Sepotong Kisah Anak Jalanan (pengalaman bersama Tim Pemetaan Unicef)

21 04 2008

DV seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, sekolah hanya sampai kelas 2 SLTP. DV merupakan anak ke 4 dari 4 saudara kandungnya. Ketika DV masih kecil ibunya meninggal dunia dan ayahnya menikah lagi memiliki 3 orang anak. Pekerjaan DV mengamen dengan rata-rata penghasilan Rp.5.000 – Rp.7.000,- sehari, DV kadang-kadang saja pulang kerumah, tapi lebih sering tidak pulang kerumah. Menurut DV, dia tidak tinggal dengan orang tuanya karena mereka tidak enak dengan ibu tirinya dan sering dimarahi bapaknya, sehingga memilih pulang kerumah bibinya atau tinggal dimana saja.

Ayah DV bernama DL, berusia 49 tahun. Pendidikan Sekolah Rakyat kelas 2. Pekerjaan sekarang supir tembak, kalau dulu bekerja sebagai tenaga penjual (salesman). Berpenghasilan Rp.500.000,- / bulan. Pak DL menjadi Ketua Rukun Tetangga di kampungnya. Menurut pak DL, DV anak yang nakal dan tidak bisa diatur sehingga tidak mau tinggal bersama orang tuanya.

DV berkata “Kalau tidak punya uang dia pulang ke rumah orang tua” Orang tuanya sebetulnya memenuhi kebutuhannya baik makan, pakaian, pendidikan maupun kesehatannya. Saudara-saudaranya rata-rata bersekolah sampai dengan SMU. Memang kalau dilihat dari kondisi rumahnya cukup lengkap ada televisi, stereo tape dengan salon yang besar. DV kalau pulang tidur dengan adik laki-lakinya, sedangkan saudara perempuannya tidur terpisah dikamar lainnya. Untuk ngobrol dengan anggota keluarga lainnya biasanya dilakukan diruang keluarga sambil menonton televisi. Keluarganya memiliki aturan yang harus disepakati oleh anggota keluarga, bila dilanggar ayahnya tidak segan-segan untuk memukul baik dengan tangan atau dengan kayu, sedang untuk kebutuhan rekreasi, ketika masih kecil ayahnya sering mengajak ke gunung mengunjungi saudaranya yang tinggal didaerah pegunungan tetapi sekarang jarang ikut bepergian bersama keluarga.

Ini baru satu “dongeng” anak jalanan di Kanggraksan Kota Cirebon. Masih ada 8000an anak berkeliaran 6-8 jam di jalanan di Jawa Barat. Anak siapa mereka? Dari mana? Mau kemana? Siapa yang memikirkannya? Tidak mudah memang menjawabnya. Bahkan eksploitasi sering dilakukan oleh mereka yang mengaku mau menolong mereka. Banyak dari kita menjual “populasi”, “opini” dan “pikiran” mereka, demi sebuah cita-cita yang menuliskan dan menjual tentang mereka.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: