahun (7,76%) lebih besar dari APTS laki-laki (7,28%). Angka Kematian Ibu juga masih menunjukkan angka yang tinggi, yaitu 370 orang dari 100.000 kelahiran hidup (Tahun 1997-1980, Pencatatan 12 RS). Pengetahuan perempuan Jawa Barat terhadap kesehatan masih memprihatinkan, hanya 49,7% yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS.

Permasalahan lainnya yang menimpa kepada kaum perempuan, antara lain : a) Partisipasi pria dalam Keluarga Berencana masih rendah; b) Pasangan Usia Subur yang umur istrinya di bawah 20 tahun masih tinggi, sebesar 12,7%; c) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan lajang lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu 30,3%; d) Tingkat Pengangguran Terbuka perempuan lebih tinggi (9,89%); dibandingkan laki-laki sebesar 6,11%; e) Kekerasan terhadap perempuan masih tinggi.

Peta keadaan perempuan di Jawa Barat tersebut, menandakan bahwa implementasi kesetaraan dan keadilan gender belum menunjukkan kondisi yang baik. Akses perempuan diberbagai bidang belum memadai, disebabkan kondisi sosial budaya maupun kondisi perempuan itu sendiri. Pada bidang politik, belum terjadi perempuan yang terpilih sebagai Ketua DPRD, didominasi laki-laki yang menduduki kursi di parlemen masih lebih besar dibandingkan perempuan. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik masih rendah, yaitu hanya sebesar 7%. Dalam bidang pemerintahan, belum pernah ada perempuan yang menjadi Gubernur ataupun Wakil Gubernur. Pegawai Negeri Sipil perempuan di Propinsi Jawa Barat hanya setengah dari laki-laki.

Perkembangan masyarakat berimplikasi terhadap pergeseran situasi gender masyarakat, mengingat gender merupakan hasil dari konstruksi sosial dan budaya. Oleh karena itu, dalam penanganan berbagai persoalan gender perlu adanya pemahaman tentang situasi gender. Pada kesempatan ini, gender di  Jawa Barat yang dapat menggambarkan keadaan laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang berdasarkan data-data statistik.

Saat ini Jawa Barat memiliki 16 Kabupaten dan 8 Kota, dengan jumlah kecamatan sebanyak 501 buah dan jumlah desa/kelurahan sebanyak 5.778 buah. Secara geografis, wilayah Jawa Barat dapat dibagi ke dalam 3 (Tiga) bagian yang memiliki karakteristik berbeda baik secara fisik, sosial maupun budaya, yaitu wilayah utara, tengah dan selatan. Dari ketiga wilayah tersebut, perkembangan di Jawa Barat selatan relatif lebih lambat dari wilayah yang berbeda adalah fasilitas transportasi di wilayah tengah dan utara lebih berkembang dari wilayah selatan.

Alam Jawa Barat terdiri dari banyak sungai dan gunung, dengan tipologi alam pegunungan yang demikian, tanah Jawa Barat memiliki daerah persawahan yang sangat luas. Menurut Geertz (1976) perempuan pada masyarakat dengan ekosistem sawah keterlibatan yang luas dalam berbagai kegiatan pertanian. Menurut Lombard (2000), hal ini berarti perempuan pada lingkungan geografis sawah cenderung memiliki kontribusi sosial ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan mereka yang hidup di lingkungan geografis lain seperti daerah pesisir.

Pendidikan merupakan determinan penting dalam meningkatkan kualitas hidup, pada tahun 1996 angka buta huruf laki-laki Jawa Barat (tanpa Banten) masih sekitar 2,26 persen turun menjadi sekitar 1,38 persen di tahun 2000. pada perempuan penurunannya cukup signifikan, dari 5,18 persen pada tahun 1996 menjadi 1,38 persen di tahun 2000. sayangnya penurunan ini masih belum dibarengi dengan usaha semakin mempersempit perbedaan antar jender. Angka buta huruf penduduk perempuan ternyata masih dua setengah kali lipat dibandingkan penduduk laki-laki.

Fenomena yang cukup menggembirakan justru ditunjukkan oleh tingkat partisipasi sekolah. Partisipasi sekolah penduduk perempuan ternyata tidak jauh berbeda dengan penduduk laki-laki. Tahun 1996, prosentase penduduk perempuan usia 7 – 12 tahun yang bersekolah sekitar 94,26 persen meningkat menjadi 96,18 persen di tahun 2000, sedangkan pada penduduk laki-laki 94,44 persen tahun 1996 dan meningkat menjadi 95,12 persen tahun 2000. Pada tahun 2000, partisipasi sekolah penduduk perempuan usia 7 – 12 tahun sedikit lebih baik dibandingkan penduduk laki-laki.

