<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Atwar Bajari's Blog</title>
	<atom:link href="http://atwarbajari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://atwarbajari.wordpress.com</link>
	<description>berbagi kajian komunikasi kontemporer dan pemberdayaan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Dec 2011 09:27:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='atwarbajari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Atwar Bajari's Blog</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://atwarbajari.wordpress.com/osd.xml" title="Atwar Bajari&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://atwarbajari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pemikiran Stuart Hall dalam  Analisis Literasi Pada Teks Kultural</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/07/31/pemikiran-stuart-hall-dalam-analisis-literasi-pada-teks-kultural/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/07/31/pemikiran-stuart-hall-dalam-analisis-literasi-pada-teks-kultural/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 08:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis Kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Stuart Hall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[By Tatang Budiman Di era informasi sekarang ini, pemahaman masyarakat tentang realitas dicapai terutama melalui media massa (cetak, elektronik, dan Internet) termasuk informasi atau pemahaman tentang konflik dalam masyarakat. Media massa memiliki kemampuan untuk membangun pencitraan dalam benak generasi muda serta membentuk pendapat mereka. Media melalui isi pesan melaksanakan strategi pembingkaian, yang menyoroti aspek-aspek tertentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=309&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By Tatang Budiman<br />
<a href="http://atwarbajari.files.wordpress.com/2011/07/stuart-hall.jpg"><img src="http://atwarbajari.files.wordpress.com/2011/07/stuart-hall.jpg?w=111&#038;h=150" alt="" title="Stuart Hall" width="111" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-315" /></a></p>
<p>Di era informasi sekarang ini, pemahaman masyarakat tentang realitas dicapai terutama melalui media massa (cetak, elektronik, dan Internet) termasuk informasi atau pemahaman tentang konflik dalam masyarakat. Media massa memiliki kemampuan untuk membangun pencitraan dalam benak generasi muda serta membentuk pendapat mereka. Media melalui isi pesan melaksanakan strategi pembingkaian, yang menyoroti aspek-aspek tertentu dan mengabaikan aspek-aspek lain dalam memandang kenyataan. Isi pesan media massa sangat tergantung pada ekonomi mereka serta kepentingan ideologis mereka. Strategi media diimplementasikan secara halus agar tidak disadari oleh publik (generasi muda).<br />
Kenyataan bahwa isi pesan media massa sering begitu halus sehingga tidak disadari khususnya oleh generasi muda, mendorong munculnya kebutuhan akan Literasi Media sebagai metode atau langkah-langkah untuk memecahkan masalah ini. Literasi Media adalah kemampuan untuk mengkritik isi media dan memiliki pemahaman penuh tentang realitas. Masyarakat harus memiliki; kemampuan untuk mengakses media, menganalisis isi media sesuai dengan konteks, mengkritik media massa, dan menulis pesan mereka sendiri dalam berbagai bentuk dan jenis media. Literasi Media, pada gilirannya, dapat menjadi langkah antisipatif dalam menghadapi konflik serta menjaga perdamaian di suatu wilayah.<br />
Stuart Hall (1932) merupakan ahli teori kultural asal Inggris yang memberikan kontribusi pemikiran dalam studi media dan kebudayaan. Ia mengungkapkan suatu analisis dari praktek media berdasarkan perspektif dari teori kulturalis Marxist, yakni dengan mengungkapkan otonomi media massa dan mengganti konsep Gramsci (hegemoni) serta Althusser (media sebagai ideological state apparatus) mengenai ideologi dominan dalam media (Woollacott 1982: 110). Menurut Hall, walaupun media massa cenderung untuk mereproduksi suatu interpretasi guna memenuhi kebutuhan dari kelas yang berkuasa (ruling class), mereka juga berfungsi sebagai medan perjuangan ideologis. Jadi, media juga berfungsi untuk memperkuat pandangan bersama (consensual) dengan menggunakan idiom-idiom publik, dan dengan mengklaim bahwa dirinya menyuarakan opini publik.<br />
Hall juga mengungkapkan secara teoritis, bagaimana orang memaknai teks media. Ia berbeda dengan Althusser yang menekankan lebih banyaknya jangkauan atas keanekaragaman respon terhadap teks media. Ia menggunakan istilah encoding1 dan decoding2 dalam mengungkapkan bahwa makna dari teks terletak di suatu tempat antara si pembuat teks dengan pembacanya. Walaupun si pembuat teks sudah meng-encode teks dalam cara tertentu, namun si pembaca akan men-decode-nya dalam cara yang sedikit berbeda. Dalam buku yang berjudul Encoding/Decoding, ia berpendapat bahwa ideologi dominan secara khusus dikesankan sebagai preferred readings (bacaan terpilih) dalam teks media, namun bukan berarti hal ini diadopsi secara otomatis oleh pembaca. Situasi sosial yang mengelilingi pembaca/penonton/pendengar akan mambawa mereka untuk mengadopsi teks media dari sudut pandang yang berbeda.<br />
Hall menurunkan dan mengelaborasi gagasan Parkin mengenai 3 sistem pemaknaan dasar yang digunakan individu untuk menafsirkan atau memberi respons terhadap persepsinya mengenai kondisi dalam masyarakat. Ia menunjukkan bahwa 3 sistem tersebut terkait dengan cara pembaca men-decode teks media. Ketiga sistem itu adalah sebagai berikut:<br />
1.  Sistem Dominan (Dominant Readings), merupakan salah satu sistem atau kode yang dihasilkan ketika situasi sosial yang mengelilingi pembaca menyerupai preferred readings.<br />
2.  Sistem Subordinat (Negotiated Readings), merupakan sistem atau kode yang dinegosiasikan. Dalam hal ini, nilai-nilai dominan dan struktur yang ada dalam preferred readings diterima, namun nilai-nilai tersebut digunakan sebagai penegasan bahwa situasi sosial yang ada perlu diperbaiki<br />
3.  Sistem Oposisional (Oppositional Readings), merupakan sistem atau kode yang menolak versi dominan dan nilai-nilai sosial dari preferred readings. Pembaca menempatkan pesan dalam sistem makna yang secara radikal berlawanan dengan makna dominan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=309&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/07/31/pemikiran-stuart-hall-dalam-analisis-literasi-pada-teks-kultural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atwarbajari.files.wordpress.com/2011/07/stuart-hall.jpg?w=111" medium="image">
			<media:title type="html">Stuart Hall</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODOLOGI DAN EPISTEMOLOGI DALAM RUANG KOMUNIKASI KONVERGENSI</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/06/12/meta-research-dan-komunikasi-konvergensi/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/06/12/meta-research-dan-komunikasi-konvergensi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 08:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Determinisme teknologi komunikasi dan informasi terhadap perubahan persepsi, sikap dan perilaku masyarakat, terhadap ruang, waktu, dan batas wilayah, telah menuntut pemikiran-pemikiran kreatif dalam perspektif Ilmu Komunikasi. Tradisi linier dan interaktif sendiri tidak mampu menjelaskan fenomena perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Realitas komunikasi dengan intervensi media yang semakin konvergen, tidak dapat dijelaskan hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=298&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Determinisme teknologi komunikasi dan informasi terhadap perubahan persepsi, sikap dan perilaku masyarakat, terhadap ruang, waktu, dan batas wilayah, telah menuntut pemikiran-pemikiran kreatif dalam perspektif Ilmu Komunikasi. Tradisi linier dan interaktif sendiri tidak mampu menjelaskan fenomena perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Realitas komunikasi dengan intervensi media yang semakin konvergen, tidak dapat dijelaskan hanya sekadar transmisi, pertukaran informasi interaktif dan pola-pola komunikasi yang stagnan.<br />
Sifat komunikasi dengan multi arah (person to person, person to many, and many to many) menjadi amat rumit dalam skala dimensi waktu, ruang dan batas wilayah. Merupakan salah satu ciri dari hypercommunication era teknologi komunikasi saat ini. Dalam satu event komunikasi orang bisa membangun level komunikasi antar pribadi, kelompok,  bahkan komunikasi massa.<br />
Kerumitan terletak pada prediksi asal muasal, proses yang terjadi, serta akibat yang ditimbulkan dari proses komunikasi yang berlangsung. Aspek-aspek dari ciri-ciri komunikasi pada setiap level hadir bersamaan. Misalnya, kedekatan, keterbukaan, umpan balik langsung yang merupakan bagian dari ciri komunikasi langsung dan antar pribadi, hadir bersamaan dengan karakteristik komunikasi massa yang memiliki unsur keserempakan, kesegeraan dan keterlibatan lembaga dari seorang komunikator.<br />
Sekarang amati kasus manusia seperti seorang polisi yang tiba-tiba berubah menjadi selebritis terkenal. Tanpa reputasi dan track record prestasi yang dibangun oleh orang yang bersangkutan, berubah manjadi pembicaraan publik secara terbuka. Tidak hanya menyangkut dirinya tetapi sudah masuk dalam ruang publik bahkan ruang kelembagaan yang di luar batas-batas rasionalitas. Pembentukan citra dari orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa menjadi memiliki apa-apa karena publik membicarakan itu dan media memanfaatkan peristiwa dari efek resonansi atas media konvergen semacam Youtube.com. Dan akhirnya melambungkan popularitas yang bersangkutan. Media konvensional memanfaatkannya sebagi sebuah isu murahan yang banyak disukai semua orang.<br />
Demikian halnya dengan fenomena jejaring sosial yang memiliki kemampuan melebihi batas-batas komunikasi sosial. Jika keserempakan sebelumnya hanya miliki komunikasi massa, media jejaring sosial merubah struktur dan tatanan komunikasi dengan memadukan kemampuan kedua konteks komunikasi tersebut. Komunikasi menjadi ajang memainkan panggung pribadi dengan berbagai konsep dan pengelolaan. Media bisa berubah menjadi panggung depan atau panggung belakang yang menampilkan berbagai karakter secara berlainan dari karakter yang sesungguhnya. Bahkan orang bisa menjadi berupaya mengkonstruksi karakternya secara pragmatis demi hubungan dan reputasi secara berbeda.<br />
 	Sebuah isue yang belum tentu ada benarnya secara faktual dan empirik, akan menjadi sangat objektif jika mendapatkan dukungan dan pembenaran dari seluruh member jejaring sosial dan dan seolah dukungan itu menjadi sebuah pembenaran. Tengok saja bagaimana orang memanfaatkan twitter untuk diretwitt atau diikuti oleh follower yang lain. Lama kelamaan membentuk sebuah opini akumulatif mengenai suatu isue yang entah berasal dari siapa dan dari mana. Komunikasi dengan fenomena seperti ini, sangat evasip, kumulatif, centang perenang, bergeser dari subyektif menjadi objektif, dan sarkastis.<br />
Evasi komunikasi seringkali muncul karena komunikasi sifatnya dangkal, dan membicarakan sesuatu secara spontaneus. Akibatnya, pembicaraan menghilangkan hal yang pokok dan dukungan fakta yang memadai. Bahkan orang cenderung melengkapi kekurangan informasinya dengan interpretasi pribadi, padahal isu itu dilemparkan kepada publik. Akibatnya, makin lama spektrum pembicaraan tidak lagi pada hal yang pokok tapi berubah dengan membawa dimensi-dimensi lain secara kumulatif untuk menginterpretasikan sebuah wacana publik di ruang maya. Tengok saja beberapa kasus yang telah terjadi di berbagai bentuk ruang-ruang komunikasi seperti messenger group dan jejaring sosial. Ketika pemerintah melempar rencana untuk membuat regulasi atas pengaturan Blackberry, umpatan, opini dan hinaan pada menteri komunikasi, bukan lagi dasar fakta tetapi opini yang telah menyerang pribadi dari seorang menteri.<br />
 Sifat komunikasi dalam dunia maya yang interaktif, direct, dan feedback segera, telah membuat lompatan-lompatan opini dan pembahasan isu sangat dinamis. Saat ini orang membahas sesuatu tetapi di saat berikutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama berubah membahas topik yang lain. Lompatan-lompatan itu terkadang membuat sebuah isu tidak pernah selesai, atau mau diapakan dengan isue sebelumnya. Komunikasi melalui media konvergen semakin mendekati wacana dan konteks obrolan keseharian, tetapi melalui media. Namun, seringkali tidak disadari bahwa akibat dari wacana yang keluar dari koridor komunikasi langsung.</p>
<p>Memahami perilaku komunikasi yang begitu dinamis, membutuhkan satu upaya pemahaman dengan pendekatan yang berbeda. Terutama untuk merekonstruksi pendekatan memadai. Pendekatan-pendekatan komunikasi yang sebelumnya didominasi pengaruh, berubah menjadi komunikasi yang hyperinteractive. Konsep-konsep yang menjelaskan fenomena komunikasi yang massif, satu arah, dan hanya memperhatikan komponen-komponen komunikasi semata, sangat tidak mampu menjelaskan hakekat komunikasi yang sebenarnya.<br />
Misalnya, dimensi ruang dalam kehidupan komunikasi telah berubah dari ruang fisik menjadi ruang imajiner berbentuk layar.  Sebelumnya, layar komunikasi sebagai jendela hanya berlaku dalam komunikasi massa melalui televisi. Sekarang, hampir seluruh level komunikasi membutuhkan layar sebagai jendela komunikasi, one to many, many to one dan many to many. Bahkan layar memungkinkan lompatan-lompatan isu dan situasi komunikasi.<br />
Disamping itu, kerja komunikasi bergeser dari otak ke mulut sebagai jembatan produksi simbol (bahasa), menjadi otak pada papan keypad sebagai alat produksi bahasa secara interaktif. Kemampuan melatih mulut untuk mengeluarkan bunyi bahasa sebagai simbol, tereduksi menjadi kemampuan papan ketik memproduksi kata-kata secara visual dan tertulis. Bahkan aspek ini pula yang menyebabkan sebuah percakapan informal, membutuhkan tatanan aturan yang baru.<br />
Individu, tidak lagi dapat semena-mena memproduksi wacana jika tidak ingin menimbulkan efek komunikasi yang sebelumnya tidak ada dalam komunikasi verbal dan face to face. Lebih jauh lagi, tradisi komunikasi ujaran dibawa ke dalam kebiasaan komunikasi tertulis dengan dampak yang lebih luas dan atmosfir komunikasi yang berbeda.<br />
Komunikasi layar juga memiliki sifat serba ada, serba cepat, dan minim mobilitas. Hal ini akan melatih kerja komunikasi pada individu secara aktif dengan menghilangkan relasi sosial atau jejaring sosial konvensional. Struktur komunikasi, menjadi amat dipengaruhi oleh kerja aktif menghadapi  realitas yang jauh, bahkan menjauhakan dari sebuah kedekatan fisik.<br />
Selanjutnya produksi kode kode secara artistik, representasi visual dan estetik, pengganti komunikasi ujaran yang mengandalkan auditif, ekspresif (bahsa tubuh) dan etis. Sejauh itu diproduksi dan disepakati dengan memenuhi ketiga aspek tersebut, maka orang menyepakati sebagai sebuah hal yang bisa diterima.<br />
Melihat pada berbagai perubahan yang ada, menuntut berbagai perubahan cara pandang, cara mengungkap relitas, dan memecahkan masalah komunikasi menjadi amat kontekstual dan rumit. Tentu dalam hal ini adalah, pergeseran pada metodologi pendekatan yang berasal dari perspektif yang digunakan, serta inventarisasi atas dimensi-dimensi riset sebagai epistemologi komunikasi.<br />
Intinya, komunikasi sosial menjadi berubah. Seperti yang dikemukakan dalam hasil risetnya terhadap anak-anak muda di United Kingdom dalam www.childnet.com, 2011, bahwa:</p>
<p>“… technology has not only mediated communication in countless ways, but &#8230; the very ways we communicate – and even the ways we talk and think about communication – are changing as a result.”<br />
Social networking services are changing the ways in which people use and engage with the Internet and with each other. Young people, particularly, are quick to use the new technology in ways that increasingly blur the boundaries between online and offline activities.<br />
Social networking services are also developing rapidly as technology changes with new mobile dimensions and features. Children and young people within the UK, who have grown up taking the Internet and mobile technologies for granted, make up a significant segment of the “beta generation” – the first to exploit the positive  opportunities and benefits of new and emerging services, but also the first to have to negotiate appropriate behaviours within the new communities, and to have to identify and manage risk.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=298&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/06/12/meta-research-dan-komunikasi-konvergensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tugas Mata Kuliah MPK II S1</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/05/29/tugas-mata-kuliah-mpk-ii-s1/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/05/29/tugas-mata-kuliah-mpk-ii-s1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 03:17:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Salam Silahkan download tugas akhir MK MPK II untuk kelas S1 Jatinangor dan kelas 110 SKS Bandung. SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF Selamat bekerja<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=279&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam<br />
Silahkan download tugas akhir MK MPK II untuk kelas S1 Jatinangor dan kelas 110 SKS Bandung.<br />
<a href='http://atwarbajari.files.wordpress.com/2011/05/sistematika-proposal-penelitian-kualitatif1.docx'>SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF</a><br />
Selamat bekerja</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=279&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2011/05/29/tugas-mata-kuliah-mpk-ii-s1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tugas Perencanaan Komunikasi</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2010/03/15/tugas-perencanaan-komunikasi-2/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2010/03/15/tugas-perencanaan-komunikasi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 02:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Tugas ini untuk kelas MIK Bandung Download dua buah kasus model perencanaan di bawah ini. Pelajari dan berikan komentar terhadap model perencanaan yang dilampirkan tersebut. Komentar meliputi: 1. Apakah yang membedakan kedu jenis perencanaan tersebut dililihat dari pengembangan langkah-langkah perencanaan. 2. Pada sepek apa kedua perencanaan tersebut menekankan fokus utama perencanaan komunikasi. 3. Apakh masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=262&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tugas ini untuk kelas MIK Bandung</p>
<p>Download dua buah kasus model perencanaan di bawah ini. Pelajari dan berikan komentar terhadap model perencanaan yang dilampirkan tersebut. Komentar meliputi:<br />
1. Apakah yang membedakan kedu jenis perencanaan tersebut dililihat dari pengembangan langkah-langkah perencanaan.<br />
2. Pada sepek apa kedua perencanaan tersebut menekankan fokus utama perencanaan komunikasi.<br />
3. Apakh masih bisa disempurnakan?</p>
<p>Revie tugas dilakukan minggu ini secara personal<br />
Terima kasih.</p>
<p><a href='http://atwarbajari.files.wordpress.com/2010/03/spin-project.pptx'>SPIN PROJECT</a><br />
<a href='http://atwarbajari.files.wordpress.com/2010/03/idrc-model.pptx'>IDRC MODEL</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=262&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2010/03/15/tugas-perencanaan-komunikasi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Fenomenologi: Peran Diri dan Perilaku Komunikasi Anak Jalanan</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/studi-fenomenologi-peran-diri-dan-perilaku-komunikasi-anak-jalanan/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/studi-fenomenologi-peran-diri-dan-perilaku-komunikasi-anak-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 06:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomonologi]]></category>
		<category><![CDATA[Peasan Verbal]]></category>
		<category><![CDATA[Peran diri]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan Nonverbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[1. Aktualisasi Masalah Penelitian Jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1998, Kementrian Sosial R.I. menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan sekitar 400%. Tahun 1999 diperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak. Di Provinsi Jawa Barat, setiap tahun, jumlah anak jalanan terus bertambah baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=215&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.</strong><strong> Aktualisasi Masalah Penelitian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jumlah anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1998, Kementrian Sosial R.I. menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan sekitar 400%. Tahun 1999 diperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Provinsi Jawa Barat, setiap tahun, jumlah anak jalanan terus bertambah baik untuk kota besar seperti Kota Bandung atau kota-kota lain seperti Cirebon, Indramayu, Tangerang, Bekasi, dan Garut. Tahun 2001, jumlah anak jalanan yang tersebar di Jawa Barat adalah 6267 orang, dan tahun berikutnya meningkat 8352 orang. Sedangkan Kabupaten dengan jumlah yang ekstrim yaitu Bogor 1503 orang, Cirebon 994 orang, dan Bandung 840 orang. Walaupun tahun 2003 menunjukkan sedikit penurunan menjadi 5183 orang dengan kabupaten yang terbanyak adalah Kabupaten Garut 594 orang, Majalengka 558  orang dan Kabupaten Sukabumi 511 orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kabupaten dan Kota Cirebon, memiliki penyandang masalah sosial yang cukup tinggi. Data 2006 menunjukkan populasi penyandang masalah sosial anak mencakup; anak terlantar 490 orang, anak nakal 820 orang, anak terlantar 2568 orang dan anak nakal sendiri sebanyak 983 orang. Dari jumlah penyandang, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon memiliki jumlah anak jalanan yang tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak faktor yang berpengaruh terhadap fenomena anak jalanan. Faktor makro yang memunculkan masalah tersebut yaitu; pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, partisipasi sekolah pada anak usia sekolah yang memunculkan <em>drop-out</em>, pembangunan kawasan dan perkotaan yang belum merata, dan masalah kultur. Sedangkan masalah mikro di dalamnya tercakup; ajakan teman, desakan orang tua untuk mencari nafkah, rumah tangga yang tidak harmonis, anak dengan orang tua <em>single parent</em>,  dan ketidakpuasan terhadap sekolah atau guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Munculnya masalah anak jalanan di Kota dan Kabupaten Cirebon, dari sisi makro tidak bisa dihindari. Pertumbuhan kota di kedua wilayah tersebut, merupakan pendorong anak-anak untuk mencari nafkah dengan mengemis, mengamen, atau “memalak” di jalanan. Di samping itu, areal wisata relijius sebagai salah satu sektor andalan kepariwisataan di Cirebon, seperti Makam Sunan Gunung Jati dan Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi lokasi anak jalanan mengais rejeki dengan cara meminta sedekah kepada para pengunjung.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ditelusuri, perbedaan lokasi anak jalanan menunjukkan adanya perbedaan dalam pola anak mengais rejeki. Anak jalanan di perkotaan Cirebon, mendapatkan uang dengan cara mengamen atau ojek payung, dan parkiran. Sedangkan di lokasi wisata, anak-anak mencari uang dengan cara mengemis, meminta dan mengejar para peziarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan ini tidak terlepas dari kondisi dan situasi yang mendorong anak untuk turun mencari rejeki. Lingkungan mereka secara dominan memberikan pembelajaran tentang cara anak-anak mendapatkan uang. Di tempat ziarah, mengemis, meminta sumbangan merupakan hal yang lumrah, sehingga anak-anak meniru tindakan tersebut. Sedangkan, di kota Cirebon jarang ditemukan anak-anak jalanan mencari uang dengan cara seperti itu. Mereka lebih suka mengamen atau mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang.</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari adanya perbedaan perilaku dalam mendapatkan uang, riset terhadap anak jalanan menggambarkan bahwa, persepsi tentang mereka berkaitan dengan stigma kekerasan, kriminalitas dan gangguan sosial. Anak jalanan, di samping menimbulkan masalah sosial, seperti keamanan, ketertiban lalulintas, dan kenyamanan, juga memunculkan tindakan kriminal terhadap anak jalanan itu sendiri. Mereka menjadi komunitas yang rentan terhadap kekerasan dan pelecehan orang dewasa, penggarukan petugas ketertiban kota, berkembangnya penyakit,  dan konsumsi minuman keras serta zat adiktif atau narkoba.</p>
<p style="text-align:justify;">Anak jalanan didefinisikan sebagai individu yang memiliki batas usia sampai 18 tahun, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, baik untuk bermain maupun untuk mencari nafkah.  Realitas pengalaman yang dihadapi tersebut, akan membangun skema kognitif yang unik dari anak jalanan tentang lingkungan dengan perilakunya. Realitas yang dimaksud adalah bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dari lingkungan dan bagaimana peran yang harus dipilih <em>(role taking)</em> ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna konstribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus disetorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, misalnya membayar uang sekolah dengan biaya yang didapatkan dari hasil keringat mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam keadaan seperti itu, tidak berlebihan jika anak jalanan selalu berada dalam situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial bahkan nyawa mereka.  Melalui sitmulasi tindakan kekerasan terus menerus, terbentuk sebuah  nilai-nilai baru dalam perilaku yang cenderung mengedepankan kekerasan sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Ketika memasuki usia dewasa, kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan dan eksplotasi terhadap anak-anak jalanan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu anak jalanan dengan keunikan kerangka budayanya, memiliki tindak komunikasi yang berbeda dengan anak yang normal. Komunikasi intrabudaya anak jalanan dapat menjelaskan tentang proses, pola, perilaku, gaya, dan bahasa yang digunakan oleh mereka. Aspek-aspek tersebut tampak manakala berkomunikasi dengan sesaman, keluarga, petugas keamanan dan ketertiban, pengurus rumah singgah, dan lembaga pemerintah. Anak jalanan yang  sudah terbiasa dalam lingkungan rumah singgah dan anak jalanan yang ”liar”, memiliki perilaku dan gaya komunikasi yang berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.</strong><strong> Disain Studi Fenomenologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Kualitatif dengan tradisi Fenomenologi. Subyek penelitian adalah anak jalanan pengamen di Kota Cirebon dan anak jalanan pengemis di Lingkungan Wisata Makam Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi partisipatif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.</strong><strong> Hasil Penelitian: Peran Diri Anak Jalanan dan Perilaku Komunikasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anak jalanan memaknai peran diri dalam keluarga dan masyarakat, sebagai inidividu yang mandiri (tanggung jawab pada diri dan keluarga), otonom (berusaha melepasakan ketergantungan),  dan individu yang berusaha memiliki relasi sosial dalam konteks di jalanan. Konstruksi makna peran diri itu sendiri dibangun secara kreatif dan dinamis di dalam  interaksi sosial anak dengan orang-orang dalam lingkungan jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada anak pengemis, mereka telah memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang memenuhi kebutuhan sendiri dan mengurangi beban orang tua, diri yang belajar memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang disuruh dan didukung mengemis. Sedangkan anak pengamen memiliki pemaknaan peran diri sebagai; diri yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar, diri yang melepaskan ketergantungan pada orang tua, diri yang memenuhi kebutuhan sekolah dan diri yang mencari hubungan sosial di jalanan</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, hasil interaksi sosial anak-anak dengan orang-orang dalam lingkungannya membentuk  konstruksi makna secara subyektif dan obyektif tentang orang dewasa, aturan dan prinsip-prinsip yang berkembang dalam konteks jalanan. Anak-anak pengemis menganggap orang dewasa di luar sebagai pengatur karena memiliki otoritas,  dicurigai karena memiliki kepentingan, setara (sesama pengemis) sehingga mengedepankan persaingan, di samping pula berkembang anggapan sukarela (kepada peziarah) dan berusaha respek terhadap senior. Anak-anak pengemis juga menganggap bahwa aturan mengemis adalah sesuatu yang harus ada dan tidak perlu dipertanyakan <em>(reserve)</em> walaupun sebagai subordinat mereka mencurigai bahwa aturan yang dibuat dipenuhi muatan kepentingan orang dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemaknaan anak pengamen berbeda dengan anak pengemis. Anak pengamen memaknai orang dewasa sebagai tipikal dominan negatif, agresif dan menyerang, senantiasa menggunakan paksaan dan kekerasan dan perlu dilawan jika posisi menguntungkan (konflik). Dilain pihak juga telah berkembang pemaknaan dengan pola-pola spesifik; dominan positif dan skeptis terhadap lawan jenis, solidaritas sesama pengamen dan menghargai wibawa pengamen senior.</p>
<p style="text-align:justify;">Aturan, menurut anak pengamen adalah sebuah konsensus yang berusaha dipatuhi. Penghasilan dianggap memiliki nilai publik (berbagi) dan terbuka, mementingkan kelompok,  menghormati senioritas, dan menghargai atau toleran terhadap zona proksemik jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu, mereka memilikia prinsip; menghindari perbuatan jahat, rasionalisasi terhadap kebiasaan konsumsi minuman keras/obat  dan merokok dimaknai sebagai media interaksi sosial dengan motif ekonomi dan sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku komunikasi interpersonal pada anak jalanan berlangsung secara dominan dengan orang-orang disekitar jalanan. Perilaku komunikasi interpersonal sendiri berlangsung dalam situasi; memaksa, otoritatif, konflik, mengganggu<em> (teasing)</em>, membiarkan (bebas),  sukarela, dan rayuan. Komunikasi interpersonal melalui pesan verbal dan nonverbal, secara spesifik disesuaikan dengan kepentingan dalam menjalankan aktivitas di jalanan. Pesan verbal mayoritas  berupa istilah/kata; yang berhubungan dengan kekerasan/konflik, panggilan khas (sebutan) kepada orang atau konteks jalanan, aktivitas jalanan dan pekerjaan. Pesan nonverbal yang disampaikan berbentuk: <em>gestural,</em> intonasi suara, mimik muka <em>(facial)</em>, artifaktual, isyarat bunyi, pakaian <em>(fashion)</em>, panataan pakaian/asesoris <em>(grooming)</em> dan penampilan <em>(manner)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Diangkat dari Disertasi Program Ilmu Komunikasi, 2009</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=215&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/studi-fenomenologi-peran-diri-dan-perilaku-komunikasi-anak-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Pendek dari &#8220;Krucil&#8221;</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/surat-pendek-dari-krucil/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/surat-pendek-dari-krucil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 06:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Krucil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Salute buat Soegeng Sarjadi (eh salah, itumah ketua SSS ya Soegeng Sarjadi Syndicate) Soegeng Sarif, karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya (sama dunkz kaya saya… ) dan selamat, karena sudah bisa menyelesaikan sekolahnya. “Cepat langkah waktu pagi menunggu, si budi sibuk siapkan buku. Tugas dari sekolah selesai setengah, sanggupkah si budi diam di dua sisi…” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=213&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salute buat Soegeng Sarjadi (eh salah, itumah ketua SSS ya Soegeng Sarjadi Syndicate) Soegeng Sarif, karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya (sama dunkz kaya saya… <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ) dan selamat, karena sudah bisa menyelesaikan sekolahnya.  “Cepat langkah waktu pagi menunggu, si budi sibuk siapkan buku. Tugas dari sekolah selesai setengah, sanggupkah si budi diam di dua sisi…” By: Iwan Fals Cerita sugeng hampir sama dengan lirik lagu Iwan Fals.  Tapi saya kurang setuju ketika dia menghindari gurunya. Padahal itu momen yang sangat bagus untuk membuktikan, bahwa dia adalah anak yang mandiri, yang benar-benar menjalankan apa yang dia pelajari dari pelajaran PPKN.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk Yuda, sebenarnya saya sepakat dengan keinginanya mencari teman. Tapi tahukan dia? Bahwa dengan caranya, dia sudah mengikis sedikit rezeki anak jalanan yang notabenya tidak mempunyai uang kecuali turun kejalan. Padahal dia bisa melakukan hal yang bersifat social, tapi tidak mengurangi keinginannya mencari teman di jalanan, bahkan membantu teman-temannya.  Pengalaman saya bersama KRUCIL, kami mempunyai teman yang notabenya bukan “orang susah”. Dia hanya ingin tahu saja kehidupan dijalan dengan ikut ngamen bareng KRUCIL. Dan ada satu perbedaan antara dia dengan KRUCIL yang bisa dibilang Anak Jalanan “Murni”. Teman KRUCIL ini mencari uang bukan buat makan, tetapi untuk memenuhi keinginannya membeli barang yang disuka, entah itu narkoba, ataupun barang2 lainnya. Alasannya sama seperti Yudi, bila Ia minta sama orang tuanya, dia tidak akan dikasih. Karena orang tuanya mengetahui, bahwa Ia akan menggunakan uang itu bukan untuk hal2 yang menguntungkan, tapi cuma kenikmatan sesaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Buat bang Atwar, thanks dah ngasih ilmu baru. Saya jadi lebih tau akan kehidupan anak jalanan di luar lingkungan jalanan saya. Semoga ilmu ini bermanfaat buat saya dan orang lain, serta pesan-pesannya bisa menyadarkan orang yang selalu memandang sebelah mata kehidupan di jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam &#8220;keras&#8221; dari KRUCIL&#8230; barnas_krucil@yahoo.co.id KRUCIL</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=213&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/26/surat-pendek-dari-krucil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tindakan Sosial dan Pemaknaan Kata-kata: Belajar dari Kasus Bu Prita dan Ponari</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/12/tindakan-sosial-dan-pemaknaan-kata-kata-belajar-kasus-bu-prita-dan-ponari/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/12/tindakan-sosial-dan-pemaknaan-kata-kata-belajar-kasus-bu-prita-dan-ponari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 05:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Sosial dan Pemberdayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberdayaan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Bu Prita]]></category>
		<category><![CDATA[Coordinated Management of Meaning  Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Joseph de Vito]]></category>
		<category><![CDATA[Pembentukan Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Ponari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Setiap  individu selalu memberi makna terhadap aspek-aspek yang dia temui di sekitarnya. Mulai dari benda-benda yang secara kasat mata dapat disentuh atau dipegang sampai pada sesuatu yang sifatnya imanen atau transenden. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, rumah, kendaraan, sampai pada relasi sosial seperti rasa cinta, kasih sayang, sampai kebencian dan permusuhan di antara individu atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=204&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Setiap  individu selalu memberi makna terhadap aspek-aspek yang dia temui di sekitarnya. Mulai dari benda-benda yang secara kasat mata dapat disentuh atau dipegang sampai pada sesuatu yang sifatnya imanen atau transenden. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, rumah, kendaraan, sampai pada relasi sosial seperti rasa cinta, kasih sayang, sampai kebencian dan permusuhan di antara individu atau masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanapun individu secara kreatif melalui proses berfikir; mengurangi, menambahkan, dan menghasilkan makna melalui proses perseptual terhadap objek makna yang dihadapinya. Dalam memahami makna menurut Joseph DeVito (1998: 141), <em>“Look for meaning in people, not in words. Meaning change but words are relatively static, and share meanings, not only words, through communication.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Karena hakekatnya pembentukan makna ada pada individu, maka maka semua tindakan sosial yang dilakukan individu memunculkan pembentukan makna dan pembentukan makna dikonstruksi oleh setiap individu. Mungkin pembentukan itu sama, berhimpitan, bahkan bertolak belakang. Sebagian besar sangat ditentukan oleh kapasitas dan kepentingan masing-masing pihak dalam membentuk makna itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya manakala sebuah makna itu dimiliki dan digunakan untuk mengendalikan orang lain bahkan diakumulasikan untuk menananamkan makna terhadap orang lain, seorang individu harus berhati-hati dengan konstruksi pemaknaan yang dimilikinya.Tengok kasus Bu Prita. Akibat pemaknaan terhadap statemen atau kata-kata yang tersebar melalui internet, sebuah lembaga rumah sakit  sebagai lembaga pelayanan publik memaknai sebagai penghinaan, negativitas citra, dan penyerangan. Padahal belum terbukti pula bahwa e-mail yang disebar di kalangan pertemanan itu secara signifikan menimbulkan pengaruh tersebut. Namun akibat konstruksi pemaknaan lembaga rumah sakit itu diterima dan dapat dijadikan delik aduan hukum, maka seorang ibu menginap dalam rumah tahanan selama dua puluh hari. Bahkan andai pidananya terbukti, kemungkinan hukumannya bisa lebih dari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kontras sekali dengan pemaknaan yang dilakukan masyarakat miskin, rendah akses lembaga kesehatan, dan sudah tidak mampu lagi berfikir rasional untuk menyembuhkan penyakitnya, seorang Dukun Cilik Ponari dianggap atau dimaknai sebagi individu yang mampu menolong, menyembuhkan, dan menjawab permasalahan mereka. Andaipun mereka tidak mendapatkannya, penyakit tetap, dan tidak dilayani secara baik, mereka tidak marah, komplain, atau mengajukan ketidakpuasan pelayanan pada konsumen. Padahal yakin bahwa hanya berapa peresen dari mereka yang “merasa” sembuh setelah berdukun pada Ponari. Sebagian besar tidak ada perubahan yang berarti.</p>
<p style="text-align:justify;">Hakekatnya semua diterima apa adanya. Kontrak sosial di antara kedua belah pihak tidak harus diselesaikan oleh hukum formal, cukup rasionalisasi interpersonal bahwa berobat kepada Ponari hanya sekedar usaha, barangkali bisa sembuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengapa Pemaknaan Berbeda?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembentukan makna adalah berfikir, dan setiap individu memiliki kemampuan berfikir sesuai dengan kemampuan serta kapasitas kognitif atau muatan informasi yang dimilikinya. Oleh karena itu, makna tidak akan sama atas setiap individu walaupun objek yang dihadapinya adalah sama. Pemaknaan terjadi karena cara dan proses berfikir adalah unik pada setiap individu yang akan menghasilkan keragaman dalam pembentukan makna.</p>
<p style="text-align:justify;">Keunikan berfikir sebagai proses pembentukan makna dalam diri individu ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri individu tersebut, seperti sistem nilai, kepercayaan, dan sikap. Menurut Kaye, keunikan tersebut terlihat nyata ketika individu membangun komunikasi dengan orang lain. Kaye (1994 :34-40) berpendapat bahwa;</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>In a very real sense, communication is about thinking. More precisely, it is concerned with the construction of meaning. Generally, people act toward others on the basis of how they construe others’ dispositions and behaviour. These constructions (meaning) are, in turn, influenced by individual value system, beliefs and attitudes</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulyana (2001: 256) mengutip pendapat R. Brown, menjelaskan bahwa makna sebagai sebuah kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Selanjutnya Mulyana (2001: 256) menyatakan bahwa, makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran  orang. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara suatu objek dan simbol yang digunakan untuk mempresentasikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Teori lain yang menjelaskan perbedaan pembentukan makna dalam perilaku komunikasi interpersonal yaitu <em>Coordinated Management of Meaning  Theory.</em> Teori ini dikembangkan  Pearce dan Cronen pada tahun 1980 (dalam West dan Turner 2007: h. 110-113) dengan asumsi bahwa:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Human beings live in communication</em></li>
<li><em>Human beings co-create a social reality</em></li>
<li><em>Information transactions depend on personal and interpersonal meaning.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Teori ini, makna bersifat personal dan interpersional. Makna personal yaitu makna yang telah diperoleh ketika seseorang membawa pengalaman yang unik ke dalam interaksi. Sementara makna interpersonal adalah hasil interaksi manakala dua orang setuju terhadap interpretasi masing-masing pada sebuah interaksi itu. Makna personal dan interpersonal diperoleh dalam sebuah percakapan dan seringkali makna itu tanpa didasarkan pada banyak pemikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika melihat pada asumsi-asumsi teori-teori tersebut, maka individu dalam rangka membangun harmonisasi atau juga memecahkan konflik yang dihadapinya, maka berhati-hati dengan makna personal yang akan diberikan kepada orang lain. Di lain pihak juga lebih banyak belajar membangun makna interpersonal yang ditanamkan dan hasil kesepakatan secara sosial. Andaikan Pihak Rumah Sakit yang mengadukan Bu Prita berhati-hati dalam menanggapi e-mail Bu Prita dan Bu Prita juga menyebarkan kegundahannya dengan cara yang berbeda, konflik ini tidak akan berkepanjangan. Andaikan pula dalam cerita Dukun Ponari, masyarakat lebih banyak mendengar dan meminta pendapat tentang keampuha sebuah “batu”, kemungkinan makna interpersonalnya akan berbeda. Mereka tidak akan terjebak pada sebuah mitos dan kepercayaan yang merepotkan banyak orang. <em>Wallahu’alam.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=204&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/12/tindakan-sosial-dan-pemaknaan-kata-kata-belajar-kasus-bu-prita-dan-ponari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Bu Prita: Ketidaktahuan pada Hukum Komunikasi Elektronik</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/06/hukum-komunikasi-elektronik/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/06/hukum-komunikasi-elektronik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 08:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media dan Pemberdayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bu Prita]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Komunikasi Elektronik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Kebebasan berbicara atau menyampaikan pendapat adalah hak dasar manusia. Termasuk dalam media. “Medium is the message”. Media merupakan perpanjangan lidah dan mata manusia untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan pendapat agar dapat disebarkan dan diketahui orang lain. Bahkan bicara adalah eksistensi dari manusia, karena anda manusia maka anda bicara. Dengan bicara anda menjadi ada. Sebagai manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=197&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kebebasan berbicara atau menyampaikan pendapat adalah hak dasar manusia. Termasuk dalam media. <em>“Medium is the message”.</em> Media merupakan perpanjangan lidah dan mata manusia untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan pendapat agar dapat disebarkan dan diketahui orang lain. Bahkan bicara adalah eksistensi dari manusia, karena anda manusia maka anda bicara. Dengan bicara anda menjadi ada. Sebagai manusia kita tidak bisa tidak berkomunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun karena komunikasi itu bersifat sosial, maka melibatkan orang lain. Dus juga akibat pengaruh yang ditimbulkan. Sedih, marah, gembira, atau biasa-biasa saja adalah akibat komunikasi yang harus dimiliki kedua belah pihak. Komunikasi itu transaksional dan interaktif. Siapa di antara kita berkomunikasi, maka harus terlibat dalam akibat komunikasi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini kita semua sedang terfokus pada kasu Bu Prita. Ibu dua anak itu terancam kurungan enam tahun akibat tindak komunikasi sehubungan dengan penyebaran keluh kesahnya atas perlakuan dari lembaga pelayanan kesehatan. Bersama dengan teman-temanya, ibu dua anak itu berbagi pengalaman atas tindakan yang menurut pikirannya tidak <em>fair</em>. Sebagai manusia modern, tentu pembicaraan tidak dilakukan lewat obrolan atau rumpian sebagaimana biasanya label ibu-ibu. Lewat surat elektronik mereka berbagi informasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Rana Hukum Komunikasi Elektronik dan Ketidaktahuan Masyarakat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus Bu Prita, masalah komunikasi menimbulkan dampak hukum yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh yang bersangkutan. Dimulai dari macetnya komunikasi dengan pihak rumah sakit, kemudian menyebarkan ketidakpusannya melalui <em>e-mail</em>, serta dampak e-mail yang menyebabkan beliau didakwa oleh pasal pidana dan perdata adalah akibat komunikasi. Dampak komunikasi yang terjadi menimbulkan efek domino yang luar biasa. Kalau tidak luar biasa mana mungkin para calon presiden mau angkat bicara. Walaupun harus diiingat ada kepentingan politis dan bahkan dipolitisir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks komunikasi, dikenal komunikasi massa, kelompok, organisasi dan interpersonal. Selama ini konteks komunikasi yang menjadi <em>critical point</em> ranah hukum adalah komunikasi massa sehingga muncul kajian ranah hukum komunikasi massa, Undang-undang  Pers dan Undang-undang Pornografi. Semuanya memiliki kekentalan wilayah kajian komunikasi massa. Selama ini, konteks komunikasi interpersonal atau komunikasi pribadi lewat media belum menjadi daya tarik para ahli komunikasi juga hukum sebagai ranah kajian bersama.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>E-mail</em> hakekatnya media perorangan bahkan kelompok untuk membicarakan atau menyampaikan pesan tertentu. Klasifikasi kontekstual <em>e-mail</em> adalah komunikasi interpersonal, kelompok, dan organisasi. Di samping itu sebagian besar orang menggunakan <em>e-mail</em> atau milis adalah untuk menyebarkan pesan yang sifatnya pribadi, mulai dari gosip, rumor, silaturahmi, sampai curhat yang bisa dibaca oleh kawan. Secara tidak disadari, karena <em>e-mail</em> itu terdokumentasikan dan tersimpan, maka akibatnya mudah dijadikan dasar sebagai bukti pelanggaran hukum manakala menyinggung perasaan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Di lain pihak, peraturan (perundang-undangan) menyangkut teknologi informasi telah ditetapkan dan berlaku efektif pada 2010. Hal ini patut disyukuri bahwa Indonesia termasuk yang tanggap terhadap peraturan yang menyangkut kejahatan komunikasi elektronik. Hal ini akan menjadi pijakan yang kuat ungtuk menyelesaikan perkara hukum yang sebelumnya tidak  memiliki instrumen tentang aturan komunikasi elektronik.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun masalahnya masyarakat tidak mengetahui isi dan ancaman hukum di dalamnya. Pasal demi pasal yang menjelaskan tentang jenis dan pelanggaran yang dapat menimbulkan masalah hukum, asing  bagi mereka. Masyarakat menganggap komunikasi melalui <em>e-mail</em>, seperti obrolan keluh kesah lewat tatap muka dengan tetangga. Tidak terlalu banyak orang mendengar atau melihat. Persepsi kita, komunikasi lewat <em>e-mail</em> tidak ubahnya obrolan, gunjingan, bisikan atau curhat dimana tidak banyak orang memperdulikannya. Ketika obrolan selesai maka selesai juga event komunikasi dan pengaruhnya. Seperti kasus Bu Prita, yang bersangkutan tidak pernah menyangka bahwa apa yang disampaikan pada rekan terdekatnya bisa dibaca orang lain dan berubah menjadi release tentang buruknya citra pelayanan sebuah lembaga. Hal itu terjadi di luar perkiraan yang bersangkutan, seperti halnya sebagian besar masyarakat. Terlepas dari caci maki kita atas inferiornya pasien dan superiornya lembaga pelayanan kesehatan dengan orang-orangnya (dokter), kita tidak pernah tahu bahwa caci maki kita jika dilempar kepada media terdokumentasikan, maka bisa menimbulkan aduan hukum. Orang yang tersinggung akan lebih mudah membuktikan tindakan yang menyebabkan munculnya aduan hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini tentu menjadi tugas penegak hukum dan pemerintah untuk lebih mensosialisasikan setiap produk aturan agar diketahui oleh masyarakat. Padahal dilain pihak seringkali muncul kasus di mana peraturan di buat hanya sekedar peraturan. Bahkan tidak terlepas dari kepentingan mendapatkan reward dari pembuatan produk itu sendiri bagi si pembuat aturan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=197&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/06/06/hukum-komunikasi-elektronik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengolah Data dalam Penelitian Kualitatif</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/04/18/mengolah-data-dalam-penelitian-kualitatif/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/04/18/mengolah-data-dalam-penelitian-kualitatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 04:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Sosial dan Pemberdayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/2009/04/18/mengolah-data-dalam-penelitian-kualitatif/</guid>
		<description><![CDATA[Data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Teks, picture, simbol, penangkapan observer adalah sekumpulan data yang harus diolah. Bahkan menurut saya mengolah bukan tindakan atau perilaku baku sebagaimana halnya langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian kuantitatif. Hakekatnya dalam penelitian kualitatif, mengolah data adalah memberi kategori, mensistematisir, dan bahkan memproduksi makna oleh si &#8220;peneliti&#8221; atas apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=185&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Teks, picture, simbol, penangkapan observer adalah sekumpulan data yang harus diolah. Bahkan menurut saya mengolah bukan tindakan atau perilaku baku sebagaimana halnya langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian kuantitatif. Hakekatnya dalam penelitian kualitatif, mengolah data adalah memberi kategori, mensistematisir, dan bahkan memproduksi makna oleh si &#8220;peneliti&#8221; atas apa yang menjadi pusat perhatiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mile dan Huberman seperti yang dikutip oleh Salim (2006: 20-24), menyebutkan ada tiga langkah pengolahan data kualitatif, yakni reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verification). Dalam pelaksanaannya reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, merupakan sebuah langkah yang sangat luwes, dalam arti tidak terikat oleh batasan kronologis. Secara keseluruhan langkah-langkah tersebut saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data, sehingga model dari Miles dan Huberman disebut juga sebagai Model Interaktif.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pada penjelasan yang telah dikembangkan oleh Agus Salim (2006: 22-23), dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:<br />
1.	Reduksi data (data reduction), dalam tahap ini peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang diperoleh.<br />
2.	Penyajian data (data display). Peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.<br />
3.	Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing and verification). Peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperolehnya dari lapangan, mencatat keteraturan dan konfigurasi yang mungkin ada, alur kausalitas dari fenomena, dan proposisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah penelitian, analisis data dilakukan atas statemen (statement) atau pernyataan yang dikemukakan oleh para informan. Hal ini dilakukan dengan cara, peneliti membaca seluruh transkrip wawancara yang ada dan mendeskripsikan seluruh pengalaman yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan upaya pada tahap yang dikemukakan tersebut akan diketahui makna baik makna konotatif-denotatif atau makna implisit dan eksplisit dari pernyataan atas topik atau objek.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya uraian makna itu sendiri akan memperlihatkan tema-tema makna (<em>meaning themes</em>) yang menunjukkan kecenderungan arah jawaban atau pengertian yang dimaksudkan oleh para  informan. Serta aspek penting lain yang dianalisis dalam fenomenologis adalah penjelasan holistik dan umum tentang sebuah pembicaraan dengan subjek penelitian. Dari penjelasan umum tersebut harus ditarik keterkaitan antar makna yang dikembangkan pada setiap topik yang dibicarakan selama proses wawancara berlangsung <em>(general description of the experience)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Keabsahan data penelitian dapat dilihat dari kemampuan menilai data dari aspek validitas dan reliabilitas data penelitian. Untuk menguji validitas penelitian dapat dilakukan dengan metode triangulasi di mana peneliti menemukan kesepahaman dengan subjek penelitian. Sedangkan reliabilitas dapat dilakukan dengan melakukan atau menerapkan prosedur fieldnote atau catatan lapangan dengan prosedur yang akan ditetapkan (Kirk dan Miller, 1986: 41-42).</p>
<p style="text-align:justify;">Agar mendapatkan gambaran yang memuaskan dari sebuah hasil wawancara, karena penelitian ini menerapkan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang pokok, menurut Tesch (Creswell, 2002: 144-145), dapat ditempuh tahap-tahap sebagai berikut jika peneliti telah menyiapkan teks atau transkrip wawancara secara lengkap.<br />
1.	Pahami catatan secara keseluruhan. Peneliti akan membaca semua catatan dengan seksama dan mungkin juga akan menuliskan sejumlah ide yang muncul.<br />
2.	Selanjutnya, peneliti akan memilih satu dokumen wawancara yang paling menarik, yang singkat yang ada pada tumpukan paling atas.<br />
3.	Menyusun daftar seluruh topik untuk beberapa informan.<br />
4.	Tahap berikutnya, peneliti akan menyingkat topik-topik tersbeut ke dalam kode-kode dan menuliskan kode-kode tersebut pada bagian naskah yang sesuai.<br />
5.	Selanjutnya peneliti akan mencari kata yang paling deskriptif untuk topik dan mengubah topik-topik tersebut ke dalam kategori-kategori.<br />
6.	Membuat keputusan akhir tentang singkatan setiap kategori dan mengurutkan kategori-kategori tersbeut menurut abjad.<br />
7.	Mengumpulkan setiap materi yang ada dalam satu tempat dan memulai melakukan analisis awal.<br />
8.	Seandainya diperlukan, akan disusun kode-kode terhadap data yang sudah ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian, kira-kira hal-hal pokok yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam pengolahan data untuk sebuah proses penelitian kualitatif.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=185&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/04/18/mengolah-data-dalam-penelitian-kualitatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Ponari: Antara Anugrah dan Hak Anak</title>
		<link>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/02/17/kasus-ponari-antara-anugrah-dan-hak-anak/</link>
		<comments>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/02/17/kasus-ponari-antara-anugrah-dan-hak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 05:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atwarbajari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atwarbajari.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 10 Februari 2009 &#124; 10:16 WIB Inilah fakta di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir kini menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=182&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Selasa, 10 Februari 2009 | 10:16 WIB Inilah fakta di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir kini menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Potongan berita itu dikutif dari Kompas <em>on-line</em> tentang praktek pedukunan seorang anak yang bernama Ponari. Fakta tentang keajaiban batu yang didapatkan sehabis disambar petir memang menjadi titik dari daya tarik orang-orang untuk meminta berkah kepada anak itu. Bagaimanapun secara kultural, penyembuhan melalui batu,  sebagai perantara atau media penyembuhan sudah dikenal sajak lama di Indonesia, termasuk di manapun. Tanpa peristiwa atau melalui  peristiwa, membesar-besarkan nilai kekeramatan batu selalu menjadi daya pikat orang untuk mempercayai batu sebagai media.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Ponari dan keluarganya mendapatkan batu berkah yang mampu menyembuhkan penyakit, tentu membawa perubahan. Dari yang tadinya tidak dipercaya orang menjadi diyakini, dari yang tadinya terpinggirkan menjadi tempat bergantung, dan konsekuensi lain, dari yang tadinya susah mencari uang sekarang uang datang sendiri. Tinggal seberapa mau dan tahan melayani kemauan ratusan bahkan ribuan orang antri menunggu tangan Ponari mencelupkan jarinya agar mendapatkan berkah.  Sebuah peluang yang sulit didapatkan oleh kebanyakan orang. Tidak jauh berbeda tentunya dengan seorang anak yang mampu menangkap binatang yang berbeda dari kelajiman atau langka kemudian mendapatkan uang sawer dari yang melihat, tentu sebuah kewajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun masalahnya sekarang, terlepas dari praktek pedukunan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya, peristiwa ini menyangkut seorang anak dan batu yang menjadi media penyembuh dan pemberi berkah. Bisakah kita mengatakan identik fenomenanya dengan memajang seekor ular kemudian orang memberi sawer, memajang sepotong kayu dan memberikan uang receh, atau berdoa di depan batu pada malam Jum&#8217;at Kliwon kemudian penjaga memungut uang recehan. Argumen macam apapun tidak bisa diterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Melibatkan anak untuk mendapatkan atau mengais rejeki adalah intervensi. Menyuruh anak mencari dan mengemis adalah melanggar haknya. Serta membiarkan mereka lelah dan sakit untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa tentu tidak bisa dikatakan cara yang benar. Seluruhnya adalah eksploitasi atas hak-hak anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kita harus berpikir bahwa sebenarnya kasus seperti ini adalah lazim. Mari kita pikirkan, mungkinkah sebenarnya kita juga mempraktekan hal yang sama dengan bungkus yang lain. Memaksa anak untuk memenuhi keinginan orang tua, jika anak memiliki kemampuan, biasa dalam kultur kita. Dalam kultur masyarakat paguyuban-agraris dan hegemonik, kuasa anak ada pada orang dewasa yang namanya orang tua. Orang tua maknanya bisa diperluas, paman, bibi, dan keluarga dekat lainya yang lebih dewasa biasa kita sebut orang tua. Mereka memiliki otoritas pada anak. Anak harus membantu dan menjadi bagian dari tenaga produksi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.</p>
<p style="text-align:justify;">Hakekatnya, itu dilakukan secara turun temurun. Namun sejauh itu dilakukan dalam kapasitas belajar, bermain, dan mendorong anak menentukan jalan hidupnya adalah sesuatu yang positif. Menyuruh anak dengan sedikit otoritatif untuk mengikuti perlombaan atau bekerja keras dalam belajar adalah pembelajaran. Menyertakan anak dalam proses seleksi dan audisi sebuah kontes idol, mungkin bagian dari arahan orang tua untuk membantu anak menyalurkan minatnya. Namun manakala menyuruh anak menandatangani kontrak kerja untuk sebuah produksi dan anak merasa tidak mampu itu harus dianggapa sebuah eksploitasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembatasan itu harus jelas manakala melihat hak anak dan perilaku eksploitatif orang tua. Memang orang tua di satu sisi memiliki otoritas, tetapi pada sisi yang lain potensi dan kemampuan anak harus menjadi pertimbangan. Mereka harus ditanya, mereka harus ditimbang kemampuannya, dan mereka kalau bisa terlibat dalam pengambilan keputusan. Memang rumit, tapi itulah yang harus ditempuh jika kita memang menginginkan kemaslahatan bagi anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus Ponari, semuanya harus berusaha untuk berpikir jernih. Tanya pada diri masing-masing, apakah kita sudah sewajarnya memperlakukan Ponari seperti itu? Menentengnya, menariknya ke sana-ke mari, dan  mungkin membiarkan dia kelelahan, tidakah itu eksploitatif? Betulkah uang yang dia kumpulkan akan menjadi bagian dari perjalanan tumbuh-kembangnya di masa yang akan datang? Tidakah juga kita tahu bahwa orang tuanya tidak setuju dan terjadi konflik kepentingan di antara orang dewasa di sekitarnya. Artinya ada muatan kepentingan orang dewasa untuk mengeksploitasi Ponari.  Jika demikian, masihkah kita akan mengatakan itu bagian dari berkah buat Ponari. Tidakah itu bukti dari &#8220;keserakahan&#8221; orang-orang dewasa disekitarnya untuk menarik keuntungan dari anak yang namanya Ponari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atwarbajari.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atwarbajari.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atwarbajari.wordpress.com&amp;blog=3506015&amp;post=182&amp;subd=atwarbajari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atwarbajari.wordpress.com/2009/02/17/kasus-ponari-antara-anugrah-dan-hak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/662ce2e1316037d4b6ae89d6851b9bff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atwarbajari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
