Fenomenologi sebagai Tradisi Penelitian Kualitatif

14 12 2008

“People actively interpret their experience and come to unnderstand the world by personal experience with it……the process of knowing through direct ecperience is the province of phenomenology.” (Littlejohn and Foss, 2005)

Di Mulai dari Sebuah Kesadaran Intersubyektif

Hakekatnya prinsip fenomenologi berkenaan dengan pemahaman tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif (dunia kehidupan) atau juga disebut Lebenswelt terbentuk. Fenomenologi bertujuan mengetahui bagaimana kita menginterpretasikan tindakan sosial kita dan orang lain sebagai sebuah yang bermakna (dimaknai) dan untuk merekonstruksi kembali turunan makna (makna yang digunakan saat berikutnya) dari tindakan yang bermakna pada komunikasi intersubjektif individu dalam dunia kehidupan sosial. (Rini Sudarmanti, 2005)

Dalam fenomenologi, setiap individu secara sadar mengalami sesuatu yang ada. Sesuatu yang ada yang pada kemudian menjadi pengalaman yang senantiasa akan dikonstruksi menjadi bahan untuk sebuah tindakan yang beramakna dalam kehidupan sosialnya.

Manakala berbicara sesuatu yang dikonstruksi, tidak terlepas dari interpretasi pengalaman di dalam waktu sebelumnya. Interpretasi itu sendiri berjalan dengan ketersediaa dari pengetahuan yang dimiliki. Namun demikian, sebagai mana proses interpretasi, harus diperhatikan kemampuan menangkap lebih jauh atau melihat sesuatu lebih jauh (seeing beyond) dalam fenomena yang sedang dikonstruksi itu,

Fenomenologi Sebagai Tradisi Penelitian

Jika dilanjutkan dengan fenomenologi sebagai sebuah metodologi penelitian, walaupun ada juga yang lebih senang menyebut sebagi tradisi penelitian, maka kita dapat menelusuri beberapa pengertian yang  sederhana. Metode Fenomenologi, menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52)  adalah, “a phenomenological study describes the meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon. Phenomenologist explore the structure of cosciousness in human experiences“. Sedangkan menurut Husserl (Creswell, 1998: 52).peneliti fenomenologis berusaha mencari tentang, “The essential, invariant structure (or essence) or the central underlying meaning of the experience and emphasize the intentionality of consciousness where experience contain both the outward appearance and inward consciousness based on memory, image, and meaning”.

Alasuutari (1995: 35) menyatakan bahwa, “…..phenomenology is to look at how the individual tries to interpret the world and to make sense of it”. Selanjutnya Husserl (Cuff and Payne, 1981: 122) menyatakan bahwa, “Phenomenology referred to his atempt to described the ultimate foundations of human experience by ‘seeing beyond ‘ the particulars of everyday experiences in order to describe the ‘essences’ which underpin them.” Menurut TD. Wilson dari Sheffield University London, dengan menggunakan pendekatan Schutz, secara lebih rinci menjelaskan, tujuan fenomenologi yaitu:

…is to study how human phenomena are experienced in consciousness, in cognitive and perceptual acts, as well as how they may be valued or appreciated aesthetically. Phenomenology seeks to understand how persons construct meaning and a key concept is intersubjectivity. Our experience of the world, upon which our thoughts about the world are based, is intersubjective because we experience the world with and through others.

Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku manusia yang dialami dalam kesadaran, dalam kognitif dan dalam tindakan-tindakan perseptual. Fenomenolog mencari pemahaman seseorang dalam membangun makna dan konsep kunci yang intersubyektif. Karena itu, menurut Kuswarno “…penelitian fenomenologis harus berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala…”

Logos Fenomenologi

Melakukan pemahaman terhadap fenomena melalui fenomenologi, mempertimbangkan mengetahui dua aspek penting yang biasa disebut dengan “logos”nya fenomenologi, yakni ‘intentionality’ dan ‘bracketing’. Intentionality adalah maksud memahami sesuatu, di mana setiap pengalaman individu memiliki sisi obyektif dan subyektif. Jika akan memahami, maka kedua sisi itu harus dikemukakan. Sisi obyektif fenomena (noema) artinya sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau sekalipun sesuatu yang masih akan dipikirkan (ide). Sedangkan sisi subyektif (noesis) adalah tindakan yang dimaksud (intended act) seperti merasa, mendengar, memikirkan, dan menilai ide.