Semakin menyempitnya perbedaan antar gender dalam hal partisipasi sekolah menunjukkan adanya kecenderungan bahwa orang tua menganggap pendidikan anak perempuan sama pentingnya dengan pendidikan anak laki-laki, terutama untuk pendidikan tingkat SD. Akan tetapi, angka partisipasi sekolah penduduk perempuan usia SLTP ke atas cenderung lebih sedikit dibandingkan penduduk laki-laki, walaupun terjadi peningkatan. Perbedaan cukup mencolok justru terjadi pada penduduk usia 19 – 24 tahun, pada tahun 2000 persentase penduduk perempuan yang bersekolah sebesar 8,19 persen, jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk laki-laki yang mencapai 11,26 persen.

Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh jarak sekolah yang relatif jauh untuk tingkat SLTA ke atas, sehingga anak perempuan cenderung mendapat kesempatan bersekolah lebih sedikit dibandingkan anak laki-laki. Seperti yang disampaikan World Bank (1998) bahwa terdapat kecenderungan pada orang tua untuk lebih berani mengirimkan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan ke tempat yang relatif jauh.

Untuk pendidikan yang ditamatkan, perbedaan antar gender baik di perkotaan maupun di perdesaan masih cukup mencolok. Di samping itu, selama 4 (Empat) tahun terakhir, proporsi penduduk perempuan di jenjang pendidikan SD ke bawah ternyata senantiasa lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki. Kondisi ini dapat diintepretasikan, bahwa penduduk perempuan yang putus sekolah di tingkat SD jauh lebih besar dibandingkan laki-laki. Ketimpangan antar gender akan terlihat semakin melebar, jika kita membandingkan proporsi penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi (Akademika/Universitas) baik di perkotaan maupun perdesaan. Hal ini berarti bahwa penduduk perempuan senantiasa kurang mendapat kesempatan untuk mengecap pendidikan setinggi mungkin, sebagaimana yang dialami penduduk laki-laki dan cenderung hanya ditempatkan pada lingkup rumah tangga. Hal ini menyebabkan minimnya sumber daya perempuan yang berpendidikan tinggi. Untuk itu, kesempatan pendidikan yang diberikan pada wanita perlu ditingkatkan dan persepsi bahwa pendidikan bagi wanita tidak perlu tinggi-tinggi karena akan ke dapur juga perlu dihapuskan.

Aspek atau dimensi lain yang diperhatikan dalam kajian mengenai pembangunan gender adalah bidang ketenagakerjaan.  Fakta menunjukkan bahwa, angkatan kerja perempuan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan angkatan laki-laki, yang sama-sama mengelami penurunan dari tahun 1996 menjadi 68,72 persen untuk laki-laki dan 29,95% untuk perempuan pada tahun 2000.

Walaupun secara umum TPAK perempuan cenderung lebih rendah dari pada TPAK Laki-laki, ternyata TPAK perempuan menunjukkan kenaikan. TPAK perempuan pada 1980 baru mencapai 24,41% dan pada 1996 meningkat menjadi 34,10% walaupun pada 2000 turun menjadi 29,95%. TPAK untuk laki-laki baik di perkotaan maupun pedesaan menunjukkan pola yang hampir sama, yaitu TPAK rendah pada kelompok umur muda (10-14 tahun), kemudian mencapai TPAK tertinggi pada kelompok umur 25-29 tahun (usia menikah dan keharusan memiliki pekerjaan untuk menghidupi keluarga) kemudian mendatar sampai pada kelompok umur 45-49 tahun berikutnya menurun tajam sampai umur kelompok berikutnya.

Sementara untuk TPAK perempuan menunjukkan pola yang sedikit berbeda antara daerah perkotaan dan pedesaan. TPAK perempuan di perkotaan mencapai puncaknya  pada kelompok umumr 20-24 tahun (usia pasca sekolah lanjutan dan perguruan tinggi/akademi), kemudian setelah itu sedikit menurun pada umur 25-29 tahun (usia memeasuki perkawinan dan ada yang memutuskan berhenti bekerja)  kemudian mendatar sampai kelompok umur 45-49 tahun dan berikutnya menurun sampai umur kelompok berikutnya.

TPT menurut kemlompok umur dan jenis kelamin di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah perdesaan pada semua kelompok umur. TPT tertinggi di daerah perkotaan baik untuk perempuan maupun laki-laki pada kelompok umur 15-19 tahun, sementara untuk daerah perdesaan TPT tertinggi untuk perempuan terkonsentrasi pada kelompok umur lebih muda yaitu 10-14 tahun dan 15-19 tahun sedangkan untuk laki-laki, distribusi TPTnya relatih lebih merata pada beberapa kelompok umur.

Persentase penduduk laki-laki yang bekerja di Jawa Barat masih jauh lebih besar dibandingkan penduduk perempuan, dengan rasio 41,90. Hal ini diduga karena pada umumnya laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama dan penanggungjawab rumah tangga, sehingga laki-laki lebih banyak dituntut untuk bekerja. Sedangkan laki-laki yang mengurus rumah tangga persentasenya lebih kecil dibandingkan perempuan. Hal ini mencerminkan bahwa mengurus rumah tangga masih tetap menjadi urusan perempuan, walaupun urusan mencari nafkah telah mulai banyak ditanggung bersama.

Tahun 2000, perempuan paling banyak bekerja di sektor pertanian, yaitu 34,5%, disusul oleh sektor perdagangan (24,4%) dan sektor industri (21,5%). Untuk pekerja laki-laki polanya hampir sama yaitu didominasi oleh tiga sektor tersebut, walupun distribusinya lebih merata untuk sektor lainnya, seperti sektor jasa dan angkutan. Jika dilihat rasio pekerja perempuan dan laki-laki menurut lapangan usaha, pekerja perempuan cenderung bekerja pada empat sektor utama yaitu industri (55,0%), perdagangan (51,70%), dan pertanian (49,50%). Begitu juga untuk daerah perkotaan dan pedesaan polanya hampir sama yakni pekerja perempuan cenderung bekerja di empat sektor tersebut. Namun demikian terdapat sedikit perbedaan, di mana untuk daerah perkotaan lebih dominan pada sektor industri, dengan rasio sektor industri (55,6%), perdagangan (54,0%) dan jasa (52,8%). Sedangkan daerah perdesaan, pekerja perempuan lebih terkonsentrasi pada sektor industri dengan rasio 53,8%  dan sektor pertanian 51,7%.

Dominannya perempuan yang bekerja di sektor industri, disebabkan Jawa Barat terkenal sebagai salah satu propinsi yang banyak daerah sentra industrinya  seperti Bandung dan Bogor-Bekasi (Bobek). Selain itu pekerja perempuan juga cenderung bekerja di sektor perdagangan. Hal ini disebabkan antara lain karena pekerjaan ini dapat dilakukan di rumah, sehingga dapat dilakukan bersamaan dengan pekerjaan rumah tangga lainnya, seperti mengurus anak dan  memasak. Kualifikasi pendidikan yang tinggi juga tidak diperlukan dalam pekerjaan ini.

Sementara itu, sektor-sektor yang paling sedikit digeluti oleh perempuan adalah bangunan, angkutan, pertambangan, listrik, gas dan air.  Kecenderungan ini bukan disebabkan oleh  faktor seks (jenis kelamin), melainkan karena pandangan terhadap jenis pekerjaan yang digeluti berbeda antara perempuan dan laki-laki. Apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, laki-laki yang bekerja dengan jenis pekerjaan sebagai tenaga profesional, dan sebagai tenaga lainnya persentasenya lebih besar dibanding perempuan. Sedang yang bekerja dengan jenis pekerjaan sebagai tenaga penjualan, tenaga usaha jasa, dan sebagai tenaga usaha pertanian, persentase perempuan lebih besar dari pada laki-laki.

Pekerja laki-laki sebagian besar berstatus sebagai buruh/karyawan (44,31%) dan berusaha sendiri (30,06%) sedang perempuan sebagain besar berstatus sebagai buruh/karyawan (45,23%) dan pekerja keluarga (27,45%). Pada pekerja keluarga relatif tingginya proporsi pekerja keluarga memberikan indikasi bahwa masih cukup banyak tenaga kerja yang belum dimanfaatkan secara optimal. Karena umumnya pekerja keluarga tidak mendapatkan upah/gaji, atau sekalipun ada, balas jasa yang diterima sangat jauh dari memadai.

Pada tahun 2000 upah yang diterima oleh pekerja laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang cukup besar. Upah pekerja laki-laki sebesar Rp. 316.834 sementara itu pekerja perempuan hanya Rp. 134.301, sehingga rasio upah pekerja 42,4, yang berarti upah pekerja perempuan kurang dari separuh pekerja laki-laki.

Walaupun secara legal formal tdak ada diskrimanasi dalam pemberian upah/gaji terhadap pekerja laki-laki dan perempuan, namun kenyataan menunjukkan bahwa untuk semua jenjang pendidikan upah/gaji pekerja perempuan  selalu lebih rendah dari laki-laki. Kesenjangan ini semakin lebar pada tingkat pendidikan SMA ke bawah. Namun demikian, untuk pada jenjang pendidikan (D1, D3 dan sarjana) ternyata upah pekerja perempuan relatif lebih tinggi dari pada laki-laki.

Perbedaan tingkat upah menurut jenis kelamin di duga berkaitan erat dengan sifat pekerjaan yang dilakukan perempuan. Sebagain besar perempuan di Indonesia mempunyai tugas pokok sebagai ibu rumah tangga. Jika ada di anatara ibu-ibu rumah tangga tersebut yang bekerja, sifatnya hanya sekedar membantu untuk menambah pendapatan rumah tangga. Keadaan ini banyak dijumpai dalam pekerjaan/kegiatan ekonomi yang bersifat tradisional dan informal. Dengan demikian, kemungkinan mereka tidak mencurahkan waktu dan tenaga secara maksimal dalam pekerjaan yang dilakukan.

Tenaga kerja perempuan dari Jawa Barat banyak pula yang dikirim ke luar negeri atau dikenal dengan istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKW untuk perempuan). Selama tahun 2000 Jawa Barat telah mengirim sebanyak 13.768 TKI ke luar negeri yang terdiri dari 1.438 TKI laki-laki dan 12.330 perempuan (TKW), atau dengan rasio 857,4 yang berarti untuk setiap 1 orang TKI laki-laki terdapat lebih dari delepan TKI perempuan.

Menurut data dari Kanwil Depnaker Propinsi Jawa Barat, jumlah remintances atau kiriman uang, menurut kabupaten dan kawasan negara penempatan pada periode Januari-Desember 2000 menunjukkan bahwa total remintances yang dikirim ke Jawa barat mencapai US $ 22.400.280. Jumlah devisa yang cukup besar tersebut jika dirata-ratakan tiap orang mencapai US $ 1.627 per tahun. Jika dirupiahkan sekitar Rp. 1.355.818 per orang tiap tahun. Besarnya upah yang diterima merupakan daya tarik tersendiri bagi perempuan untuk bekerja di luar negeri. Walaupun kontribusi para TKW cukup besar bagi kehidupan keluarga dan perkembangan daerahnya, namun cukup banyak persoalan yang dialami oleh mereka, baik di tempat tujuan maupun di dalam keluarganya. Kekerasan seringkali mereka alami dengan tanpa adanya perlindungan hukum.

Pada masyarakat Jawa Barat sudah dikenal bahwa kaum ibu paling banyak terlibat dalam pengelolaan kebersihan halaman, saluran air, dan pengolahan limbah rumah tangga. Sesederhana apapun tugas tersebut, hal itu merupakan bukti nyata keterlibatan kaum perempuan dalam manajemen lingkungan.

Penggunaan sumber daya alam yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti air dan bahan bakar untuk memasak lebih banyak diputuskan oleh perempuan. Sebanyak 8,8% rumah tangga di daerah perkotaan menggunakan bahan kayu bakar untuk memasak. Di pedesaan persentase yang rumah tangga yang menggunakan kayu bakar adalah 61,1 persen. Sementara itu penggunaan air unutuk minum tercatat sebanyak 3,0 persen rumah tangga di daerah perkotaan menggunakan air yang berasal dari mata air maupun sungai, sedangkan di pedesaan persentasenya mencapai 28,4%. Kondisi sungai dan lingkungan alam lainnya mempengaruhi beban yang harus dijalankan oleh perempuan sebagai pengelola rumah tangga, terlebih lagi bila jarak ke tempat penampungan air cukup jauh.

Perempuan yang tiggal di rumah akan menanggung resiko bahaya dan gangguan kesehatan yang lebih besar dari laki-laki. Hal ini akan terjadi pada keluarga yang masih tinggal di rumah berlantai tanah dan beratap dinding tidak permanen. Di propinsi Jawa Barat sekitar 6% rumah tangga tinggal dalam rumah yang berlantai tanah, 24% menghuni rumah berdinding bambu/lainnya dan 5 dari seribu rumah tangga tinggal di rumah beratap daun/ijuk.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator yang digunakan, menunjukkan bahwa laki-laki “lebih baik” dibandingkan dengan perempuan. Walaupun beberapa indikator, terutama yang berhubungan dengan ekonomi, perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. Apakah perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan dapat disebut sebagai kesenjangan gender? Atau bahkan justru sebaliknya merefleksikan kekuatan perempuan di dalamnya, hal ini perlu kajian lebih mendalam lagi.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: