Memahami Perilaku Manusia dari Penelitian Kualitatif

9 09 2008

Feomena manusia dalam masyarakat dapat didekati dengan pemahaman secara subjektif dan objektif. Secara subjektif, perilaku manusia dipahami dari sudut pandang dirinya, dengan kerangka pengalaman secara penuh dari individu itu sendiri. Peneliti hanya merangkai dan menstrukturkan pengalaman itu untuk temuan-temuan ilmiah dan berusaha memecahkan masalah masyarakat yang dihadapi. Hakekatnya ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam penedekatan subjektif berfokus pada manusia sebagai pelaku sosial yang menterjemahkan perilaku mereka tersebut. Peneliti hanya berperan sebagai pengamat dan penemu. Hal ini tentu sebaliknya dengan pendekatan objektif yang melihat peneliti sebagai penguji dan interpreter atas fenomena menusia dari kacamata teori yang digunakan.

Penelitian kualitatif adalah wujud metodologis yang memberikan protokol tatalaksana pendekatan subjektif. Dimana penelitian berusaha menjelaskan fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang kerangka pelaku atau subjek penelitian. Bagaimana melihat situasi dan konteks yang ada disekitarnya menurut sudut pandang mereka. Oleh karena itu, makna tentang objek yang diamati dalam penelitian kualitatif dibawa oleh para informan kepada peneliti. Thomas R. Lindlof (1995: 21-22), menjelaskan perbedaan pokok penelitian kualitatif dengan kuantitatif bahwa dalam penelitian kualitatif seorang peneliti mencari untuk memelihara bentuk dan isi dari tindakan atau perilaku manusia dan untuk menganalisis kualitasnya, dari pada ke dalam matematika dan transformasi formal lainnya.

Dengan mengutif pendapat Anderson dan Meyer, Thomas R. Lindlof (1995: 21-22), menguatkan pendapatnya bahwa, “Qualitative research methods are distinguished from quantitative methods in that they do not rest their evidence on the logic of mathematics, the principle of numbers, or the mehods of statistical analysis.” Selanjutnya dengan kalimatnya sendiri Anderson menyebutkan bahwa, “actual talk, gesture, and other social action are the raw materials of analysis.”

Sedangkan John W. Creswell dengan mengutif pendapat Denzin and Lincoln, menyebutkan bahwa:

Qualitative research involves the studied use and collection of e variety of empirical materials—case study, personal experience, introspective, life story, interview, obervational, historical, interactional, and visual texts—that describe routine and problematic moments and meaning in indi-viduals lives. (Creswell, 1998: 15)

Sedangkan John W. Creswell (1998: 15) sendiri membuat sebuah batasan yang lebih ringkas dengan menyebutkan bahwa; penelitian kualitatif adalah sebuah proses penyelidikan, pemahaman didasarkan pada perbedaan tradisi-tradisi metodologis pada penelitian yang menjelaskan permasalahan sosial atau manusia. Peneliti menjelaskan sebuah tempat, gambaran holistik, analisis kata-kata, laporan secara detail menurut sudut pandang informan dan perilaku studi dalam seting alamiah (natural setting).

Oleh karena itu menurut John W. Creswell (1998:16), berdasarkan pendapat Bogdan dan Biklen, Eisner, dan Meriam, menyebutkan bahwa sebuah penelitian dikatakan sebagai penelitian kualitatif jika menunjukkan ciri-ciri; (1) Penelitian dilakukan dalam seting alamiah (field focused) di mana sumber data di gali atau didapatkan. Peneliti tidak berusaha melakukan intervensi terhadap subjek-subjek penelitian, seperti mempengaruhi opini, memaksa sumber bertutur, dan tidak berusaha melayani informan secara empatetis.

Selanjutnya, (2) Peneliti adalah key instrument, dalam pengumpulan data, yang berusaha membangun validitas data melalui berbagai upaya pendekatan terhadap subjek penelitian. (3) Kumpulan data sebagai kata-kata atau gambar, (4) Hasil penelitian harus menjelaskan tentang proses dari pada produk, (5) Analisis data secara induktif, di mana peneliti kualitatif lebih tertarik pada bagian-bagian yang bersifat mikro, (5) Fokus pada perspektif partisipan, atau makna yang dimiliki mereka, (6) menggunakan bahasa ekspresif, dan (7) Memiliki kemampuan menyajikan secara persuasif dengan menyajikan alasan-alasan atau argumen yang berguna.

Sedangkan Deddy Mulyana (2003: 147-148), penelitian yang mengambil perspektif subjektif memiliki sembilan ciri sebagai berikut:

  1. Jika ditinjau dari sifat realitas, realitas komunikasi bersifat ganda, rumit, semu, dinamis (mudah berubah), dikonstruksikan, dan holistik; kebenaran realitas bersifat relatif.
  2. Segi sifat manusia (komunikator atau peserta komunikasi): aktor (komunikator) bersifat aktif, kreatif, dan memiliki kemauan bebas; perilaku (komunikasi) secara internal dikendalikan oleh individu
  3. Sifat hubungan dalam dan mengenai realitas (komunikasi): semua entitas secara simultan saling mempengaruhi, sehingga peneliti tak mungkin membedakan sebab dari akibat.
  4. Hubungan antara peneliti dan subjek penelitian: setaraf, empati, akrab, interaktif, timbal balik, saling mempengaruhi dan berjangka lama.
  5. Tujuan penelitian: menangani hal-hal bersifat khusus, bukan hanya perilaku terbuka, tetapi juga proses yang tak terucapkan, dengan sampel kecil/purposif; memahami peristiwa yang punya makna historis; menekankan perbedaan individu; mengembangkan hipotesis (teori) yang terikat oleh konteks dan waktu; membuat penilaian etis/estetis atas fenomena (komunikasi) spesifik.
  6. Metode penelitian: deskriptif (wawancara tak berstruktur/mendalam, pengamatan berperan-serta), analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis, penafsiran sangat ditekankan alih-alih pengamatan objektif.
  7. Analisis: induktif; berkesinambungan sejak awal hingga akhir; mencari model, pola, atau tema.
  8. Kriteria kualitas penelitian: otentisitas, yakni sejauh mana temuan penelitian mencerminkan penghayatan subjek yang diteliti (komunikator).
  9. Peran nilai: nilai, etika, dan pilihan moral peneliti melekat dalam proses penelitian (pemilihan masalah penelitian, tujuan penelitian, paradigma, teori dan metode/teknik analisis yang digunakan, dsb.).

Penelitian kualitatif harus berupaya mengembangkan tujuan yang berorientasi pada pemahaman peneliti terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan subjek penelitian. Menurut Joseph A. Maxwell (1996: p.17-20) tujuan penelitian kualitatif yang cocok untuk dikembangkan dalam mengkaji sebuah fenomena perilaku manusia adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian kualitatif berusaha memahami makna (understanding the meaning) yang dimiliki oleh partisipan dalam sebuah studi tentang peristiwa, situasi, dan perilaku di mana mereka terlibat di dalamnya. Peneliti berupaya menangkap makna yang berasal dari sudut pandang partisipan (participants’ perspective) manakala mereka berhadapan dengan peristiwa atau kejadian yang bersifat fisik (physical events) dan sekaligus upaya partisipan mengerti dan merasakan (sense making) tentang peristiwa tersebut.
  2. Memahami fakta atau keterangan-keterangan di dalam konteks yang mana partisipan bertindak, serta pengaruh dari konteks tersebut terhadap perilaku mereka. Oleh karena itu, dalam studi kualitatif ditekankan pada pemahaman individu yang jumlah relatif lebih sedikit (kecil) ketimbang mengumpulkan data dari sejumlah besar orang.
  3. Mengidentifikasi pengaruh dan fenomena yang tidak dapat diantisipasi dan menghasilkan grounded theory tentang kejadian akhir.
  4. Memahami proses yang mana peristiwa atau tindakan-tindaka itu dilakukan. Seperti yang dikemukakan oleh Merriam dalam pendapat Maxwell (1996 : p. 19), bahwa penelitian kualitatif lebih tertarik pada penggambaran proses dari pada hasil akhir (outcome).
  5. Berupaya mengembangkan penjelasan-penjelasan sebab akibat. Hal ini berbeda dengan penelitian kuantitatif yang lebih menekankan penjelasan hubungan sebab akibat tentang keberadaan variabel-variabel tersebut berhubungan. Dalam penelitian kuantitatif penjelasan hubungan sebab akibat untuk menjawab bagaimana variabel bebas memainkan peran dalam menyebabkan terhadap variabel terikat. Penjelasan sebab akibat dalam penelitian kualitatif merupakan bagian dari proses teorisasi, di mana peneliti berupaya menjelaskan proses sebab akibat yang berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian.

Dalam taradisi penelitian kualitatif setiap fenomena manusia dan perilakuknya dapat didekati dengan berbagai pendekatan yang ada, misalnya: Etnografi, Fenomenologi, Grounded Theory, Etnometodologi, Historis, Biografi, Interaksionisme Simbolik dan Clinical Research. Namun demikian fokus utamanya tetap pada manusia sebagai kreator dalam sistem sosial yang secara sukarela dan otonom melakukan tindakan-tindakan sosial.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.