Aspek kedua ‘bracketing’ atau juga disebut reduksi phenomenology, dimana seorang “pengamat” berupaya menyisihkan semua asumsi umum yang dibuat mengenai sesuatu fenomena. Seorang pengamat akan berusaha untuk menyisihkan dirinya dari prasangka, teori, filsafat, agama, bahkan ‘common sense’ sehingga dirinya mampu menerima gejala yang dihadapi sebagai mana adanya.

Studi fenomenologi dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi peneliti. Creswell (1998: 55) menjelaskan tantangan tersebut yaitu:

  • The researcher requires a solid grounding in the philosophical precepts of phenomenology.
  • The participants in the study need to be carefully chosen to be individuals who have experienced the phenomenon.
  • Bracketing personal experiences by the researcher may be difficult.
  • The researcher needs to decide how and in what way his or her personal experiences will introduced into the study.

Hakekatnya tantangan itu harus mampu duhadapi oleh seorang fenomenolog, penguasaan pada landasan filosofis dalam cara fikir fenomenologi, kemampuan memilih individu sebagai subyek yang mengalami yang akan dieksplorasi, kemampuan memelihara dan meningkatkan kemampuan logos fenomenologi, dan memilih serta memilah pengalaman bermakna yang dikonstruksi oleh subyek penelitian.

About these ads

Actions

Information

23 responses

16 12 2008
Hejis

Bagi saya fenomenologi merupakan tradisi penelitian yang lebih mendekati “realitas kehidupan” manusia, terutama ketika terjadi interaksi sosial daripada tradisi behaviorisme. Namun, saya masih banyak melihat di penelitian2 yang menggunakan tradisi fenomenologi, penelitinya sering kebablasan ketika melakukan bracketing, misalnya yang muncul justru analisis peneliti pribadi lebih menonjol akibat persepsi peneliti itu sendiri, alih-alih mengacu pada dunia persepsi para aktor yang ditelitinya. Jadinya hasil penelitian itu tidak menghadirkan fenomena sosial yang diteliti sehingga temuan-temuan penelitian campur aduk antara fenomena yang diteliti dan dunia subjektif peneliti. Saran saya (walah-walah!) para calon peneliti perlu dilatih memisahkan aktivitas intentionality dan bracketing, epic dan emic, analisis berdasarkan data yang akurat dan persepsi subjektif peneliti. Betul ndak ya Kang? He..he.. entahlah…

17 12 2008
atwar bajari

Ya begitulah Mas Hejis, apalagi jika peneliti sebagai manusia memiliki motif atau niat yang kebablasan juga dalam melihat dan melahirkan asumsi-asumsinya…he he he…peneliti juga manusia. Mudah-mudahan dengan berlatih terus, membangkitkan kepedulian dan mengasah kepekaan bisa tertasi. Hatur nuwun Mas komentarnya

22 12 2008
teddy k wirakusumah

Mas Heru bukan sekadar menawarkan saran, tapi sekaligus gagasan “Pelatihan Penelitian Tradisi Fenomenologi”. Beberapa topik (sekurangnya 3 sesi ) sudah dipilihkan “Latihan pemisahan aktivitas intentionality dan bracketing, epic dan emic, analisis berdasarkan data yang akurat dan persepsi subjektif peneliti”.
Wah.. bisa menarik nih untuk menyambut tahun baru 2009. Pasarnya saya jamin bagus: gayung bakal bersambut. Sebagai penggagas, Mas Heru dapat satu sesi ( setuju Mas?). Gimana pak Atwar? Saya dan Ira mah di belakang layar aja. Sambil menyelam minum air: Hadir gratis, ilmu dapat, tabungan nambah. ha ha ha

23 12 2008
atwarbajari

Boleh juga sih…. rasanya orang komunikasi lg doyan penelitian dengan perspektif soilogis…

29 01 2009
fitry

aku mau jadi peserta pelatihannya pak…. aku jg lagi enjoy banget mendalami fenomenologi….

30 01 2009
Atwar Bajari

ha ha ha jarang-jarang ya ada pelatihan metode penelitian…tapi boleh juga idenya. Sapa yang mau jadi inisiator

1 02 2009
Hanggar

Kalau jadi diadakan, saya dari Yogya juga tertarik untuk menjadi pesertanya lho. Bagaimana kalau UNPAD yang melaksanakan dan Kang Atwar Bajari yang menjadi penyambung lidahnya?

4 03 2009
Fajar

Saya juga setuju kalo ada pelatihan mengenai metode penelitian. supaya dalam menyusun suatu penelitian gak asal-asalan or asal jadi….

15 04 2009
vie

makasih, mg bs mdukung skripsiku. mhn dukungan dan do’anya

15 05 2009
danial

hatur nuhun pak, atas pencerahannya di atas.

kebetulan, penelitian saya kualitatif fenomenologi, kyknya saya akan banyak berbincang dan bergosip dg bpk tentang penelitian yang saya lakoni ini. mohon izinnya pak,,,, serta waktunya.

dan,
setuju ada pelatihan mengenai metode penelitian. supados abdi pribados lebih ngartos.

3 09 2009
aksaraku

tah guningan, para ilmuan sosial kapendak

27 09 2009
nicolas abraham

saya rasa interaksi kita dalam dunia sosial mau tidak mau membentuk persepsi kita terhadap sesuatu.keterpisahan individu dalam realitas sosial yang diamati (objektifitas), tidak mudah kita hindari. hal itu karena, keputusan kita untuk mengamati suatu fenomena berarti siap menceburkan diri kita dengan kesubjektifan.

21 10 2009
chairiawaty

wah… itu baru brilliant idea! sok atuh kang geura enggalan ngadamel pelatihan teh, atanapi saresehan heula weh atuh kang… abdi teh meni tertarik pisang.. eh pisan maksadna mah, margi elmu eta bakal ngadukung pisan kana penelitian nudipimaksad ku sim kuring, tah ….. sila dipidamel

14 04 2010
Novi Puspitasari

Pak Atwar..kebetulan saya sedang melakukan penelitian dengan mixed method (mungkin lagi nge trend saat ini) . bidang ilmu saya di manajemen keuangan. awalnya saya bingung, bisa tidak ilmu manajemen keuangan menggunakan metode gabungan. Yang kebanyakan dilakukan saat ini adalah metode gabungan dengan menggunakan metode kuantitatif dan kemudian kualitatif. namun, saya mencoba untuk melakukan metode kualitatif dahulu, setelah itu baru menggunakan metode kuantitatif. dan saya baca di bukunya Cresswel dan TasHAKKORI, memang ada beberapa design dalam mixed method tersebutpertanyaan saya :
1. menurut bapak, bagaimana sih metode yg bener dalam menggunakan mixed method?
2. saya menggunakan studi kasus pada suatu perusahaan. ketika saya melakukan field work (wawancara dg manajer) ada sesuatu yang menarik dan menjadi fenomena di lapangan (sudah nyata diterapkan) dan saya coba menggali informasi mengapa fenomena itu terjadi dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi. sehingga dari penjelasan informan bisa dijadikan model penelitian. dan fenomena tersebut belum pernah dibahas oleh peneliti lain. apakah cara tersebut bisa dikatakan sebagai suatu metode fenomenologi? mohon penjelasan…

terima kasih sebelumnya…

19 04 2010
atwarbajari

Terima kasih atas kunjungannya.
Mixed methode memang sering disarankan dan diperkenankan oleh para peneliti di bidang saudari. Tapi tidak untuk ilmu sosial murni karena alasan perspektif ilmu. Penggunaan metode seperti ini bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Metode kualitatif digunakan diawal untuk mengembangkan instrumen atau alat ukur penelitian secara induktif, yakni dengan menghimpun parameter dari lapangan. Hal ini disebabkan fenomena yang diukur belum ada konsep dan alat ukurnya.
2. Setelah itu gunakan metode kuantitatif untuk menguji hipotesi yang dikembangkan sesuai tujuan penelitian pada tahap kedua. Dengan demikian pada tahap kedua peneliti mengembangkan disain deduktif atas teori yang dikembangkan di awal peneliti.

Thanks semoga membuka wawasan

28 07 2011
riri

aslmkm..
kebetulan ni pak, saya mhsiswi sosiologi yang sedang membuat skripsi dengan menggunakan fenomenologi, saya
mau tanya ni,,waktu kita kelapagan kan kita sudah mendapatkan informasi tentang kesadaran dari masing-masing aktor,,terus bagaimana caranya supaya peneliti itu memahami dan mampu menggali serta menjelaskan lebih dlam lagi bagaimana kesadrn dari aktor dalam membentuk dunia sosialnya? mohon penjelasannya pak,,sebelum dan sesdhnya saya ucapkan terima kasih…

wasalam

31 07 2011
atwarbajari

Menggali dan menemukan kesadaran subyektif dari key informant, bukan hal yang mudah. Setiap isu atau obrolan yang dikembangkan sebagai obyek fenomenologi, tergantung pada keterbukaan mereka. Jika mereka terbuka, it’s ok. Tapi kalo engak, intensitas pertemuan dan wawancara tidak langsung menjadi amat penting. Tujuan akhirnya adalah menemukan kata kunci dari kesadaran mereka….ya begitulah penelitian konstruktifism. Selamat meneliti…

2 08 2011
250328

yupz,,trima kasih jawabannya pak,,sy msh bgung bagaimana kita bs menemukan kata kunci dari kesdrn mrka???bagaimana aktor tersebut membentuk kesadaran secara subjektif sehingga dapat memunculkan tindakan dari aktor tersebut yang bermakna???maaf sblmnya pak sy banyak tanya,,krna sy kurg begitu paham..

28 01 2012
fandy

maaf baru bergabung, sy tertarik dgn anlisis data fenomenologi untuk penyelesaian skripsi sya yang mengacu pada pembangunan berbasis partisipatif, sy ingin lebih dijelaskan secara mendetail dan mudah dipahami mengenai teknik ini. mohon bimbinganya dan silahkan balas melaui email sy di fandytarjo@yahoo.co.id

31 01 2012
ksaday

Informasi yang snanagt menarik dan membantu, thanks

14 02 2012
Ujang Mahadi

Bagi mereka yang belum pernah penelitian dengan pendekatan fenomenologi memang bukan hal yang mudah, kuncinya harus mau belajar, belajar dan belajar. Saya sering konsul dengan yang punya buku “fenomenologi” Prof. Engkus. Hatur nuhun telah berbagi ilmu, moga menjadi amal, amin.

22 09 2012
annisa

saya juga melakukan penelitian studi fenomenologi kegagalan asi ekslusif bagi ibu yang tidak berkerja jujur saja saya takut tpi saya ingin belajar untuk penelitian ini.semoga saja ada masukkan untuk saya

19 12 2012
wahyuni uni

saya termasuk orang yang mengalami kesulitan dalam menentukan penelitian fenomenologi,, karena ada contoh-contoh penelitian yang menggunakan ukuran teori ada juga yang tidak menggunakan teori lain.. saya jadi penasaran dengan penelitian fenomenologi.. mohon doa dan bimbingannya saya inginmencobanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: